RSS

Bocor… Bocor….

09 Mar

Sore tadi saya mengalami salah satu musibah yang paling dibenci pengendara motor: ban bocor. Ditambah harus ganti ban dalam. Ditambah harga ban dalamnya di mark up. Ditambah sedang tidak bawa uang. Untungnya saya sedang mengantar teman, jadi bisa pinjam uang. Lima puluh ribu pun meluncur dari saku teman saya ke saku tukang tambal ban.

Jarak Tidak Menjadi Alasan
Dulu, sewaktu tinggal di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, saya pun beberapa kali mengalami ban bocor. Kalau dulu saya bisa menganggap peluang ban bocor cukup besar karena sehari bisa mengendarai motor sejauh 60 km per hari bolak-balik rumah kantor, kali ini harusnya peluangnya kecil karena saya hanya mengendarai motor 1 km per hari bolak balik tempat kos ke kantor. Tapi kalau sudah nasibnya ban bocor, ya sudah, mau bagaimana lagi. Takdir Allah tidak bisa dilangkahi. Jadi ingat perkataan polwan di acara 86 di net tv yang memarahi pengendara motor yang tidak pakai helm dengan alasan hanya naik motor jarak dekat: “Kadang saya merasa sedih” “Memang jarak dekat kalau jatuh tidak benjol?”

Pertama Kali Dibonceng Dan Langsung Mengalami Bocor
Jadi barusan saya sedang membonceng Mas Yudho dan dia baru pertama kalinya dibonceng saya. Agak tidak enak karena awalnya ingin cepat, akhirnya dia harus menunggu tambal ban (+harus minjemim uang. Haha). Sebenarnya barusan adalah kedua kalinya ban bocor saat ada teman yang pertama kalinya dibonceng. Dulu waktu kuliah juga pernah ada teman yang mengalami nasib serupa. Akhirnya dia harus naik angkot/ojek untuk pulang. Waktu itu saking panik, gugup, dan tidak enaknya saya, saya sampai menjatuhkan motor sewaktu memarkirkan motor di pinggir jalan. Untung saat itu di dago sepi, jadi tidak ada yang tertawa karena melihat orang yang memarkirkan motor tanpa standar.

Berat tidak menjadi alasan
Sabtu minggu lalu, salah satu teman saya, Anto, menikah. Dia menikah di SESKOAD Gatot Subroto Bandung. Salah satu teman, Mirza, mengingatkan saya bahwa saya pernah berbarengan dengan dia ke undangan kakak kelas beberapa tahun lalu di tempat yang sama. Saya jadi teringat pengalaman lucu saat membonceng Mirza waktu itu. Mirza memiliki badan yang diatas rata2 saat itu. Saya sendiri ‘sedikit’ di atas rata2. Dan, di setiap lampu merah, pengendara lain memberi tahu bahwa ban kempes. Awalnya saya cuek, tapi setelah beberapa perempatan, semakin banyak yang memberitahu saya. Setelah saya cek, ternyata ban normal. Mungkin ban terlihat kempes karena beratnya dua orang yang naik sepeda motor tersebut. Haha.

Bocor di Sudirman
Banyak yang bilang Jalan Sudirman-Thamrin merupakan jantungnya bisnis Indonesia. Tapi apa jadinya jika ban bocor di jalan tersebut? Saya pernah mengalaminya. Ban bocor di sudirman membuat kebingungan yang luar biasa. Bagaimama mungkin ada tukang tambal ban yang mangkal di depan gedung2 pencakar langit? Untungnya, setelah maju beberapa meter, ada tukang tambal ban yang mangkal di salah satu halte bus. Alat tambalnya pun hanya sederhana, pompa ban sepeda. Mungkin itu salah satu taktiknya agar tidak digusur Satpol PP. Tapi untunglah ada dia. Jika tidak mungkin saya akan meminta patung selamat datang untuk menambal ban saya saking putus asanya.

Sedia Payung Sebelum Hujan
Di Jakarta tampaknya kita harus siap sedia ban dalam cadangan jika tidak mau dipaksa membelu dengan harga mahal di tukang tambal ban. Harga ban dalam yang berkisar 20 ribu dapat di mark up menjadi lebih dari 40 ribu di tukang tambal ban. Selain itu sering kali susah sekali menawar harganya. Kalau di Bandung, tinggal memakai bahasa Sunda sedikit kita bisa menawar. Di Jakarta, apabila menawar dengan bahasa Sunda, bukannya mendapat harga murah, terkadang kita harus lari karena dikira pendukung Persib.

Polwan Yang Menjadi Tukang Tambal Ban
Berbarengan dengan saya menulis tulisan ini, acara 86 di Net menayangkan liputan tentang Bripda Eka Yuli dari Salatiga yang menyambi menjadi tukang tambal ban. Berikut ini fotonya.
image

Beliau menyambi karena selain membantu ekonomi keluarga, usaha tambal ban tersebut mengingatkan dia pada perjuangan ayah-ibunya yang membiayai pendidikannya hingga diterima menjadi polisi. Salut untuk Bripda Eka Yuli. Semoga bisa membantu pengendara motor yang kesulitan karena “Bocor… Bocor….”

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: