RSS

Sebuah Organisasi

15 May

Dulu, sekitar tahun ke-3 kuliah, ketika saya hendak pulang ke rumah, di suatu koridor di ITB  seseorang yang berjilbab bersama temannya meminta saya mengisi kuesioner. Dia bilang kuesioner itu untuk tugas kuliah psikologi. Karena waktu itu tidak sedang buru-buru, saya pun mengisi kuesioner itu. Sambil mengisi kuesioner yang cukup banyak, dia mengajak saya ngobrol. Dia bertanya saya mahasiswa jurusan apa. Dia bilang: “pintar dong..” saat saya bilang kuliah di Teknik Informatika. Hal ini cukup membuat saya bingung untuk menjawab apa. Dia juga bertanya saya aktif dimana saja, berencana lanjut di mana, dll. Dia sendiri mengaku sebagai mahasiswi suatu universitas swasta yang ada di Jalan Tamansari.

Bebarapa minggu kemudian, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp saya. Dari mahasiswi itu ternyata (saya mengisi nomor handphone di kuesioner tampaknya). Di sms itu tertulis bahwa dia ingin wawancara + mengisi kuesioner lanjutan. Dia bertanya, dimana kira-kira bisa bertemu. Dia sendiri menyarankan di Taman Ganesha sebelah Masjid Salman ITB. Akhirnya kami janji bertemu esok siangnya.

Esok siangnya, saya pergi ke Taman Ganesha dari kampus. Dia dan beberapa temannya telat beberapa menit dari waktu perjanjian. Dia pun menyerahkan kuesioner yang harus saya isi. Saat itu sebenarnya saya heran dengan kuesioner yang harus diisi saya. Ingatan saya cukup untuk mengingat kuesioner terdahulu. Kuesioner lanjutan ini saya rasa tidak ada relevansinya dengan kuesioner pertama. Mengapa dia menginginkan saya mengisi kuesioner tersebut? Bukankah kuesioner itu bisa diisi siapa saja? Keanehan selanjutnya, setelah saya mengisi kuesioner, dia tidak mewawancarai saya. Saya semakin bingung mengapa saya yang diminta mengisi kuesioner.

Saat saya hendak pamit, dia mencegah saya. Dia bilang tunggu satu orang temannya lagi terlebih dahulu. Saya semakin curiga. Apalagi ketika teman perempuannya datang, tidak ada kegiatan yang signifikan. Saya kira temannya ini yang akan mewawancarai saya atau diwawancara berbarengan dengan saya. Dan tiba-tiba, mahasiswi pemberi kuesioner ini malah mengajak saya mengikuti obrolan dengan seorang senior tentang kuliah di luar negeri yang akan dimulai beberapa saat lagi. Dari jauh, tiba-tiba datanglah satu orang pria.

Pria tersebut mengajak kenalan dengan saya dan perempuan yang terakhir datang. Tampaknya hanya kami berdua yang tidak dia kenal. Kemudian, dia bilang, “Yuk, mari kita mulai obrolan tentang studi ke luar negeri ini.”. Lalu dia meminta kami membentuk semacam lingkaran kecil untuk berdiskusi. Selanjutnya dia menjelaskan jika kuliah ke luar negeri itu hal yang mudah. Dia sendiri bercerita bahwa dia dan teman-temannya telah memiliki profesor di luar negeri yang akan menerima kita.

Saya yang sedari tadi merasa curiga dan tidak nyaman dengan kelompok ini memutuskan untuk pergi setelah pria tersebut berbicara selama 10 menit. Pria tersebut bertanya: “tidak mau melanjutkan? lagi rame loh..”. Saya sendiri beralasan ada rapat himpunan agar bisa pergi (saya berbohong saat itu). Saya pun pergi. Beberapa hari kemudian saya mendapat sms yang meminta isi kuesioner lagi. Dengan halus saya tolak dengan alasan sedang sibuk-sibuknya tugas kuliah.

Kembali ke masa sekarang….

Ketika di televisi sedang dibahas tentang suatu organisasi dengan modus-modus penipuannya, saya jadi teringan kejadian di atas. Saya curiga yang dulu itu adalah organisasi yang sama. Kalau dipikir-pikir, dari dia mendapatkan nomor telepon saya, dia mencari tau kesibukan saya, dia mencari tau kalo saya memiliki cita-cita meneruskan studi ke luar negeri, dia membuat pertemuan yang berisi tentang studi ke luar negeri, dan dia mendatangkan seseorang yang seolah-olah tidak kenal dengan pembicara sungguh mencurigakan. Sayangnya (atau untungnya?) taktik kuesioner lanjutan tidak terlalu mulus sehingga saya merasa curiga.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu mengenal organisasi ini. Dulu saya hanya pernah mendengarnya dari buku sejarah dan setau saya sudah tidak ada. Selanjutnya saya mendengar lagi ketika ada sebuah kerohisan suatu sekolah meminta saya menjual tiket sebuah seminar keagamaan ke SMA saya (saat itu saya sedang menjabat sebagai ketua seksi keagamaan di SMA saya). Namun, ketika saya baca tentang judul-judul materi seminarnya, terasa sangat aneh. Dan seorang rekan berhasil meyakinkan saya kalau seminar ini berisi tentang organisasi ini dan saya diminta untuk tidak menjual tiket tersebut. Saya mendengar lagi tentang organisasi ini ketika awal masuk ke ITB dimana diwanti-wanti oleh rektorat tentang kemungkinan organisasi ini menyebarkan pengaruh buruk di kalangan mahasiswa.

Jadi, apakah pemberi kuesioner tadi dari organisasi tersebut? Entahlah. Saya hanya curiga… Semoga hanya orang baik yang jatuh cinta kepada saya dan ingin saya bisa meneruskan kuliah ke luar negeri (loh?)

 
3 Comments

Posted by on May 15, 2011 in Kuliah, Pengalaman Pribadi

 

3 responses to “Sebuah Organisasi

  1. Fachrie Lantera

    May 16, 2011 at 2:30 pm

    organisasi mereka apa namanya ?

     
    • Ivan

      May 16, 2011 at 5:53 pm

      Udah sering disebut di tv.. ga usah disebut deh.. :-p

       
      • Fachrie Lantera

        May 16, 2011 at 10:05 pm

        NII maksudmu ? wah sy gak nonton tv sekarang, jarang banget..wah hati2 tuh

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: