RSS

Mari Berbicara Mengenai Toilet

26 Jan

Seminggu yang lalu saya mendapat tugas dari kantor untuk menghadiri sebuah training dan perkenalan produk dari sebuah perusahaan IT internasional. Perusahaan tersebut berkantor di sebuah gedung di Jakarta Pusat di dekat bundaran Hotel Indonesia. Kita sebut saja gedung tersebut Gedung Samar (nama sengaja disamarkan). Gedung tersebut tergolong gedung yang bagus. Liftnya cepat (saya sempat merasa pusing setelah keluar dari lift itu) dan bisa memilah lantai sesuai dengan nametag pengguna lift. Namun, ada yang saya kurang suka dari Gedung Samar: toiletnya. Menimbang pengalaman tersebut, pada kesempatan ini, sambil bercerita saya akan membahas bagaimana toilet yang nyaman menurut versi saya. Dengan tidak bermaksud mengikuti gaya Syahrini, kata “sesuatu” pada tulisan ini akan berkorelasi pada bagian tubuh yang mengeluarkan kotoran, baik dari depan atau belakang.

Awalnya, saya ingin melakukan aktifitas hajat kecil. Saya pun menuju kloset berdiri. Bagi saya, kloset berdiri merupakan ide yang inovatif untuk memisahkan antara pengguna yang akan melakukan buang air kecil dan buang air besar. Pengguna yang akan melakukan hajat kecil tidak perlu mengantri dengan pengguna hajat besar yang bisa dipastikan lama dalam menggunakan toilet. Ada beberapa syarat yang menurut saya wajib ada dalam sebuah toilet yang nyaman.

1. Pipa kecil penyemprot air

Kita pasti akan melakukan aktifitas pembersihan (bahasa gaul: cebok) setelah buang air. Otomatis, jika kita memakai kloset berdiri, kita butuh semprotan untuk membasahi tangan kita, membersihkan “sesuatu”, lalu membersihkan tangan kita kembali. Semprotan tersebut biasanya berupa pipa kecil di atas kloset. Sayangnya, beberapa jenis kloset, termasuk kloset di gedung tersebut, tidak menyediakan semprotan tersebut. Air pada kloset tersebut mengalir di dinding kloset sehingga sulit dikumpulkan oleh tangan. Dalam keadaan tersebut sulit untuk melakukan aktifitas pembersihan dengan nyaman.

Sebenarnya ada cara lain yang mungkin bisa dipraktekan menghadapi kloset tersebut, yaitu mengusap kemaluan pada dinding kloset. Namun hal tersebut menurut saya bukan ide yang cemerlang karena:

  • Tidak ada jaminan dinding tersebut higienis karena masih memungkinkan sisa-sisa kotoran orang lain
  • Mungkin terjadi kesalahpahaman dari orang-orang di sekitar kita.
  • Otomatis, “sesuatu” anda harus panjang untuk mencapai dinding kloset. Padahal, survey membuktikan bahwa “sesuatu” tersebut akan semakin pendek jika anda telah selesai melakukan hajat.

2. Tombol air

Entah siapa orang yang memberikan ide mengganti tombol dengan sensor untuk mengalirkan air pada kloset berdiri. Air baru akan mengalir apabila sensor mendeteksi kita meninggalkan kloset tersebut. Terkadang, jika terjebak di kloset seperti itu, saya harus memiringkan badan untuk menipu sensor, baru setelah air mengalir, dengan cepat saya akan berburu air yang mengalir.

Beranjak pergi ke wastafel bukan ide yang baik karena kita harus membiarkan celana terbuka karena bila dimasukkan akan ada resiko hajat kita terkena celana dalam/celana. Kalau di dalam toilet ada orang, tentunya kita tidak bisa berjalan sambil membiarkan celana terbuka. Kadang-kadang saya berharap “sesuatu” itu portable supaya saya bisa meninggalkannya di kloset sambil mengambil air ke wastafel. #eh

Toilet Berdiri yang Cukup Ideal, Tentunya jika Orang di Foto Tidak Membersihkan Kloset Saat Kita Buang Air (Sumber: vivanews.com)

Syarat di atas merupakan syarat wajib bagi saya untuk melakukan aktivitas buangan di kloset berdiri dengan nyaman. Ketika dua-duanya tidak ada di toilet gedung tersebut, maka saya beranjak menuju toilet duduk. Sayangnya, harapan tinggal harapan.

Syarat sebuah toilet duduk yang baik versi saya adalah adanya sumber air untuk melakukan aktivitas pembersihan. Saya sebenarnya lebih memilih gayung+ember atau semprotan air daripada semprotan statis yang langsung menembak ke arah “sesuatu” karena fleksibilitas arah tembakan. Namun, begitu saya masuk toilet, jangankan gayung+ember atau semprotan air, semprotan statis pun tak ada. Sumber air hanya ada pada lubang kloset. Alat pembersihnya hanya segulung tissue.

Saya tidak cukup mengerti bagaimana ada orang yang beranggapan bahwa air pada lubang kloset cukup higienis untuk melakukan aktifitas pembersihan. Membersihkan dengan tissue? Boleh, sih. Tapi bagi saya mengusap dengan tissue tidak sama dengan membersihkan. Bukannya jika membersihkan dengan tissue sama dengan meratakan kotoroan ke kulit, ya?

Well, akhirnya saya memilih kloset berdiri dengan sebelumnya membasahi tangan agar langsung dapat membersihkan “sesuatu”. Setelah itu saya menutup celana baru ke wastafel untuk membersihkan tangan tersebut. Sungguh merepotkan seperti membuat program.

Penulis: Ivan Nugraha (Pemerhati Toilet)

 
3 Comments

Posted by on January 26, 2012 in Pengalaman Pribadi

 

Tags: , ,

3 responses to “Mari Berbicara Mengenai Toilet

  1. Zakka Fauzan

    January 27, 2012 at 11:12 am

    Membuat program saja mungkin tidak semerepotkan itu, van =))

     
  2. Tito Daniswara

    January 27, 2012 at 5:31 pm

    Haha kocak van gaya bahasanya.. numpang ketawa

     
  3. dioni

    January 29, 2012 at 9:25 pm

    LOL
    – setuju banget, Van. gw ngerasain jg kerisian make toilet umum di sini. adanyq cuma tisu. jijik banget ga sih andai abis BAB bersihinnya pake tisu. jadi biasanya ambil tisu yg banyak, tetesin air dikit, terus dipake ceb*k
    – gw jadi inget StandUpNite sesi Ernest yg intinya bilang “banyak inovasi ga penting skrg, kita ke toilet butuhnya iar, dikasihnya tisu”

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: