RSS

Category Archives: Pengalaman Pribadi

Naik Kereta Api (yang Bukan Hanya) Tut-Tut-Tut

Setelah pada tahun-tahun sebelumnya lebih sering mudik memakai pesawat, berhubung tahun ini saya dan istri tidak menemukan chemistry antara dompet kami dan harga tiket pesawat, kami memutuskan untuk pergi dan pulang ke Malang naik kereta api (Malabar). Perjalanannya cukup menyenangkan dan mengembalikan nostalgia kami yang sudah lama tidak naik kereta. PT KAI sudah sangat berbenah untuk kenyamanan para penumpang misalkan penjualan tiket yang memakai banyak channel, down situs yang berkurang saat berebut tiket mudik, atau tiket berubah menjadi boarding pass yang di cetak memakai thermal printer yang membuat proses mencetak menjadi lebih cepat.

Boarding Pass Baru (butuh jaket baru)

Tapi, ada beberapa perubahan yang saya rasa kurang sreg kali ini. Beberapa hal diantaranya akan saya kupas dalam tulisan ini:

1. Makanan Siap Saji

Salah satu trademark dari perjalanan dengan kereta api adalah nasi goreng reska. Dulu saya sering dengar orang yang bilang tidak lengkap jika naik kereta tanpa memesan nasi goreng. Bahkan ada orang yang sengaja naik kereta Bandung-Jakarta hanya untuk memakan nasi gorengnya. Tapi kini semua makanan berubah menjadi makanan siap saji yang dihangatkan dengan Microwave yang biasa kita temukan di 7eleven atau Lawson. Rasanya lumayan. Tapi, tetap saja saya rindu nasi goreng reska yang dulu.

Makanannya tahan 4 bulan 😮

2. Lisensi Film yang Terbatas

Kalau di tahun-tahun sebelumnya saya bisa menonton beragam film di televisi yang dipasang di bagian depan gerbong, Kali ini film yang diputar hanya satu film dan selalu diulang-ulang. Dan sialnya film yang diputar adalah “The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn” yang sudah saya tonton di bioskop tahun 2011. Kalau dihitung-hitung, bisa jadi sampai 5 kali film tersebut diputar sepanjang perjalanan Bandung-Malang. Dan sedihnya, saat pulang pun film yang diputar sama. Jadi, kalau saya tidak tidur dan terpaksa menonton film tersebut sepanjang perjalanan pulang-pergi, saya akan menonton 10 kali film tersebut (bisa-bisa saya hafal Tintin ngomong apa aja sepanjang film :p ). Meskipun pada akhirnya hanya sekitar 4 kali yang terpaksa saya nonton karena tidak ada kerjaan. Suaranya pun hanya sayup-sayup terdengar sehingga kita harus membaca subtitle agar kita mengerti jalannya film.

Film Tintin (Abaikan Karung Beras Bulog 😛 )

3. Pengumuman di Tiap Stasiun

Dan, yang paling saya benci adalah sekarang di tiap stasiun speaker gerbong akan berbunyi dan memberi tahu kereta berhenti di stasiun apa. Dalam 15 jam perjalanan, speaker akan berbunyi tiap 10 menit sebelum sampai stasiun dan saat tiba di stasiun. Bahasanya pun dua: bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mungkin pengumuman ini penting bagi yang akan turun. Tapi, bagi saya yang akan turun di stasiun akhir yang masih jauh, pengumuman ini hanya membuat saya terbangun tiap jam. Tahun-tahun sebelumnya, kondektur akan membangungkan orang satu per satu sesuai dengan tujuan yang telah dicatat sebelumnya. Meskipun rawan ada yang terlewat, menurut saya hal ini lebih efektif daripada memberitahu ke seluruh orang tentang posisi kereta. Efeknya, karena kurang tidur, ketika sampai di tempat tujuan bisanya kita akan lelah dan harus istirahat seharian. Saya rindu hanya mendengar tut-tut-tut tanpa pengumuman sepanjang perjalanan.

#mudik2016 #mumpung-masih-dekat-idul-fitri #padahal-besok-idul-adha

 
Leave a comment

Posted by on September 11, 2016 in Bebas, Curhat, Pengalaman Pribadi, Sharing Pengalaman

 

Tags: , ,

Wartegg

Minggu lalu saya mengikuti psikotes. Seperti psikotes seperti biasanya, ada yang namanya Wartegg Test. Wartegg Test adalah tes dimana kita diminta untuk menggambar 8 buah gambar di kotak yang disediakan. Contoh gambarnya seperti di bawah ini:

20121022-215302.jpg

Udah beberapa kali saya ikut psikotes yang sama. Seperti tes-tes sebelumnya, saya menggambar pertama kali di bagian gambar yang menyediakan potongan kotak untuk menggambar SpongeBob. Kotak seterusnya biasanya gambar Gary, Doraemon, dll. Gegara hal tersebut, jadi kepikiran: akuratkah hasil psikotes gambar saya? Dulu sih ngegambar Spongebob dsb-nya gegara spontan. Tapi kalau sekarang, karena masih hafal, rasanya spontanitas itu hilang. Gambar pohon dan orang di tes setelahnya juga. Padahal dari tes-tes tersebut, seorang psikolog bisa menentukan kepribadian seseorang.

Pernah ketemu dengan psikolog di kantor setelah psikotes. Dari gambar yang saya gambar, sang psikolog bisa bilang: “Aduh.. kasian sekali kamu.. Kamu kreatif tapi terlalu berkacamata kuda… Kamu orangnya bla-bla-bla…”.
Ketika mendengar perkataan tersebut, pikiran saya tertuju pada dua hal:
1. “Gila! Kacamata dari optik Seis ini dibilang kacamata kuda. Saatnya mencoba Lily Kasoem atau Melawai”
2. “Ebuset! Kok bisa tau kepribadian orang dari gambar,ya?”
Karena beberapa hal yang dibilang psikolog itu benar adanya, saya berkesimpulan bahwa dari gambar memang bisa ditemukan kepribadian kita. Gimana caranya? Apa kalau spontanitasnya hilang hasilnya masih valid? Entahlah… Biarlah hal itu menjadi rahasia antara angin, embun, hujan, dan para psikolog layaknya rahasia antara php, Java, dan para programmer (super sekali, Pak Mario).

Ngomong-ngomong soal percakapan dengan psikolog saat itu, sekilas saya merasa seperti diramal. Untungnya sang psikolog ga bilang: “Malam nanti Pangeran Kegelapan akan datang dibantu abdi setianya. Kegelapan akan datang kembali dan kejahatan akan merajalela…”. Coba kalau sang psikolog bilang begitu, mungkin saya akan teriak: “Expelliarmus!!!”

 
1 Comment

Posted by on October 22, 2012 in Bebas, Pengalaman Pribadi

 

Tags: ,

Potong Rambut

Hal yang tidak saya suka saat potong rambut adalah ketika tukang cukurnya sering bertanya apakah sudah cukup pendek rambutnya sambil memegang cermin di belakang. Dengan harus membuka kaca mata ketika rambut dipotong, tentu saja saya saya tidak bisa melihat seberapa pendek rambut belakang saya. Sebenarnya bisa saja saya bolak-balik mengambil kaca mata dari dalam saku baju. Tetapi dengan ‘mantel’ penuh rambut yang dipakai, biasanya saya cukup malas untuk mengambil kaca mata dan bilang “cukup”. Atau, kalau lagi jadi orang yang “sok”, saya akan pura-pura melihat, sedikit menoleh ke kiri kanan, dan bilang “kurang pendek sedikit lagi” sambil menunjuk belakang rambut (opsi ini beresiko menahan malu selama 1-2 minggu).

Orang yang memakai kaca mata, akan sulit melihat cermin yang tukang cukur pegang di belakang kepalanya. Misalkan jarak antara cermin belakang ke kepala pasien adalah 30 cm. Jarak antara kepala pelanggan dengan cermin depannya adalah 1 meter. Maka pelanggan seolah-olah akan melihat rambut belakangnya sejauh 2,6 meter di depannya. Dengan rumus fisika yang saya pelajari di SMA, maka orang yang memiliki minus 1/4 1/2 saja agak kesulitan untuk melihat jelas karena jarak pandang terjauhnya hanya 2,5 2 meter. Mungkin bagi yang di bawah minus 1 masih bisa melihat meskipun tidak begitu jelas. Tapi bagi orang yang di atas minus 1, seperti saya, agak sulit untuk melihat jelas cermin itu.Sayangnya cermin itu bukan Snellen Chart yang bisa dengan mudah ditebak huruf pertamanya E.

Snellen Chart

Snellen Chart (sumber: http://wikipedia.org)

 
3 Comments

Posted by on April 3, 2012 in Pengalaman Pribadi

 

Adakah Lirik Bahasa Jepang di Heavy Rotation Versi Indonesia?

Satu bulan ini JKT48 menjadi pembicaraan hangat di berbagai media internet. Girlband yang terdiri dari 26 orang ini merupakan “sister” dari AKB48 dari Jepang yang telah lebih dahulu terkenal. Hal yang patut disyukuri adalah JKT48 ini merupakan girlband, bukan boyband. Coba bayangkan bagaimana apabila ada 26 lelaki berteriak “I Want You” bersama-sama. Mungkin orang-orang di sekitar terpogoh-pogoh berlari ketakutan sambil berteriak, “ada FPI!!!”.

JKT48

Personel JKT48 (Sumber: http://www.jkt48.com))

Gambar di atas adalah foto personel JKT48. Pada foto terdapat 28 orang karena 2 orang di foto saat ini telah mengundurkan diri dari JKT48. (Kuis: Jika foto berukuran 960 x 524 pixel, berapa pixel yang didapat oleh masing-masing personel?)

Salah satu yang membuat girlband ini terkenal adalah munculnya di iklan Pocari Sweat sambil menyanyi lagu Heavy Rotation. Apakah anda awalnya berpikir bintang iklan tersebut adalah artis dari Jepang? Jika jawaban anda: “Ya”, maka anda sama dengan saya. Awalnya saya juga berpikir bahwa mereka artis dari Jepang, mungkin AKB48. Dengan track record iklan Pocari Sweat yang sering menghadirkan artis Jepang, banyak yang berpikiran seperti itu. Jika jawaban anda: “Tentu tidak!”, mungkin anda sudah meminum Combantrin.

Saya mengira mereka adalah artis Jepang sampai suatu saat saya menonton JKT48 yang menyanyikan lagu Heavy Rotation versi Indonesia di youtube. Lah, jadi yang main di iklan Pocari Sweat mereka? Setelah dilihat lebih seksama, ternyata benar: wajah di iklan merupakan wajah Indonesia. (terima kasih untuk personel JKT48 yang berdiri paling depan dan selalu di-shot kamera).

Pertanyaan muncul selanjutnya, apakah lagu yang diputar di iklan Pocari Sweat tersebut lagu JKT48 atau AKB48? Di video youtube yang saya dapatkan, saya hanya mendengar lirik berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tapi menurut teman saya, ada sedikit lirik berbahasa Jepang dan mungkin itu yang dicuplik untuk iklan Pocari Sweat. Sulit menentukan mana yang benar karena di video tersebut terdengar sayup-sayup suara penonton (yang beberapa persen diantara mereka adalah alayers dengan desibel yang tinggi). Well, Akhirnya saya menyempatkan diri untuk menggoogling lirik lagu Heavy Rotation versi Indonesia yang dinyanyikan oleh JKT48. Berikut ini lirik yang saya dapatkan dari link liriklaguindonesia.net.

One two three four

I want you (I want you) I need you (I need you)
I love you (I love you) di dalam benakku
keras berbunyi irama musikku, heavy rotation

Seperti popcorn yang meletup-letup
kata-kata suka menari-nari
Wajahmu suaramu selalu ku ingat
membuatku menjadi tergila-gila

Oh senangnya miliki perasaan ini
Ku sangat merasa beruntung

I want you (I want you) I need you (I need you)
I love you (I love you) bertemu denganmu
Semakin dekat jarak di antara kita, maximun high tention

I want you (I want you) I need you (I need you)
I love you (I love you) di lubuk hatiku
Rasa sayang yang terus menerus meluap, heavy rotation

Dalam kehidupan setiap manusia
berapa kali bisa rasakan cinta
Jika ada satu cinta tak terlupa
ku akan merasa sangat bahagia

Mungkin seperti perasaan sekuntum
bunga saat dia akan mekar

I feel you (I feel you) I touch you (I touch you)
I hold you (I hold you) di dalam mimpiku
angan-anganku menjadi semakin besar, oh it’s my imagination

I feel you (I feel you) I touch you (I touch you)
I hold you (I hold you) perasaan ini
ku sangat ingin mengutarakan padamu, heavy rotation

Yang selalu ku dengarkan favorite song
seperti lagu yang ku suka
Ku ulang terus tanpa henti twenty four hours a day
oh baby the only request is you

I want you (I want you) I need you (I need you)
I love you (I love you) bertemu denganmu
Semakin dekat jarak di antara kita, maximun high tention

I want you (I want you) i need you (i need you)
I love you (I love you) di lubuk hatiku
Rasa sayang yang terus menerus meluap, heavy rotation, heavy rotation

Ternyata tidak ada lirik bahasa Jepang sama sekali di lagu tersebut. Jadi siapakah yang menyanyikan lagu di iklan Pocari Sweat itu? Apakah JKT48 atau AKB48? Tentunya bukan Lisa karena tidak ada tulisan “Penyanyi: Lisa” seperti pada iklan sosis So Nice versi Sinta-Jojo.

Penulis: Ivan Nugraha (Pemerhati Iklan)

 
10 Comments

Posted by on January 27, 2012 in Bebas, Pengalaman Pribadi

 

Mari Berbicara Mengenai Toilet

Seminggu yang lalu saya mendapat tugas dari kantor untuk menghadiri sebuah training dan perkenalan produk dari sebuah perusahaan IT internasional. Perusahaan tersebut berkantor di sebuah gedung di Jakarta Pusat di dekat bundaran Hotel Indonesia. Kita sebut saja gedung tersebut Gedung Samar (nama sengaja disamarkan). Gedung tersebut tergolong gedung yang bagus. Liftnya cepat (saya sempat merasa pusing setelah keluar dari lift itu) dan bisa memilah lantai sesuai dengan nametag pengguna lift. Namun, ada yang saya kurang suka dari Gedung Samar: toiletnya. Menimbang pengalaman tersebut, pada kesempatan ini, sambil bercerita saya akan membahas bagaimana toilet yang nyaman menurut versi saya. Dengan tidak bermaksud mengikuti gaya Syahrini, kata “sesuatu” pada tulisan ini akan berkorelasi pada bagian tubuh yang mengeluarkan kotoran, baik dari depan atau belakang.

Awalnya, saya ingin melakukan aktifitas hajat kecil. Saya pun menuju kloset berdiri. Bagi saya, kloset berdiri merupakan ide yang inovatif untuk memisahkan antara pengguna yang akan melakukan buang air kecil dan buang air besar. Pengguna yang akan melakukan hajat kecil tidak perlu mengantri dengan pengguna hajat besar yang bisa dipastikan lama dalam menggunakan toilet. Ada beberapa syarat yang menurut saya wajib ada dalam sebuah toilet yang nyaman.

1. Pipa kecil penyemprot air

Kita pasti akan melakukan aktifitas pembersihan (bahasa gaul: cebok) setelah buang air. Otomatis, jika kita memakai kloset berdiri, kita butuh semprotan untuk membasahi tangan kita, membersihkan “sesuatu”, lalu membersihkan tangan kita kembali. Semprotan tersebut biasanya berupa pipa kecil di atas kloset. Sayangnya, beberapa jenis kloset, termasuk kloset di gedung tersebut, tidak menyediakan semprotan tersebut. Air pada kloset tersebut mengalir di dinding kloset sehingga sulit dikumpulkan oleh tangan. Dalam keadaan tersebut sulit untuk melakukan aktifitas pembersihan dengan nyaman.

Sebenarnya ada cara lain yang mungkin bisa dipraktekan menghadapi kloset tersebut, yaitu mengusap kemaluan pada dinding kloset. Namun hal tersebut menurut saya bukan ide yang cemerlang karena:

  • Tidak ada jaminan dinding tersebut higienis karena masih memungkinkan sisa-sisa kotoran orang lain
  • Mungkin terjadi kesalahpahaman dari orang-orang di sekitar kita.
  • Otomatis, “sesuatu” anda harus panjang untuk mencapai dinding kloset. Padahal, survey membuktikan bahwa “sesuatu” tersebut akan semakin pendek jika anda telah selesai melakukan hajat.

2. Tombol air

Entah siapa orang yang memberikan ide mengganti tombol dengan sensor untuk mengalirkan air pada kloset berdiri. Air baru akan mengalir apabila sensor mendeteksi kita meninggalkan kloset tersebut. Terkadang, jika terjebak di kloset seperti itu, saya harus memiringkan badan untuk menipu sensor, baru setelah air mengalir, dengan cepat saya akan berburu air yang mengalir.

Beranjak pergi ke wastafel bukan ide yang baik karena kita harus membiarkan celana terbuka karena bila dimasukkan akan ada resiko hajat kita terkena celana dalam/celana. Kalau di dalam toilet ada orang, tentunya kita tidak bisa berjalan sambil membiarkan celana terbuka. Kadang-kadang saya berharap “sesuatu” itu portable supaya saya bisa meninggalkannya di kloset sambil mengambil air ke wastafel. #eh

Toilet Berdiri yang Cukup Ideal, Tentunya jika Orang di Foto Tidak Membersihkan Kloset Saat Kita Buang Air (Sumber: vivanews.com)

Syarat di atas merupakan syarat wajib bagi saya untuk melakukan aktivitas buangan di kloset berdiri dengan nyaman. Ketika dua-duanya tidak ada di toilet gedung tersebut, maka saya beranjak menuju toilet duduk. Sayangnya, harapan tinggal harapan.

Syarat sebuah toilet duduk yang baik versi saya adalah adanya sumber air untuk melakukan aktivitas pembersihan. Saya sebenarnya lebih memilih gayung+ember atau semprotan air daripada semprotan statis yang langsung menembak ke arah “sesuatu” karena fleksibilitas arah tembakan. Namun, begitu saya masuk toilet, jangankan gayung+ember atau semprotan air, semprotan statis pun tak ada. Sumber air hanya ada pada lubang kloset. Alat pembersihnya hanya segulung tissue.

Saya tidak cukup mengerti bagaimana ada orang yang beranggapan bahwa air pada lubang kloset cukup higienis untuk melakukan aktifitas pembersihan. Membersihkan dengan tissue? Boleh, sih. Tapi bagi saya mengusap dengan tissue tidak sama dengan membersihkan. Bukannya jika membersihkan dengan tissue sama dengan meratakan kotoroan ke kulit, ya?

Well, akhirnya saya memilih kloset berdiri dengan sebelumnya membasahi tangan agar langsung dapat membersihkan “sesuatu”. Setelah itu saya menutup celana baru ke wastafel untuk membersihkan tangan tersebut. Sungguh merepotkan seperti membuat program.

Penulis: Ivan Nugraha (Pemerhati Toilet)

 
3 Comments

Posted by on January 26, 2012 in Pengalaman Pribadi

 

Tags: , ,

Sebuah Organisasi

Dulu, sekitar tahun ke-3 kuliah, ketika saya hendak pulang ke rumah, di suatu koridor di ITB  seseorang yang berjilbab bersama temannya meminta saya mengisi kuesioner. Dia bilang kuesioner itu untuk tugas kuliah psikologi. Karena waktu itu tidak sedang buru-buru, saya pun mengisi kuesioner itu. Sambil mengisi kuesioner yang cukup banyak, dia mengajak saya ngobrol. Dia bertanya saya mahasiswa jurusan apa. Dia bilang: “pintar dong..” saat saya bilang kuliah di Teknik Informatika. Hal ini cukup membuat saya bingung untuk menjawab apa. Dia juga bertanya saya aktif dimana saja, berencana lanjut di mana, dll. Dia sendiri mengaku sebagai mahasiswi suatu universitas swasta yang ada di Jalan Tamansari.

Bebarapa minggu kemudian, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp saya. Dari mahasiswi itu ternyata (saya mengisi nomor handphone di kuesioner tampaknya). Di sms itu tertulis bahwa dia ingin wawancara + mengisi kuesioner lanjutan. Dia bertanya, dimana kira-kira bisa bertemu. Dia sendiri menyarankan di Taman Ganesha sebelah Masjid Salman ITB. Akhirnya kami janji bertemu esok siangnya.

Esok siangnya, saya pergi ke Taman Ganesha dari kampus. Dia dan beberapa temannya telat beberapa menit dari waktu perjanjian. Dia pun menyerahkan kuesioner yang harus saya isi. Saat itu sebenarnya saya heran dengan kuesioner yang harus diisi saya. Ingatan saya cukup untuk mengingat kuesioner terdahulu. Kuesioner lanjutan ini saya rasa tidak ada relevansinya dengan kuesioner pertama. Mengapa dia menginginkan saya mengisi kuesioner tersebut? Bukankah kuesioner itu bisa diisi siapa saja? Keanehan selanjutnya, setelah saya mengisi kuesioner, dia tidak mewawancarai saya. Saya semakin bingung mengapa saya yang diminta mengisi kuesioner.

Saat saya hendak pamit, dia mencegah saya. Dia bilang tunggu satu orang temannya lagi terlebih dahulu. Saya semakin curiga. Apalagi ketika teman perempuannya datang, tidak ada kegiatan yang signifikan. Saya kira temannya ini yang akan mewawancarai saya atau diwawancara berbarengan dengan saya. Dan tiba-tiba, mahasiswi pemberi kuesioner ini malah mengajak saya mengikuti obrolan dengan seorang senior tentang kuliah di luar negeri yang akan dimulai beberapa saat lagi. Dari jauh, tiba-tiba datanglah satu orang pria.

Pria tersebut mengajak kenalan dengan saya dan perempuan yang terakhir datang. Tampaknya hanya kami berdua yang tidak dia kenal. Kemudian, dia bilang, “Yuk, mari kita mulai obrolan tentang studi ke luar negeri ini.”. Lalu dia meminta kami membentuk semacam lingkaran kecil untuk berdiskusi. Selanjutnya dia menjelaskan jika kuliah ke luar negeri itu hal yang mudah. Dia sendiri bercerita bahwa dia dan teman-temannya telah memiliki profesor di luar negeri yang akan menerima kita.

Saya yang sedari tadi merasa curiga dan tidak nyaman dengan kelompok ini memutuskan untuk pergi setelah pria tersebut berbicara selama 10 menit. Pria tersebut bertanya: “tidak mau melanjutkan? lagi rame loh..”. Saya sendiri beralasan ada rapat himpunan agar bisa pergi (saya berbohong saat itu). Saya pun pergi. Beberapa hari kemudian saya mendapat sms yang meminta isi kuesioner lagi. Dengan halus saya tolak dengan alasan sedang sibuk-sibuknya tugas kuliah.

Kembali ke masa sekarang….

Ketika di televisi sedang dibahas tentang suatu organisasi dengan modus-modus penipuannya, saya jadi teringan kejadian di atas. Saya curiga yang dulu itu adalah organisasi yang sama. Kalau dipikir-pikir, dari dia mendapatkan nomor telepon saya, dia mencari tau kesibukan saya, dia mencari tau kalo saya memiliki cita-cita meneruskan studi ke luar negeri, dia membuat pertemuan yang berisi tentang studi ke luar negeri, dan dia mendatangkan seseorang yang seolah-olah tidak kenal dengan pembicara sungguh mencurigakan. Sayangnya (atau untungnya?) taktik kuesioner lanjutan tidak terlalu mulus sehingga saya merasa curiga.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu mengenal organisasi ini. Dulu saya hanya pernah mendengarnya dari buku sejarah dan setau saya sudah tidak ada. Selanjutnya saya mendengar lagi ketika ada sebuah kerohisan suatu sekolah meminta saya menjual tiket sebuah seminar keagamaan ke SMA saya (saat itu saya sedang menjabat sebagai ketua seksi keagamaan di SMA saya). Namun, ketika saya baca tentang judul-judul materi seminarnya, terasa sangat aneh. Dan seorang rekan berhasil meyakinkan saya kalau seminar ini berisi tentang organisasi ini dan saya diminta untuk tidak menjual tiket tersebut. Saya mendengar lagi tentang organisasi ini ketika awal masuk ke ITB dimana diwanti-wanti oleh rektorat tentang kemungkinan organisasi ini menyebarkan pengaruh buruk di kalangan mahasiswa.

Jadi, apakah pemberi kuesioner tadi dari organisasi tersebut? Entahlah. Saya hanya curiga… Semoga hanya orang baik yang jatuh cinta kepada saya dan ingin saya bisa meneruskan kuliah ke luar negeri (loh?)

 
3 Comments

Posted by on May 15, 2011 in Kuliah, Pengalaman Pribadi

 

Menyelamatkan Data Friendster

Tanggal 22 April 2011 lalu saya mendapati sebuah email dari Friendster. Isinya tentang rencana pengembangan Friendster yang menyebabkan data-data tentang foto, pesan, blog, testimonial, dan shoutout akan dihapus pada tanggal 31 Mei 2011.

Saya jadi teringat akan kejayaan Friendster. Sebelum Facebook mewabah seperti saat ini, Friendster telah ada sebagai jejaring sosial yang cukup banyak diminati. Bahkan tahun 2008, ketika Training For Trainer SSDK, saya sempat terheran-heran dengan kata facebook ketika K Julian, IF04, ketua SSDK 2008, di suatu seminar menyatakan dia mengundang seorang pembicara yang belajar di luar negeri yang ditemukannya dalam facebook (saya lupa nama pembicara itu tetapi dia IF ITB juga yang lebih tua beberapa angkatan dengan K Julian).

Kembali ke topik Friendster. Friendster sendiri menyediakan sebuah aplikasi untuk menyelamatkan data-data yang akan dihapus tersebut. Kemarin saya baru sempat melakukan hal tersebut. Setelah sempat mengubek-ubek email dan google, akhirnya saya tahu aplikasi tersebut bernama friendster exporter (saya baru tahu kalau friendster sekarang ada apps-nya). Linknya: http://widgets.friendster.com/exporter . Terdapat 3 fitur yang disediakan fitur tersebut:

  1. mendownload semua data sehingga menjadi satu file zip yang jika diekstrak menjadi sebuah folder yang berisi situs html friendster lokal.
  2. mengekspor foto ke flickr atau multiply
  3. mengekspor isi blog ke wordpress atau blogspot.

Saya sendiri hanya memakai fitur 1 dan 3 karena saya tidak punya flickr atau multiply. Fitur 1 membutuhkan beberapa menit hingga sebuah email datang memberitahukan bahwa data siap didownload. Fitur 3 saya pakai untuk memindahkan isi blog friendster ke blog ini. Untuk fitur 3 sendiri dia menyediakan data xml yang bisa didownload. Di wordpress ada fitur import di dashboard sehingga kita tinggal mengupload file xml tersebut sehingga data blog friendster pindah ke blog wordpress ini. (Sebenarnya kita bisa juga melakukan hal ini dari halaman blog friendster)

Barusan saya melihat-lihat friendster lokal yang saya download. Saya pun merasa bernostalgia sehingga merasakan suasana kebatinan yang sentimentil dan emosional (haha.. kalimat ini sedikit lebay). Berikut ini hal-hal yang membuat saya bernostalgia:

1. Saya jadi teringat Telkomnet Instan, layanan internet via kabel telepon. Dulu sering sekali iklan 0809-89999 ini muncul di televisi. Awal-awal saya aktif dan mengenal internet melalui layanan ini. Tentunya dengan Telkomnet Instan saya mengakses Friendster. Dulu biayanya dihitung per menit sehingga harus hati-hati agar tagiah telepon tidak membengkak.

2. Saya melihat blog dan foto-foto saya saat dulu. Blognya “gila” banget, saya tidak cukup kuat membacanya. Lalu saya melihat foto-foto zaman dulu. Lucu juga. Saya mengaktifkan webcam untuk membandingkan dengan wajah saya sekarang. Tampak berbeda… Ini salah satu foto saya zaman muda (eh, lebih muda maksudnya).

Foto Friendster Ivan

Antara Imut dan Gaya

3. Saya juga membaca testimonial-testimonial. Masih ingat testimonial? Testimonial itu kalau di facebook semacam wall. Mungkin karena namanya testimonial, awalnya orang-orang mengisinya dengan kesan pesan tentang si empunya akun. Dulu sering bingung kalau ada yang minta dikirim testimoni. Setelah dilihat, ternyata Junita Riany, teman SMA, pengisi testimonial pertama. Berikut cuplikannya:

IvaN…

Baik…
Abis suka bAntUin bLajaR siH….
ThaNx yeE…

LawAk…
kALo LaGhe diiSengiN,, pAsti waJahnya G kOntroL
kEbinGungaN…
dAn iTu meRupaKan suaTu oBjek tErtaWaan yAng bAik!!!,,
hOhO…

Testinya alay. Padahal dulu kan alay belum terkenal. Peloporkah dia? Ahaha.. Testimonial selanjutnya dari Ibnu, teman yang sampai sekarang bersama-sama hingga S2. Berikut cuplikannya:

I = inginnya sih di sebut Vic Chou hu..hu..(kmu tuh emang dia, waktu sy liat dia loh kok mirip ivan) Tp kmu udah liat khan film yg di bintangi ane itu tuh last samurai hu..
V = van nistelrooy muridnya
A = aink temennya
N = n’temen yang baek deh ..
orang ini tuh sok-sok udah lulus stt telkom jadi aje dia ngak mo blajar lg kt nya. padahal van klo kmu itu tuch belajar bukan boeat yang begituannya aje loh ( heeuh ibnu ky kmu sk belajar aja) hu..hu..hu…
kayak nya dia tuh CAKEP tapi orang-orang banyak yang ngak menyadarinya tul gak?? tapi kmu selalu tawaduk tidak mau menyombongkannya I Love U lah
258 kata lg apa yaa, oh iya klo kmu punya pacar khan ngomongnya” klo kmu jadi bunga ane jadi kupu2nya” nah klo gituh ane mah cukup jadi insektisidanya biar kmu tetap tumbuh subur ockey

Eaaa…

4. Entah kenapa friendster diblokir dari jaringan kampus ketika saya masuk ITB. Saya sempat menggunakan situs pihak ketiga agar bisa membuka friendster dari kampus. Lupa alamatnya, apa,ya?

5. Satu lagi, friendster memiliki fitur “Who’s viewed me”. Fitur ini mencatat siapa saja orang yang melihat anda dalam kurun waktu tertentu. Tentunya fitur ini tidak ramah buat seseorang yang ingin “stalker”. Dulu saya mengakalinya dengan mencatat alamat target, logout, lalu mengetiknya di URL. Dengan cara tersebut friendster tidak akan tau siapa yang mengakses alamat orang tersebut. Saya baru tahu itu adalah “session” ketika saya mengikuti pemrograman internet di tingkat 3 kuliah. Haha. Mau tahu siapa yang saya “stalker”? ra-ha-si-a.

Haha, pengalaman yang menarik membuka friendster kembali. Jangan lupa buat para pembaca untuk menyelamatkan datanya di friendster sebelum tanggal 31 Mei 2011. Lumayan, buat kenang-kenangan. Terima kasih Friendster untuk 2 tahun awal saya menggunakan internet…

 
62 Comments

Posted by on May 7, 2011 in Pengalaman Pribadi