RSS

Menjadi Bahagia dengan Ilmu

10 Dec

belajar

Saat itu kuliah Sistem Komputer, salah satu mata kuliah S2, telah berlalu lebih dari sejam. Scroll atas-bawah pada power point di layar telah hampir mendekati bawah. Ketika memasuki slide terakhir, suasana kelas mulai berseri. Tentu saja, semua berharap kelas selesai. Namun, harapan tinggal harapan. Setelah Pak Awang, dosen Sistem Komputer, selesai menerangkan slide terakhir, dibukanya file baru yang berisi tiga-puluhan slide lagi. Suasana kelas yang sudah mulai berseri mulai kehilangan keberseriannya.

Bersiap menghadapi pelajaran baru, tiba-tiba Pak Awang bertanya, “Slide yang di depan ini ilmu atau kemahiran?”. Semua bingung, menerka-nerka maksud pertanyaan Pak Awang. Lalu Pak Awang bertanya: “Apakah ilmu?”. Tidak ada yang menjawab lagi, ia bertanya kepada salah satu mahasiswa: “Mau apa kamu kuliah?”. Mahasiswa tersebut menjawab: “Supaya dapat ilmu”. Pak Awang bertanya lagi: “Emang yakin bakal dapet ilmu?”. Mahasiswa tersebut menjawab lagi: “Supaya gampang cari kerja,Pak”. “Buat apa cari kerja?” Pak Awang bertanya kembali. “Buat cari istri,Pak” mahasiswa tersebut menjawab. “Cari Istri buat apa? Buat dapat anak? Dapat anak buat apa?”. Semua peserta kelas tersenyum. Lalu, Pak Awang menceritakan tentang sebuah kisah.

Di sebuah tempat, hiduplah seorang pencari ikan. Dia menghabiskan waktu siangnya dengan membaca buku di kolam, dengan 1 kakinya diikatkan pada tali pancing. Apabila ada ikan yang terkena pancingnya, maka dia akan menarik kakinya dan menangkap ikan tersebut. Malam harinya, dia menyebarkan ilmunya kepada murid-muridnya.

Suatu waktu ada murid yang bertanya: “Guru, kenapa guru tidak memancing memakai dua kaki saja? Bukankah jika dengan dua kaki maka hasil pancingannya akan lebih banyak?”. Gurunya menjawab: “Buat apa anakku? Bukankah dengan 1 kaki saya dapat mencukupi kebutuhan hidup saya sehari-hari?”. Murid tersebut menjawab: “Apabila engkau memancing dengan 2 kaki, engkau bisa menjual sebagian dari ikan tersebut dan ditabungkan. Dari uang tersebut Guru bisa membeli perahu kecil dan jaring”. Guru tersebut menjawab: “Buat apa saya punya perahu dan jaring?”. Murid menjawab: “Apabila engkau punya perahu dan jaring, maka hasil tangkapanmu akan lebih banyak. Engkau bisa membeli kapal besar.” Guru menjawab: “Jika saya memiliki kapal besar, maka saya akan sibuk untuk merawat kapal tersebut. Saya tidak bisa duduk dengan santai dan membaca buku.”. Murid tersebut membantah: “Jika Guru telah memiliki banyak uang, Guru bisa mencari pegawai. Nanti guru bisa santai, duduk, dan membaca buku”.

Akhirnya guru tersebut berkata: “Bukankah sekarang saya sudah bisa santai, duduk, dan membaca buku. Kenapa saya harus repot-repot melakukan hal itu padahal tujuan akhirnya telah saya miliki sekarang”.

Menutup cerita, Pak Awang berkata: “Tidak ada sesuatu yang bisa menjamin kita bahagia.”. Sesukses-suksesnya orang, hingga berhasil S3 dan meraih gelar profesor, mungkin saja dia tidak bahagia. Ia menceritakan dulu dia kerja di perusahaan swasta dengan gaji yang tinggi. Namun dia tidak merasa bahagia. Hingga akhirnya dia kembali ke ITB dan melamar menjadi dosen. Padahal, gaji menjadi dosen saat itu sangat kecil, jauh dari gaji dia di perusahaan swasta. Tapi itulah bahagia.

Di akhir, Pak Awang berkata: “Ilmu adalah sesuatu yang bisa membantu kita saat menjawab pertanyaan kubur: siapa tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu”. Kuliah ini kemahiran, bukan ilmu. Tidak ada jaminan setelah mengikuti kuliah ini akan bahagia, bahkan mungkin hanya akan pusing yang ada. Tapi jika kita belajar ilmu, kebahagiaan akan menghampiri kita.

Pak Awang berkata, “Saya menceritakan ini di akhir semester. Kalau saya cerita di awal semester mungkin tidak akan ada yang belajar”. Kelas pun tertawa. Kuliah pun selesai, file yang ditampilkan di layar diputuskan untuk diberikan di kuliah selanjutnya

 
7 Comments

Posted by on December 10, 2009 in Pengalaman Pribadi

 

7 responses to “Menjadi Bahagia dengan Ilmu

  1. Adi P. Sujarwadi

    December 10, 2009 at 4:41 pm

    Dulu pas jarkom juga pernah cerita van, mirip😀

     
  2. petra

    December 10, 2009 at 9:08 pm

    enak aja….
    pas di kuliah Sistem Operasi Lanjut diceritainnya di awal semester tuuuh😀

     
  3. ghe2

    December 10, 2009 at 10:52 pm

    tapi jadi terlalu cepet puas dong, van? hmm..

     
  4. restya

    December 11, 2009 at 8:23 am

    Success is having what you want
    Happiness is wanting what you have
    (7 Laws of Happiness)

    Ceritanya ada yg kurang, Van😀

     
  5. indramukmin

    December 11, 2009 at 4:05 pm

    Ceritanya bagus. Dapet pelajaran saya hehehe

     
  6. Tito

    December 16, 2009 at 1:31 am

    Mantep van.. Emang kalo duduk di belakang suka ga dapet yang gini2 nih :p

     
  7. meliza

    December 22, 2009 at 1:42 am

    huahahaha…

    passion and calling😉

    kebahagiaan semu mungkin relatif..
    tapi ada yang namanya kebahagiaan sejati ..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: