RSS

Meracau Tentang Perahu Kertas

27 Oct

Halo! Hari ini secara resmi saya menggenapkan membaca buku Perahu Kertas setelah membaca secara maraton bebebera hari ini. Beberapa minggu yang lalu juga sempat menonton filmnya di bioskop. Jadi niat untuk nulis blog tentang komentar terhadap buku dan filmnya. Tapi karena komentarnya acak, jadi supaya enak saya buat poin-poin aja,ya…

1. Meskipun novel “Perahu Kertas” sudah ada di rak best seller sejak beberapa tahun yang lalu, saya selama ini tidak memiliki niat untuk membacanya. Pengetahuan tentang Dee pun tidak terlalu banyak. Yang saya tahu waktu itu adalah Dee adalah Dewi Lestari, mantan istri Marcell, terkenal dengan Supernova, dan pernah membuat kontroversi tentang novelnya dengan suatu agama tertentu. Munculnya Malinda Dee, terpidana kasus Citibank yang membuat geger setahun yang lalu, juga membuat informasi saya tentang Dee juga jadi bercabang ke arah yang tidak jelas. Pokoknya, kalau mendengar kata Dee jadi ingat suatu scene acara 8-11 Metro TV saat Malinda Dee pertama kali ditangkap. Di acara tersebut, Tomi Tjokro dan Prabu Revolusi tidak sanggup menahan tawa saat membacakan beritanya sampai-sampai diambil alih Marissa (tau lah, ya, alasannya…).

Poster Perahu Kertas

Perahu Kertas (Sumber: wikipedia)

2. Ketika rilis filmnya, saya tidak tertarik untuk menonton filmnya. Tapi pembicaraan di mushola kantor dengan salah satu direktur membuat saya jadi berniat untuk menonton film tersebut. Direktur tersebut menyebut film itu bagus dari segi penokohan dan cerita. Saya mulai tertarik karena setahu saya film tersebut untuk generasi muda. Sangat jarang sebuah film dengan tema cinta generasi muda disukai oleh orang yang berbeda generasi (saya ga bilang tua,ya, Pak Lulu. Cuma beda generasi. Hehe). Setahu saya cuma biskuit Roma yang dari generasi ke generasi *bukan blog berbayar*.

3. Yang menarik dari film pertama adalah penokohan seorang Kugy. Kugy menjelma sebagai sosok yang unik dan menarik. Bagi saya, alur filmnya berbeda dari umumnya karena di film tersebut Kugy tampak menjadi orang yang mencintai beberapa orang sekaligus. Sangat jarang di suatu film seorang wanita diceritakan jatuh cinta kepada beberapa orang di suatu waktu yang sama. Sosok Kugy yang terpaksa kabur dari Noni dan Keenan juga jadi alur yang menarik. Dan yang paling membuat gemas adalah ketika kita harus menerima kenyataan kalau film selesai dan berlanjut ke part II.

4. Satu orang yang cukup mencuri perhatian di film tersebut adalah Maudy Ayunda yang berperan sebagai Kugy. Di awal film, saya sedikit anti dengan orang ini karena di suatu wawancara berita orang ini berbicara tidak natural dan kebule-bulean (seperti Cinta Laura). Tapi, image ini menghilang setelah 30 menit menonton film ini. Maudy berhasil memunculkan karakter unik dan menyihir penonton. Sempat kaget juga ketika tahu ternyata dia juga berperan di film Sang Pemimpi serta Rumah Tanpa Jendela dan saya tidak mengingatnya. Beberapa hari yang lalu, berkat @poedja_p@obiisme, dan @r_prana_a ketidaksukaan saya terhadap wawancara Maudy Ayunda itu menghilang ketika tahu kalau dia sekolah di British International School.

Maudy Ayunda

Maudy Ayunda (Sumber: pikiran rakyat online)

5. Film kedua rilis hanya beberapa bulan setelah film pertama rilis. Agak kaget juga karena awalnya saya pikir film ini akan seperti Harry Potter 7 yang jarak antara Part I dan Part II sekitar 1 tahun. Gosipnya, sebenarnya filmnya sudah jadi sejak part I diputar. Tapi karena kepanjangan dan tidak mau dipotong, jadi dijadikan 2 bagian. Saya sendiri menonton film ini saat hari pertama rilis di Blitzmegaplex PVJ. Membeli tiket 2 jam sebelum diputar ternyata bukan jaminan dapat tempat duduk di tengah. Saya harus duduk agak ke pinggir karena ternyata pada saat itu satu teater Blitzmegaplex PVJ penuh. Menonton film kedua ini benar-benar membuat saya terbawa alur film. Di film ini terkadang kita terbawa emosi untuk sebal terhadap keadaan serta sikap Kugy, Keenan, Luhde, dan Remi.

6. Saya tidak suka ending dari cerita Perahu Kertas ini. Lebih prefer tokoh A-tokoh D dan tokoh B-tokoh C.

7. Reza Rahadian ini super sekali. Bintangnya film Indonesia saat ini.

8. Atas saran @poedja_p, @obiisme, dan @r_prana_a, saya memutuskan untuk membeli buku perahu kertas karena mereka bilang cukup worth it untuk membaca buku meskipun telah menonton filmnya. Benar saja, di buku cukup detail diceritakan tentang ketidakcocokan antara Kugy dan Ojos. Selain itu, tokoh Keenan menjadi sangat hidup dan memang terasa sebagai tokoh utama. Tidak seperti di film yang serasa menjadi pemeran pendamping pemeran utama. Beberapa hal di film menjadi logis dan beralasan setelah membaca buku ini. Film pun membantu penokohan tokoh-tokohnya saat membaca novel. Mirip dengan kondisi saat menonton dan membaca Hunger Games. Saya sendiri merasa beruntung menonton film dulu sebelum membaca bukunya karena jadi merasa efek film dan bukunya sama-sama “Wow” (sambil koprol).

9. Dua bagian yang saya kutip dari buku ini karena menarik: ungkapan “Hari giniii… janur kuning udah ga ngaruh! Sebelum BENDERA KUNING berdiri, kompetisi tetap terbuka” dan “Pernah nggak kamu kepikir, saking merasa bersalahnya Kugy sama kamu, dia jadi kayak kijang itu. Dia malah nggak bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri, bukan karena dia yang kepingin . Tapi itu refleks yang nggak bisa dia lawan, saking merasa salah sama kamu. Dia jadi takut ngedeketin kamu.”

10. Ternyata Dee sangat berbakat,ya.. Selain penulis dan pencipta lagu, dia juga ternyata penyanyi yang sudah ngetop sejak dulu. Dulu ada grup vokal terkenal yang namanya Rida-Sita-Dewi (RSD). Itu Dewi yang sama,loh… Pantes pas nyanyi di video saat launching buku Perahu Kertas suaranya bagus.

Overall, saya suka buku dan filmnya. Buat yang suka cerita cinta dan romantis, buku dan film ini bisa menjadi pilihan yang menarik.

Dulu, saya iri kepada Thailand yang sanggup membuat film percintaan yang bagus seperti Crazy Little Thing Called Love, Suck Seed, dan ATM. Saya selalu bertanya-tanya kapan Indonesia bisa membuat film dengan cerita sebagus film-film tersebut. Sejak menonton film Perahu Kertas, pertanyaan saya terjawab. Sekarang, film Indonesia saya anggap sudah bisa menyaingi film-film Thailand. Terima kasih Tong Fang!

 
1 Comment

Posted by on October 27, 2012 in Buku, Film

 

Tags: ,

One response to “Meracau Tentang Perahu Kertas

  1. sepatu crocs ori

    October 31, 2012 at 9:16 pm

    Amazing…. aku suka ceritanya… aku udah nonton.. bagus banget… toppp

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: