RSS

Menutup Semester IV : Profession and Leadership Orientation – Jalan Panjang untuk Kaderisasi STEI 2007

04 Oct

Tulisan ini akan bercerita tentang Kaderisasi STEI 2007 atau yang lebih terkenal dengan Profession and Leadership Orientation (PLO). Mungkin udah basi dan kenangannya pun terhapus oleh SPARTA (kaderisasi IF 2007) dan MBC (kaderisasi EL 2007). Tapi sebagai orang yang terlibat dari tahap perencanaan sampai dengan implementasi, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk melakukan transfer ilmu untuk HME dan HMIF selanjutnya. So, daripada mulut berbusa untuk cerita😛 , lebih baik saya ketik (toh, jari tangan ga bisa berbusa💡 )

Sebelumnya, mohon maaf apabila ada detail kegiatan yang saya salah tulis atau lupa tertuliskan (tulisan ini dibuat 4 bulan setelah kegiatan selesai, padahal ceritanya dimulai lebih dari satu tahun yang lalu. Saya sendiri bukan orang yang suka menulis diari😉 ). Maaf juga kalo tulisan ini ditulis dari segi pengamatan saya semata, sehingga mungkin ada sisi lain yang tidak terungkap dari PLO. Semoga tulisan ini bermanfaat…🙂

***

Awalnya saya terlibat di PLO karena mendapat amanah di PSDA HMIF sebagai pendamping (sebenarnya lebih cocok disebut pembantu😛 ) Mira Muliati (IF 05), biasa saya sebut Teh Mira, sebagai penanggung jawab proker Kaderisasi STEI 2007.

Penggabungan antara IF dan EL menjadi STEI membawa dampak langsung kepada himpunan, yaitu himpunan tidak bisa langsung mengkader mahasiswa tingkat pertama. HME dan HMIF ITB merupakan himpunan pertama di ITB yang melakukan kegiatan kaderisasi bersama di tingkat fakultas untuk angkatan 2006. Sayangnya, kegiatan tersebut memiliki beberapa masalah seperti budaya himpunan yang berbeda, adanya pembanding-bandingan himpunan oleh peserta, kebersamaan semu yang dibangun di STEI, dan banyak hal lain yang tidak terjadi tahun-tahun sebelumnya. So, banyak pihak yang akhirnya tidak ingin melakukan kaderisasi bersama lagi.

Tim Formatur Kaderisasi STEI 2006, awal dari PLO

Untuk menginisiasi perlu atau tidaknya kaderisasi STEI 2006, akhirnya dibentuklah tim formatur kaderisasi STEI 2006. Tim ini dibentuk oleh PSDA HMIF dan Kementrian Karakter HME. Berawal dari rapat di selasar dingdong yang diikuti oleh saya, Teh Mira, Kak Arda (EL’04, Menteri Karakter HME saat itu), dan Kak Adin (EL’05, kementerian karakter HME), dibentuklah tim formatur yang akhirnya secara resmi beranggotakan Kak Arda, Kak Ochal (EL’05, penyusun GDK HME), Totz (EL’06), Kak Aji (IF’05), Teh Mira, dan saya sendiri. Tugas inti dari tim ini adalah mengkaji perlu atau tidaknya kaderisasi, menetapkan capaian kaderisasi bila disepakati ada kaderisasi bersama, memilih ketua, dan evaluator kegiatan.

Untuk memutuskan tentang butuh atau tidaknya kaderisasi bersama, tim ini melakukan analisis kondisi dan kebutuhan akan kaderisasi STEI 2008. Metode yang dipakai adalah wawancara terhadap 2006 (Nur, Prana, dan Ega, ketiganya saya tembak di tempat ketika sedang di Labdas IV😆 ), wawancara terhadap 2007 (ketua kelas, mahasiswa metropolis, mahasiswa daerah), kuesioner massa himpunan, kuesioner 2007, analisis GDK HME, dan analisis kebutuhan HMIF.

Rapat DE HMIF – Diakhiri dengan Tiga Buah Persyaratan

Rapat DE HMIF tentang ada atau tidaknya kaderisasi bersama, mungkin menjadi salah satu rapat DE yang memiliki tempat tersendiri di ingatan saya. Selain karena rapat itu merupakan rapat DE pertama saya, rapat tersebut merupakan salah satu rapat terpanas dimana emosi beberapa orang DE tampak terlibat. Saat itu, DE HMIF rapat bersama tim formatur yang diwakili oleh saya dan Teh Mira.

“Sejak menjadi panitia di kaderisasi kemarin, dalam hati saya bilang, tidak usahlah ada kaderisasi bersama lagi.”

Sesi brainstorming diawali dengan statement di atas oleh salah seorang DE. Begitu juga statement-statement selanjutnya yang kebanyakan berisi tentang kekecewaan terhadap kaderisasi 2006 dan penolakan adanya kaderisasi bersama kembali. Wajar saja banyak yang tidak ingin ada kaderisasi bersama. Hasil polling terhadap massa HMIF menunjukkan bahwa 60% massa himpunan angkatan 2005 ke atas menolak adanya kaderisasi bersama kembali. Keadaan menjadi 50-50 karena justru 60% 2006 ingin melakukan kaderisasi bersama kembali.

Namun, setelah melakukan list terhadap positif-negatif kaderisasi bersama, akhirnya DE HMIF memutuskan untuk sepakat melakukan kaderisasi bersama. Faktor terbesar yang menjadi poin tambah kaderisasi bersama adalah kecepatan 2007 berinteraksi dengan himpunan. Dikhawatirkan jika 2007 dibiarkan terlalu lama, maka akan terbentuk mind-set study oriented atau game oriented.

Namun, HMIF sendiri mengajukan syarat untuk kaderisasi ini:

  1. Kaderisasi didefinisikan bersama, yang akan disampaikan adalah hal-hal yang dirasa sama baik di HME maupun HMIF
  2. Panitia harus satu kesatuan, satu budaya dan satu tujuan. Jangan ada jaket himpunan, simbol himpunan, atau budaya yang berkaitan dengan himpunan.
  3. Jangan legowo, segala sesuatu jangan disimpan dalam hati, utarakan jika ada masalah sehingga terjadi saling pengertian.

Sepakat Jalan Bersama, Pembentukan Profil Kader Ideal

Setelah kedua himpunan sepakat untuk melaksanakan kaderisasi bersama, maka akhirnya tim formatur pun bekerja untuk membentuk capaian kaderisasi. Setelah melalui berbagai rapat, dan hearing dengan massa kedua himpunan, akhirnya terbentuklah guideline kaderisasi STEI 2007, yaitu 9 Profil Kader Ideal Kaderisasi STEI 2007:

  1. Memiliki konsep diri sebagai Makhluk Tuhan
  2. Manusia Pembelajar
  3. Memiliki kepedulian kepada lingkungan sekitar
  4. Memiliki komitmen untuk berkontribusi kepada bangsa
  5. Mengenal dunia EL dan IF
  6. Memiliki visi misi sebagai mahasiswa
  7. Mengenal lingkungan kampus
  8. Memiliki kemampuan manajerial diri dan organisasi
  9. Memiliki sikap yang kreatif dan inovatif

Perbedaan yang mungkin mencolok dari kaderisasi-kaderisasi biasanya adalah dihilangkannya kebersamaan dari materi dan diganti dengan kepedulian. Alasannya adalah karena sadar bahwa STEI 2007 suatu saat akan berpisah menjadi IF2007 dan EL2007 dan tidak “bersama” lagi. Jadi, yang harus ditanamkan adalah “kepedulian” yaitu siapapun orangnya asalkan kita tahu dia mengalami kesulitan atau masalah, kita wajib membantunya.

Namun, dalam sebuah rapat Teh Mira pernah mengatakan :

“Satu hal yang saya sadari sejak bersama tim formatur adalah kebersamaan akan menjadi semu apabila kebersamaan itu ada karena berada di tempat yang sama. Tapi, kebersamaan yang hakiki adalah kebersamaan yang terbentuk karena tujuan dan keinginan yang sama dan masing-masing berusaha untuk menggapai tujuan dan keinginan bersama tersebut.” 😎

Terpilihlah Kak Syarief sebagai Ketua

Langkah pun berlanjut dengan pemilihan ketua. Empat orang mendaftarkan diri sebagai calon ketua, yaitu Kak Syarief (EL 05), Ivan Pradana Harka (IF 06) – bukan Ivan saya😛, Difa (IF 06), dan Nadhira (IF 06). Namun, Nadhira mengundurkan diri saat itu karena ada masalah keluarga. Diadakan 2 kali hearing calon ketua dan akhirnya, diadakanlah rapat penentuan ketua yang dihadiri oleh 6 orang tim formatur, 2 Ketua Himpunan (Kak Iqbal HMIF dan Kak Dolly HME), dan 2 Kadiv PSDA (Kak Nanto HMIF dan Kak Aulia HME).

Terlihat perbedaan mendasar dari 3 orang tersebut. Ivan yang tampak sangat menguasai kegiatan lapangan, Difa yang merangkul panitia 2006 lain, dan Kak Syarief yang mengusung kaderisasi dengan frame baru. Terpilihlah Kak Syarief sebagai ketua kaderisasi STEI 2007. Alasan terpilihnya Kak Syarief saat itu adalah diharapkan dengan kedudukan dia sebagai angkatan 2005 dapat diterima oleh kedua belah massa himpunan dan harapan akan frame baru tentang kaderisasi yang akan memberikan metode-metode baru sesuai dengan frame kader adalah manusia dewasa.

Akhirnya, beberapa di akhir semester ganjil 2007/2008, terbentuklah PLO. Struktur PLO sendiri, yaitu Ketua: Aditya Syarief, Wakil Ketua : Difa Kusumadiani, Koor. Materi : Ikhsan Sigma, Koor. Acara : Nadhira Ayuningtyas, Koor. Lapangan : Ivan Pradana, Koor. Non-Lapangan : Ricky Sihombing. Koor. Motivator : Haryo, Koor, P3K : Obbie

Konsep Kak Syarief

“Dalam konsep yang saya bawa, saya akan mengebiri peran danlap”

Kalimat di atas merupakan janji Kak Syarief saat hearing. Konsep yang dibawa Kak Syarief adalah konsep pendidikan manusia dewasa. Berbeda dengan kaderisasi-kaderisasi dahulu, yang peserta dianggap sebagai seseorang yang tidak tahu yang harus diberikan materi agar tahu, konsep kaderisasi Kak Syarief mengedepankan pendidikan manusia dewasa. Materi diberikan dengan cara lingkar wacana itupun bukan doktrinisasi.

Kegiatan lapangan sendiri berusaha diminimalisir oleh Kak Syarief. Peran danlap dikebiri dikarenakan, menurutnya, banyak danlap yang tidak memiliki integritas ketika berorasi. Selain itu, kegiatan lapangan sangat berpotensi memunculkan kegiatan marah-marah yang akhirnya menganggap bahwa peserta adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Tim Materi PLO

Di PLO, saya tergabung dengan divisi materi (terkadang dipanggil tim materi). Inginnya masuk motivator, tapi mengingat supaya ada kesinambungan antara profil kader dan materi, akhirnya saya bergabung dengan tim materi. Tim Materi PLO beranggotakan Sigma (koordinator), Bintang (EL 06), Arnauld (EL 06), Frida (EL 06), Restya (IF 06), Azwar (IF 06), dan tidak lain dan tidak bukan, tentunya, seperti telah saya tulis sebelumnya, di kalimat pertama, saya sendiri😳 .

Di awal, kami menyusun materi berdasarkan 9 Profil. Dari mulai tujuan hingga akhirnya terbentuk alur kaderisasi. Setelah itu, mulai merencanakan tentang raport para peserta. PLO mencoba menganut sebuah sistem nilai baru, yaitu dengan REPLI (Respon, Emosi, Psikomotorik, Logika dan Integritas). Di sistem ini, nantinya peserta tidak hanya dinilai dari nilai tugas, tetapi juga dari aspek-aspek ketika lingkar wacana dan diskusi. Idealnya, ketika lingkar wacana, para motivator akan mengamati para peserta sementara mentor menyampaikan materi.

9-10 Februari 2008 – Leadership Orientation and Softskill Training (LOST) : TFT Materi untuk Calon Panitia

Awal semester genap 2007/2008 ditandai dengan diadakannya TFT Materi. Bertempat di ruang multimedia TVST B, diadakan LOST. LOST diadakan oleh 6 orang tim formatur ditambah Kak Syarief, Kak Adin, Kak Nanto (IF 05), Kak Aulia (EL 05), Anto (IF 06), Restya, Kiki (EL 06), Roffi (EL 06), dan Satria (EL 06) dengan Ketua Teh Mira. Panitia yang hanya sedikit orang ternyata dapat membuat sebuah pelatihan yang bahkan ternyata pada akhirnya secara kualitas pembicara dan teknis jauh lebih baik daripada seminar di acara PLO sendiri.

LOST menghadirkan pembicara Pak Rama Royani (pakar talent mapping, dosen luar biasa FT ITB), Pak Dindin Sjafruddin (trainer Muhammad Group), Kak Ronny (IF’02, mantan Ketua Divisi Internal HMIF dan danlap kaderisasi), Eko Prasetyo (penulis buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah”), M Fadjroel Rachman (aktivis kenegaraan, sekarang diberitakan menjadi capres independen), dan Tim Psikolog ITB.

TFT ini merupakan syarat wajib agar seseorang dapat menjadi panitia PLO. TFT ini juga sempat membuat sebuah dongeng sebelum tidur baru, yang berjudul “Gadis Pembawa Nampan”😀

Bergeraknya Panitia, Harapan Besar untuk Sebuah Kaderisasi

Dimulai dari libur semester ganjil 2007/2008, tim materi pun mulai menyusun materi. Di bawah arahan 9 profil kader, terbentuklah alur dan rancangan materi. Dari materi yang telah dibuat, diserahkan kepada tim acara untuk dibuat acara-acara yang akan dilakukan. Terbentuklah rancangan acara PLO.

Di sisi lain, para motivator pun giat berlatih untuk menjadi motivator yang baik. Tak kurang dari 2 pelatihan motivator diadakan agar mereka dapat berkomunikasi dengan baik dengan peserta. Selain itu, dikumpulkan para aktivis himpunan dari angkatan 2005 ke atas untuk menjadi mentor kaderisasi. Diharapkan dengan pengalaman mereka, mereka dapat memberikan banyak materi kepada peserta. Di bagian non-lapangan pun demikian, majalah dinding dibuat agar ada komunikasi dengan pihak massa himpunan.

Peserta mulai dikumpulkan di awal semeseter genap 2007/2008. Di sana, mereka mendapat tes awal dan tes personality plus untuk pembagian kelompok. Sebuah harapan besar untuk PLO. Sebuah harapan besar untuk kader HME dan HMIF selanjutnya.

Perizinan, Akar dari Semua Permasalahan yang Akan Datang

Perizinan, inilah cikal bakal semua masalah yang akan terjadi di PLO. Perkara dimulai ketika proposal yang diajukan panitia terbentur di Bapak Nanang (koordinator kemahasiswaan Prodi Elektro). Diawali dengan alasan, “Mengapa materinya sangat banyak? Nanti waktu anak-anak untuk belajar terganggu. Mengapa masih saja ada materi kepemimpinan? Bukankah hanya beberapa orang saja yang perlu jadi pemimpin.”. Lobi-lobi terus dilakukan namun tetap saja izin tidak keluar. Malah, keluar pernyataan, “Dengan kaderisasi maka kita tidak menghormati hak asasi manusia.” (emangnya kami mau ngapain,pak?😡 ) . Frame lama tentang kaderisasi yang keras ternyata masih kental di pikiran bapak-bapak di Elektro. Seberusahabagaimanapun lobi dilakukan, hasilnya tetap nihil.

Hari Pertama PLO (13 April 2008) : Sebuah Awal yang Sederhana

Di tengah keadaan PLO yang belum diizinkan, panitia memaksakan ada sebuah acara pada 13 April 2008 di selasar GKU timur. Dengan alasan, 2007 sudah diberitahu bahwa akan diadakan acara PLO. Acara sendiri akhirnya berupa acara sederhana pembagian kelompok, pengenalan motivator, games bola pingpong, dan diakhiri dari wejangan Kak Syarief.
Tidak ada sebuah acara seremonial, tidak ada orasi dari ketua ataupun kahim, tidak ada massa himpunan. Semua itu dilakukan karena fakultas belum mengizinkan PLO namun ada lampu hijau jika tidak melibatkan massa yang besar. Maka acara dibuat per kelompok dan kebanyakan diisi sesi lingkar wacana oleh motivator dan games kelompok.

Hari Kedua PLO (19-20 April 2008) : Agama, kenapa tidak?

“yak tdi gw mrasa masuk pesantren.. bner2 mau kabur tdi gw..”

Petikan di atas adalah salah satu comment di friendster stei 2007 menanggapi hari kedua PLO. Ada juga “ko PLO pake dipisah2in pake agama sih?? ga seru nih!”. Hari kedua PLO, diawali dengan sesi lingkar wacana tentang konsep diri dari motivator dan mentor (akan ada cerita khusus dari bagian ini di bagian selanjutnya). Acara selanjutnya dilanjutkan oleh pembagian per agama untuk selanjutnya acara diserahkan ke masing-masing unit keagamaan. Acara 2 hari itu berisikan konsep diri sesuai dengan agama.

Beberapa orang menganggap bahwa kaderisasi umum tidak perlu memasukkan kegiatan agama di dalamnya. Tapi satu hal yang disadari oleh tim formatur dan tim materi PLO saat itu, sebuah konsep diri haruslah berpatokan dengan agama masing-masing. Tidak ada yang bisa mengikat seseorang selain agamanya sendiri. Hanya agama yang bisa membuat orang bangun jam 3 untuk sahur. Hanya agama yang bisa membuat orang tidak berbicara selama 1 hari. Agamalah yang bisa jadi patokan seseorang untuk berbuat baik.

Dimana mentor? : Loyalitas yang Dipertanyakan

Berawal dari konsep Kak Syarief yang lebih mengedepankan lingkar wacana, dicarilah para mentor untuk lingkar wacana. Mentor ini merupakan angkatan 2005 ke atas yang bertugas menyampaikan materi PLO. Dipilih angkatan 2005 ke atas karena mereka lebih berpengalaman. Namun, ternyata hal itu menjadi sebuah masalah di PLO ini. Pada hari kedua, dimana saat mentor dibutuhkan lingkar wacana, dari 30 mentor yang dibutuhkan, hanya 5 orang mentor yang datang.

Satu jam sebelum mentor bertugas, harusnya diadakan briefing di selasar dingdong. Restya dan saya mendapat tugas menunggu di sana. Namun, sampai kami berlumut (agak hiperbolis sebenarnya😀 ), sampai 15 menit lagi sebelum mentor bertugas, baru 5 orang yang datang dan tidak ada tanda-tanda akan bertambah😥 . Kami pun panik. Akhirnya, para motivator pun dipanggil untuk dibriefing menggantikan para mentor. Pada saat briefing, para motivator menolak karena merasa tidak sanggup menyampaikan materi. Sempat terjadi kebingungan karena 5 mentor yang hadir pun tidak siap jika harus menyampaikan materi dengan jumlah peserta banyak. Beruntung akhirnya motivator menyanggupi untuk mengganti setelah Ega dan Risa menyemangati para motivator yang lain.

Sejak saat itu, kami (tim materi) mulai mempertanyakan loyalitas para mentor. Meskipun setelah hari itu, kami masih me-ngejar2 para mentor, toh akhirnya tidak lebih dari 15 mentor yang bertahan. Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, terpaksa para motivator yang memberikan materi PLO. Meskipun, banyak yang mengeluh karena merasa belum siap menyampaikan materi.

Masa Suram Dimulai : Tidak Ada Kejelasan, Pembuatan Plan A-Z, Hilangnya Panitia, Pengunduran Diri Beberapa Panitia

Setelah 2 hari acara keagamaan, sembari menunggu izin dari pihak STEI, PLO ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Peserta diberikan beberapa tugas agar tertanam bahwa PLO masih ada. Pihak Kak Syarief dan Tim Acara terus berusaha melobi-lobi pihak STEI agar diizinkan, namun bukannya menemui titik terang, pihak STEI malah hanya memberikan izin 3 hari untuk PLO, itupun setelah selesai masa UAS, yaitu bulan Juni. Tim Acara yang sudah menghubungi pihak pembicara untuk mengisi beberapa pertemuan yang dirancang sebelumnya, terpaksa harus membatalkan beberapa pembicara. Akhirnya mereka membuat plan-plan untuk PLO. Ada plan dimana untuk acara 2 minggu dan plan untuk acara 1 minggu. Namun, tetap saja, proposal ditolak!😡

Kesalahan terbesar Kak Syarief, menurut saya, pada saat itu adalah membiarkan kepanitiaan simpang siur lebih dari 1 bulan. Tidak ada rapat dan penjelasan lebih lanjut dari Kak Syarief kepada panitia tentang kejelasan PLO. Hal ini diperparah karena, menurut beberapa koordiv, Kak Syarief pun hanya sedikit berkomunikasi dengan para koordinator divisi. Akhirnya, panitia pun banyak yang kehilangan komitmen dan loyalitas terhadap PLO sehingga ketika dikumpulkan kembali, hanya sedikit panitia yang tersisa.

Di sisi lain, pihak STEI hanya memberikan tambahan 1 hari, sehingga mereka hanya mengizinkan 4 hari kegiatan PLO, itupun harus ada 1 hari yang melibatkan dosen. Merasa kecewa dengan keadaan, akhirnya banyak panitia terutama dari divisi acara yang akhirnya mengundurkan diri dari kepanitiaan. Kebanyakan dari mereka kecewa karena rencana-rencana mereka ditolak oleh STEI ditambah izin pun tidak kunjung diberikan oleh STEI.

Rapat Ketua PLO, Tim Formatur, HME, dan HMIF : Apakah kita Sudahi PLO ini?

Tanggal 26 Mei 2008, akhirnya diadakan rapat penentuan tentang nasib PLO di pinggir Lab. Basis Data Labtek V. Rapat dihadiri oleh Kak Nanto (udah jadi ketua HMIF), saya (udah jadi Kadiv PSDA HMIF😀 ), Kak Dolly (Ketua HME), Kak Aulia (Menteri Karakter HME), Kak Aji, dan Teh Mira (keduanya mewakili tim formatur PLO).

Di awal, Kak Syarief memaparkan bahwa tampaknya sudah tidak mungkin melobi pihak STEI. Sebaik-baiknya rencana adalah mengadakan PLO selama 5 hari, 31 Mei-5 Juni, dengan menambahkan acara-acara yang melibatkan dosen di sana. Tidak mungkin mengejar semua materi untuk disampaikan.

Sempat kepikiran untuk membubarkan PLO. Apa sih yang bisa dilakukan hanya 5 hari yang itupun diatur oleh STEI? Bukankah kaderisasi bisa ditunda di saat 2007 memasuki tahun kedua saat mereka sudah mendapat program studi masing-masing. Namun, beberapa pertimbangan akhirnya yang membuat kami sepakat untuk melanjutkan PLO, yaitu:

  1. Menyelesaikan apa yang telah dimulai.
  2. Memberikan penghargaan kepada 2007 yang telah mengerjakan tugas-tugas dengan penuh semangat.
  3. Pembuktian bahwa HME-HMIF bisa mengikuti perintah STEI. Hal ini bisa menjadi “investasi” untuk tahun-tahun selanjutnya jika akan melaksanakan kaderisasi bersama kembali.

Mengumpulkan Panitia-Panitia yang Tersisa

Dua hari kemudian, di amphi arsi, panitia dikumpulkan. Terlihat pengurangan yang berarti dari jumlah panitia. Di awal, sempat terdapat 50-60an lebih panitia, namun saat itu hanya sekitar 20-30an orang yang datang. Saat itu ditanya, apakah kami siap melanjutkan PLO? Jika siap, silahkan dalam 2 hari kumpulkan surat kontrak panitia.

Jum’at 30 Mei 2008, Perizinan Belum Keluar juga!

(Sebelumnya maaf, untuk bagian ini, ga ngalamin langsung. Setelah malamnya begadang menyelesaikan tubes OOP, besoknya ada deadline tugas calon asisten basis data [untungnya keterima😀 ]. Dari IF 2006 sendiri menurut sebuah sumber hanya datang Restya, Adi, dan Ivan P, sisanya kemungkinan besar tepar setelah begadang semalaman😛 )

Peserta sudah diberitahu bahwa Sabtu, 31 Mei 2008 akan diadakan PLO. Tapi, Jum’at malam, panitia dikumpulkan. Kak Syarief mengatakan bahwa izin kembali tidak keluar. Izin hanya keluar untuk tanggal 2-5 Juni. Dia mengatakan tidak menjamin bahwa acara besok bisa dilaksanakan.

Di tengah ketidakpastian, akhirnya panitia, dimotori Ivan Pradana (bukan Ivan saya😛 ), Sigma, dan Sakur, memutuskan untuk tetap akan mengadakan PLO hari Sabtu. Dirancanglah acara hari Sabtu, yang intinya menyampaikan bahwa mereka telah melewati beberapa tahapan selama satu tahun di ITB dan sekarang mereka akan mengalami tahapan selanjutnya. Selain itu, acara pun dirancang sebagai pembukaan resmi PLO. Acara direncanakan diadakan di Babakan Siliwangi agar tidak ada gangguan dari pihak kampus yang sedang mengadakan USM.

Sabtu 31 Mei 2008, Acara Bayangan dan Pembukaan Resmi PLO

(Saya sendiri masih sibuk dengat wawancara dan presentasi calon asisten Lab Basis Data sehingga datang telat)

Akhirnya, hari Sabtu, 31 Mei 2008, diadakanlah pembukaan resmi PLO. Acara diawali dengan pembagian kelompok yang selanjutnya akan dikirim ke pos-pos. Pos-pos ini sendiri lain dari biasanya. Biasanya, dalam sebuah pelatihan, tiap pos akan memiliki materi tetap yang berbeda dengan pos lainnya. Namun, di pos-pos kali ini, justru tiap pos berubah materi sesuai sesi. Sesi-sesi ini menggambarkan kehidupan mahasiswa di tahun pertama. Sesi belajar – disimulasikan dengan merangkum buku dan mengerjakan soal-soal kalkulus, dll, sesi istirahat – digambarkan dengan memejamkan mata dan mensimulasikan istirahat, sesi istirahat (benar-benar istirahat), sesi mencoba hal yang baru – disimulasikan dengan orasi (akan dibahas di bagian selanjutnya), dan terakhir sesi tantangan – disimulasikan dengan simulasi menara loncat.

Acara diakhiri dengan pembukaan PLO yang berisi pembacaan puisi dari kedua kahim, dan orasi dari ketua PLO. Di bawah cuaca yang mendung, di jembatan babakan Siliwangi menghadap ke pemukiman-pemukiman padat penduduk, akhirnya dibukalah secara resmi PLO STEI 2008.

“Lihat ke pemukiman di depan sana, bandingkan dengan megahnya Labtek V dan VIII”
(petikan orasi Kak Syarief)

Sesi Orasi – dari kenaikan BBM, uban, Steve Immanuel masuk Islam, hingga Undang-Undang

Bagian yang bagi saya menarik di acara pos-posan di pembukaan PLO adalah sesi orasi. Peserta akan diberikan sebuah tema, dan secara cepat dia harus memberikan orasi tentang tema tersebut. Saya sendiri yang tidak kebagian menjaga pos karena datang telat, akhirnya sempat jalan-jalan ke beberapa pos dan melihat beberapa adegan menarik.

Di pos Sakur, Restya, dkk., sesi orasi dimulai dengan membahas topik kenaikan BBM. Si peserta akhirnya membahas bagaimana ketika BBM dinaikkan, rakyat menderita.

“… Oleh karena itu, marilah kita turun ke jalan. Kita buktikan bahwa mahasiswa ada di pihak rakyat.”

Nah, begitu berjalan ke pos Teja, Nur, Adi, Andru, dkk., ternyata topik yang dibahas berbeda. Pos saat itu dipegang oleh Teja. Teja sendiri memberikan topik-topik yang unik. Kepada salah seorang perserta dia berkata: “OK, karena kamu ber-uban (rambut putih di kepala), sekarang topik kamu adalah tentang uban.😀 “. Dan kepada salah seorang peserta, ia memberikan topik “Steve Immanuel masuk Islam”. Sontak si peserta kaget😯 , karena meskipun topik itu sedang hangat saat itu, tetapi untuk sebuah orasi, topik tersebut sangatlah sulit. Akhirnya, mungkin karena ia tidak tahu harus bicara apa, akhirnya ia berbicara:

“Teman-teman, masuknya Steve Immanuel ke Islam, merupakan bukti bahwa Islam adalah agama yang dapat diterima oleh semua orang. Agama Islam, seperti yang telah terbukti di zaman Nabi, merupakan agama yang dapat diterima dengan mudah oleh orang-orang kafir. Hal ini membuktikan bahwa Islam sesuai dengan hati nurani manusia.”

Beruntunglah orasi tersebut akhirnya di-cut karena jika dilanjutkan mungkin orasi akan berubah menjadi ceramah Islamisasi peserta PLO.🙂

Pos terakhir yang saya kunjungi ketika sesi orasi adalah pos Frida, Ega, dkk. Di pos ini, seorang peserta sedang berorasi tentang masyarakat Indonesia yang tidak berkelakuan sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. Ia mengkritisi orang-orang yang tidak hafal pembukaan UUD 1945. Namun, ketika saya balik Tanya apakah dia hafal, dia menjawab “Tidak, Kak…”😦 .

Senin, 2 Juni 2008 : PLO Resmi Hari Pertama, Seharga 1,25 juta

PLO hari ini direncanakan diawali dengan acara senam bersama dosen di Sabuga. Namun, ternyata tidak ada 1 dosen pun yang memenuhi undangan. Beruntung, karena ternyata STEI 2007 telat hampir 45 menit karena mereka membagi-bagi tugas buku angkatan terlebih dahulu. Panitia pun cukup kesal dengan ketelatan ini karena panitia sendiri telah hadir sejak pukul 5 pagi di Sabuga atau 1 jam sebelum acara.

Acara dimulai dengan meminta peserta untuk membuat gaya senam sesuai dengan musik yang diberikan. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan sesi motivatoring bersama para motivator. Sesi motivatoring selesai, peserta dimobilisasi ke selasar geodesi untuk menonton film “October Sky” sampai istirahat makan siang.

Setelah break makan siang, diadakan sesi materi dari Bunda Marwah Daud Ibrahim (anggota DPR Fraksi Kebangkitan Bangsa). Materi yang diberikan adalah MHMMD (Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan), berisikan materi dari buku berjudul sama karangan beliau, berintikan tentang manajemen diri.

Mungkin peserta merasa terpuaskan dengan materi ini. Memang materi disampaikan dengan berbagai metode tidak biasa, seperti menyanyi dan menonton film. Namun, di lain pihak panitia mengalami masalah di belakang layar. Yang pertama adalah protokoler Bunda Marwah yang sempat memarahi panitia karena tempat yang diberikan adalah outdoor, padahal dijanjikan indoor (gimana bisa pinjam dalam ruangan, izin acara saja baru diberikan H-1😦 ). Yang kedua adalah ternyata, biaya mengundang Bunda Marwah di luar ekspektasi panitia. Ternyata, begitu mereka datang, panitia diberikan tagihan Rp. 1.250.000,00😯 . Padahal, Niko Robbel (EL 06) sebagai penanggung jawab pengundang Bunda Marwah tidak diberi tahu ketika membuat perjanjian. So, seperti biasa, kami hanya menyiapkan uang transport, kenang-kenangan, dan makan siang (standar jika mahasiswa mengundang pembicara). Sontak, Niko panik menghubungi 2 kahim untuk meminta uang tambahan PLO. Beruntung kedua himpunan memberikan masing-masing 500 ribu rupiah dan dana tambahan dari PLO sebesar 250 ribu rupiah.

PLO hari kedua ditutup oleh pemberian tugas cerpen sebagai hukuman karena keterlambatan peserta di pagi hari untuk dikumpulkan Rabu.

Company Visit HMIF, berkurangnya panitia di hari Selasa dan Rabu

“Van, maaf, ya, ada Company Visit bentrok dengan PLO”

Wisnu Adityo (Cuz), Kadiv Hubungan Luar HMIF, meminta izin waktu itu ketika HMIF mengadakan Company Visit (kunjungan himpunan ke beberapa perusahaan) pada tanggal 3-4 Juni 2008. Tapi apa daya, memang PLO sendiri yang melanggar agenda yang telah ditetapkan (waktu sebelum ada masalah, PLO direncanakan selesai awal Mei). Akhirnya, Comvis mengurangi jumlah panitia yang berasal dari HMIF. Hanya beberapa orang, sekitar 8-10 orang, yang tersisa (termasuk saya, padahal ingin banget ikut comvis😦 ).

Beberapa hari sebelumnya, saya ditelepon secara langsung oleh Kak Iqbal. Isinya mempertanyakan bentrok kedua acara tersebut dan loyalitas HMIF terhadap PLO. Dia takut ada kesan dari HME bahwa HMIF tidak serius mengerjakan PLO. Out of Topic, waktu itu sempat terkejut ditelepon Kak Iqbal. Saat itu kali pertama Kak Iqbal menelepon saya secara langsung. Meskipun udah ga jadi kahim, tetap saja ada perasaan takut saat nerima telepon itu😀.

Waktu itu saya hanya bisa berharap semoga orang-orang yang tersisa dari HMIF bisa bekerja maksimal sehingga berkurangnya panitia tidak mengganggu PLO.

Selasa, 3 Juni 2008 : PLO Resmi Hari Kedua, Kunjugan ke Masyarakat

Diawali dengan sesi lingkar wacana, PLO hari kedua dilanjutkan dengan kunjungan ke masyarakat kumuh untuk wawancara. Hari sebelumnya, peserta diminta memakai baju paling bagus yang mereka punya pada hari ini. Tujuannya agar peserta merasa miris ketika terjun ke lingkungan masyarakat kumuh dan akhirnya timbullah sense of crisis. Tapi sayangnya saya nggak sempet merhatiin ada yang pake gaun pesta atau tidak😛 .

Peserta disebar ke berbagai pos, Cisitu, Kebon Bibit, dll. Saya sendiri mendapat tugas mengawal peserta ke Kebon Bibit bersama Nana, dkk.. Per kelompok diminta wawancara 3 keluarga untuk hasilnya dibahas di sesi lingkar wacana pada siangnya .

Rabu, 4 Juni 1988 : PLO Resmi Hari kedua, Studium Generale

Diawali dengan sesi lingkar wacana kembali, PLO hari ketiga dilanjutkan dengan Studium Generale. Studium Generale dilaksanakan di 9232 dan dibagi 3 sesi. Sesi pertama merupakan sesi Realita Bangsa, membahas tentang kenaikan BBM oleh seorang Mas Agus (TK’02). Sesi kedua adalah sesi kepemimpinan, oleh seorang alumni Teknik Elektro angkatan 97 (lupa namanya😦 ). Sesi terakhir adalah sesi pengenalan prodi IF-EL oleh Pak Adang (Dekan STEI), dan jajaran petinggi STEI lainnya.

Sebelum sesi kedua dimulai, sempat tim materi membahas beberapa masalah kecurangan yang ditemukan dalam tugas cerpen sebelumnya.

Tugas Cerpen : Akhirnya berubah menjadi materi kejujuran

“Kalau dulu sih kami langsung push-up”

Begitu kata-kata Kak Lafrania Taufik (IF 04), salah satu mentor, saat diminta saran tentang hukuman atas ketelatan peserta saat Senin pagi. Waktu itu, di sela-sela materi MHMMD di selasar Geodesi, saya, Frida, Restya, Arnauld, dan Bintang sempat bingung apa hukuman yang akan diberikan peserta atas ketelatan tadi pagi. Frida yang tampak sangat kesal dengan ketelatan tersebut, akhirnya mengusulkan agar peserta diberikan tugas essay tentang kedisiplinan.

“Beneran, Van, nanti saya baca satu-satu essaynya.”

Tapi, setelah menimbang usulan Bintang bahwa nantinya tim materi akan bosan memeriksa essay, akhirnya diputuskan untuk memberikan tugas cerpen tentang kedisiplinan. Saya yang mendapat tugas mengumumkan spek-nya pada hari Senin sore. Speknya sendiri adalah membuat tugas cerpen tentang kedisiplinan. Font times new roman 10, spasi 1, margin 2, 2, 2, dan 2, minimal 1 halaman, nama dan nim pada header. Cerpen harus mengandung unsur seorang tokoh yang disiplin, manfaat dari disiplin, dan efek dari tidak disiplin.

Spek sendiri akhirnya bertambah karena ada yang bertanya apakah boleh ditulis tangan. Ketika saya bilang boleh, tampak raut wajah tersenyum dari para peserta dan kesal dari tim materi. Akhirnya saya menambahkan spek, jika dituilis tangan, minimal 2 halaman. Akhirnya raut muka berumah menjadi senyum dari panitia dan raut kesal dari peserta. Ditambah ucapan “Bagus, Van. Kamu nyebelin…” dari panitia lain👿 .

Pada Rabu siang, ketika cerpen telah dikumpulkan, tim materi iseng melihat cerpen-cerpen hasil para peserta. Namun, secara tidak sengaja akhirnya ditemukan beberapa peserta yang melakukan kecurangan. Ada yang memperbesar margin, spasi, dan font untuk mempersingkat cerpen. Tapi, yang membuat kesal adalah ternyata ada beberapa cerpen yang terbukti merupakan plagiat. Ada sebuah cerpen yang merupakan plagiat dari sebuah majalah dan untungnya ada tim materi yang pernah membacanya.

Kecurangan yang paling fenomenal ditemukan adalah, berkat kejelian Restya, ditemukan dua buah cerpen yang memiliki potongan cerita yang sama, padahal jumlah halamannya pun berbeda. Akhirnya, kami bahas di sela-sela sesi Studium Generale Rabu itu. Akhirnya, ketahuan bahwa kedua orang itu (padahal tidak saling kenal) mengambil cerpen tersebut dari sebuah majalah. Tim materi akhirnya meminta orang-orang yang bermasalah mengumpulkan kembali cerpen baru mereka pada hari Kamis.

Kamis, 5 Juni 2008 : PLO Resmi Hari Terakhir, Akhirnya berakhir sudah

Lingkar wacana pagi hari terakhir diisi dengan penarikan visi dan misi diri peserta selama di kampus oleh para mentor dan motivator. Setelah itu, peserta diberikan istirahat selama 1 jam untuk mempersiapkan sebuah penampilan peserta untuk panitia.

Penampilan sendiri dilakukan per dua kelompok. Peserta diberikan kebebasan untuk menampilkan sesuatu selama 8 menit dengan tema Indonesia. Ada yang menyanyi, drama, orasi, dll. Penampilan dilakukan di amphi GKU Barat

Ketika peserta melakukan penampilan, di sisi lain bank niaga, saya, Ivan P, dan Kak Nanto, sedang sibuk berdiskusi tentang rangkaian penutupan. Jadi, penutupan yang akan dilangsungkan beberapa jam sejak saat itu, belum dikonsep sama sekali. Hal ini tidak terlepas dari sakitnya Totz yang diberi tugas mengonsep acara penutupan. Dalam waktu singkat saya dan Kak Nanto memberi saran kepada Ivan P tentang acara penutupan.

Penampilan kelompok para peserta dilanjutkan dengan penganugerahan beberapa awards dari peserta kepada panitia. Ada tercakep (dimenangkan Kak Syarief, katanya sih gara-gara kharismatik😀 ), tercantik (Nana), teraniaya (entah kenapa saya😕 ), dan tercouple (Rivo dan nana). Setelah itu para peserta menyanyikan lagu “kisah klasik”nya SO7. Acara penampilan ditutup dengan pengumuman tentang kaderisasi HME dan HMIF selanjutnya.

Setelah penampilan selesai, peserta diberi istirahat sholat Ashar dan dikumpulkan kembali di GKU Timur. Di sini, Sigma memberikan hadiah kepada para peserta berupa stiker tentang deskripsi kelompok masing-masing. Dulu, Sigma pernah menjanjikan akan memberikan hadiah kepada kelompok terbaik. Tapi, beberapa jam (lagi) sebelum penutupan, akhirnya terpikir untuk memberikan hadiah kepada semua kelompok dengan esensi bahwa tiap kelompok adalah unik dan terbaik di kategori masing-masing.

Dari GKU Timur, peserta dimobilisasi ke amphi arsi. Diiringi rintik-rintik gerimisnya hujan, acara penutupan diawali dari orasi Kak Nanto, Kak Dolly, dan Kak Syarief. Setelah itu, peserta diminta memberikan salam ganesha ke 4 penjuru dan memejamkan mata. Beriringan dengan salam ganesha itu, panitia maju ke hadapan peserta dan akhirnya selesai peserta salam ganesha, panitia telah berada di hadapan peserta dan mengumandangkan salam ganesha. Barisan panitia disusun sehingga jaket HMIF dan HME (khusus penutupan boleh memakai atribut himpunan) saling bersilangan di sekeliling kedua kahim dan Kak Syarief.

Gerimis sempat mereda ketika peserta dan panitia sama-sama menyanyikan lagu “Mentari” diiringi aksi semprot api dari kedua sisi panggung. Sebuah penutupan yang syahdu dan khidmat untuk akhir PLO (hari itu kali kedua saya menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu Mentari 😥 [dikit nangisnya… ga banyak2. Ntar dibilang cengeng😛 ]).

Arti dari PLO

Banyak yang tidak puas terhadap PLO ini. Ya iya lah (masa ya iya dong, ntar bagai pinang dibelah dua jadi bagai pinang dibedong dua 🙂 ), kalau PLO dihitung-hitung hanya terlaksana selama 7 hari. Miris jika dibanding dengan persiapannya yang dimulai sejak STEI 2007 masuk ITB. Tapi, bagaimanapun menurut saya ada hal-hal penting yang terkandung dalam PLO :

  1. Pembuktian bahwa HME dan HMIF bisa bekerja sama

    Sejak bergabung dalam STEI, seperti kakak adik dalam keluarga, secara alamiah orang-orang akhirnya selalu membandingkan antara HME dan HMIF. Hal ini, menurut anggapan saya, akhirnya menimbulkan persaingan antara kedua himpunan (padahal dulu biasa-biasa aja). Akhirnya, anggapan saya kembali, terkadang persaingan itu berubah menjadi persaingan tidak sehat seperti saling merendahkan himpunan lain atau membangga-banggakan himpunan sendiri. Tapi, dengan PLO ini, terbukti bahwa HME dan HMIF bisa bekerja sama dengan baik membuat sebuah acara. Selain itu, bagi 2006, hal ini menjadi sebuah reuni kembali setelah dikader sebagai STEI 2006 tahun sebelumnya (terkenang massa-massa STFK dulu😀 )

  2. Pembuktian tekad yang kuat

    Terkadang, kita mudah menyerah apabila keinginan dihadang berbagai masalah. Contoh di kalangan mahasiswa adalah keinginan mendapat IP 4 terkadang surut begitu mengetahui harus banyak baca dan belajar😀 . Tapi, PLO ini merut saya merupakan pembuktian tekad untuk melaksanakan acara. Walaupun perizinan menghadang begitu hebatnya, di tengah prinsip tetap ingin mengadakan acara legal, akhirnya PLO bisa terlaksana dengan legal meskipun hanya beberapa hari. Di tengah sedikitnya panitia yang bertahan, acara-acara bisa tetap dilaksanakan meskipun akhirnya banyak yang serabutan dan kerja rodi (P3K yang tersisa 2 orang di 5 hari terakhir, logistik yang tersisa 5 orang, dll) . Semoga bisa menjadi pelecut untuk mendapat IP 4😛

Bagi saya sendiri, PLO punya arti sendiri karena kaderisasi 2007 merupakan proker pertama yang diberikan oleh HMIF.🙂

Penutup

Agak menyesal sebenarnya PLO tidak berjalan sesuai rencana karena perizinan. Padahal, PLO sendiri dipersiapkan secara serius oleh kedua himpuan. Dipersiapkan sejak September, PLO sendiri baru bisa dibilang mulai pada 31 Mei. Dari kaderisasi-kaderisasi yang pernah saya alami dan panitiai, PLO lah yang bisa dibilang memiliki persiapan paling lama dan serius. Bahkan, menurut kedua belah himpunan, baik MBC maupun SPARTA tidak dipersiapkan sedetail PLO. Sayangnya usaha-usaha panitia gagal karena masalah perizinan.

Satu lagi yang saya sayangkan adalah, konsep Kak Syarief beserta berbagai inovasi seperti REPLI yang belum sempat teraplikasikan sehingga belum bisa dinilai baik buruknya. Bahkan, akhirnya SPARTA dan MBC kembali memakai metode yang kemarin-kemarin yaitu memakai metode agitasi untuk beberapa hal. Hmm, kapan,ya, metode ini bisa dicoba? Mungkin benar kata Kak Iqbal : “Syarief itu, the Right Man, in the Wrong School” yang bisa diartikan Kak Syarief membawa metode bagus, tapi sayangnya berada di fakultas yang saat itu tidak mengizinkan kaderisasi.

Tapi bagaimanapun, saya tetap memberikan apresiasi yang tinggi kepada panitia PLO, atas kerja kerasnya, atas pemikiran-pemikirannya, atas tetes keringatnya, atau atas tetes darahnya (ada seseorang yang hari terakhir PLO masuk selokan amphi GKU😛 ). Semoga usahanya kali ini dianggap sebagai amal karena berusaha membuat STEI 2007 menjadi orang yang lebih baik ke depannya.🙂

Ucapan Maaf dan Terima Kasih

Setelah panjang lebar menulis tentang PLO, akhirnya teringat kembali akan jasa-jasa beberapa orang dan kesalahan terhadap beberapa orang. Jadi, di akhir tulisan ini mau ngucapin maaf dan terima kasih kepada :

  1. Kak Syarief yang sabar menghadapi Pak Nanang, Difa yang bisa merangkul panitia dan jadi tempat curhat yang baik, Ivan P yang benar-benar menguasai lapangan, Sigma (ada sesi khusus buat Sigma :)), Mami (capek dari tadi pake nama asli terus..😀 )dan tim acara yang udah kerja keras nyusun berbagai plan, Hombing yang dihari-hari terakhir jadi kuli bareng Okuli, dan semua panitia PLO, bendahara, sekretaris, logistik, acara, materi, motivator, P3K, staf lapangan, dan termasuk mentor yang udah kerja sama dan membuat sweet memory.
  2. Massa HME, makasih kerja samanya. Sekali lagi saya minta maaf pas Comvis HMIF mengurangi panitia PLO.
  3. Massa HMIF, dari zaman kepengurusan Kak Iqbal sampai dengan Kak Nanto yang udah ngedukung dan memberikan evaluasi pada PLO.
  4. Tim Formatur (Kak Ardha, Kak Ochal, kak Aji, Teh Mira, Totz) yang udah kerja sama selama dua semester tapi ga bosen-bosen😛.
  5. Khusus untuk Teh Mira (meskipun kayanya orangnya ga akan baca😦 ), makasih atas bimbingannya selama jadi PJ proker Kaderisasi STEI 2007. Maaf kalau nggak sesuai harapan kalo dikasih tugas.
  6. Khusus untuk Tim Materi:
    1. Sigma, yang udah jadi koordinator yang sabar pas mimpin rapat yang lama dan berlarut-larut (yang beberapa diantaranya kembali ke keputusan yang udah dibicarain di awal rapat😛 ). Maaf juga waktu itu ga ngingetin ada selokan di depan mata, jadinya Sigma jatuh ke selokan😀 .
    2. Frida, yang selalu mengaku tidak koleris padahal jelas-jelas koleris mutlak😀 .
    3. Bintang, temen ngebuli-buli Frida yang kadang dibuli-buli juga terkait masalah IP😀 .
    4. Arnauld, yang selalu ngebahas laki-laki ga bisa multitasking😀 .
    5. Azwar, yang udah ngebuat terobosan materi di bidang makhluk sosial. Makasih meskipun anggota muda mau aktif di kaderisasi.
    6. Restya, maaf waktu tanggal 3 Juni hampir lupa ngasih ucapan selamat ulang tahun😦 . Tapi, kayanya bakalan masih banyak maaf-maaf dan makasih-makasih selanjutnya di PSDA🙂 .
  7. Semua orang yang udah capek-capek baca tulisan ini. Akhir kata, semoga bermanfaat🙂.

(Akhirnya selesai juga tulisan ini… Fuih.. Dibuat dalam 5 hari loh…🙄 )

 
20 Comments

Posted by on October 4, 2008 in Organisasi

 

Tags: , , , ,

20 responses to “Menutup Semester IV : Profession and Leadership Orientation – Jalan Panjang untuk Kaderisasi STEI 2007

  1. nuRr..

    October 4, 2008 at 9:52 pm

    hiyaa.. puanjang banget van..
    itu dulu gue wawancaranya minta bukan si?? wehehe😛

    jadi inget lagi sama pos orasi tema aneh2.. hahahaa.. untung gue bukan di posisi peserta pas itu. trus gue inget yang waktu itu mukanya takut banget sama teja = andara bukan si?? hakhak.. yang kena topik steve immanuel siapa ya? jangan2 anak IF juga..

    wiih.. menarik.

     
  2. halidaaa

    October 4, 2008 at 10:16 pm

    wow.. postingannya lebih panjang dari PLO nya…😀

    saya sebagai anggota dedewanan stei 07 juga kesel ko perizinannya gak beres, padahal rapatnya udah tiap hari, haha.. tiap hari ada jarkom “dewan hari ini rapat jam 5 di tempat biasa” haha.

    biar PLO gak beres semua materinya tapi SPARTA sama MBC nya menutup kaderisasi dengan menyenangkan ko🙂 yang 5 hari itu juga seru2.. *pas hari ke2 ada kok yang pake kebaya :D*

    kita realisasikan PLO buat stei08 aja, hohoho.

     
  3. restya

    October 5, 2008 at 6:49 am

    Ivan…. ternyata benar2 teraniaya. Persiapan setahun hanya untuk PLO 4 hari…

    Sama2, byk maaf & makasi juga
    Btw, sebenernya aq nulis versi cerpennya PLO, versi dramatis:mrgreen:
    Cuman ngerasa jelek & g pantes dpublikasiin…

     
  4. bintang

    October 5, 2008 at 11:57 am

    oo pantesan km jadi formatur..

    hmm di bbrp bagian yg km tulis ini masih dominan bgt cerita hmif nya,,y emg km ngeliatnya dari sudut pandang km sih,, mungkin bisa minta tots ato ochal ato arda cerita juga?

    oiya waktu itu restya ulang taun, pas kunjungan ke masyarakat😀

     
  5. dwinanto

    October 5, 2008 at 8:50 pm

    Weqs, apaan nih, Van,.
    Bukan bentuk kekesalan karena ada orang yang menjerumuskan dirimu ke dalam dunia kaderisasi dan sejenisnya kan,.😀
    Oiya, jangan lupa yang pesenan buku kaderisasi waktu itu,.🙂

     
  6. raizamn

    October 6, 2008 at 6:06 am

    Hello, nice post indeed, setidaknya mengobati keingintahuan sekarang HMIF lagi ngapain aja (web HMIF masih ada ga sih?)

    Saran untuk To-Do: buat posting yang “personal” ini jadi agak resmi dan “less-personal” buat bikin LPJ. Sekarang juga. Sebelum diterjang tugas-tugas yang lain, yang bikin begadang🙂

    Kalau boleh, mau ngucapin: Bravo for a great job well done! (buat HMIF dan buat kamu yang ngelaksanain dan sekarang ngepost ceritanya)

    Sedikit OOT: IMHO, kegiatan himpunan itu yang ngasikin (dan bikin worth doing) bukan cuma di action-nya tapi lebih di behind-the-scene-nya. So, enjoy aja!

    PS: Ronny IF02 itu maksudnya Roni Sambiangga aka Ronsky?

     
  7. ndrewh

    October 8, 2008 at 8:57 pm

    ehh, di blogrollnya masukin divgos dooong… ^^, secara lo komoditi utama divgos… hyahahaha

     
  8. seseorang yg dianggap majikan

    October 12, 2008 at 7:22 am

    Subhanallah Ivan, sekalian bikin versi formalnya buat tambahan LPJ Formatur dong😀 Maaf kalau saya memperlakukan sebagai pembantu, ga maksud gitu Van..
    Akan selalu ada orang-orang dan situasi yang singgah di hati kita, meninggalkan jejak disana dan kita tidak akan pernah sama lagi seperti kita sebelumnya..Van, kamu salah satu orang yang meninggalkan jejak disana dan menjadikan saya lebih baik.Thx!

     
  9. Giri Kuncoro

    October 12, 2008 at 5:30 pm

    duh van..
    kpanjangan ahh..
    kasi indeks di awal tulisan harusnya van..biar ga bingung..
    terus indeksnya ngelink ke sub bagian” tulisan kamu van..
    hihih..
    mo sok tau ceritanya..😛

     
  10. qbl

    October 14, 2008 at 10:04 pm

    jadi…. ada kaderisasi STEI 2008 ga? in my opinion, don’t waste the effort on that. better focusing on “Kaderisasi HMIF 2009”. salut dengan hasil SPARTA.

     
  11. auliafeizal

    October 23, 2008 at 5:07 pm

    baru baca postingan ini
    waw lengkap banget pembahasannya
    rajin sekali
    hehe

     
  12. Ardianto

    October 30, 2008 at 8:51 am

    Btw, saya juga meragukan kaderisasi bersama lagi untuk STEI 2008…
    Melihat cerita di atas, mungkin cerita yang sama bakal terulang.

    Saya juga sebagai peserta, agak kecewa dengan keadaan itu…
    Banyak ketidakjelasan waktu yang mengganggu segala rencana saya pada bulan-bulan itu…
    Tapi bagaimana pun panitia juga sudah bekerja dengan baik, terima kasih aja lah…

     
  13. tmroffi

    November 1, 2008 at 5:46 pm

    komprehensif sekali, ada petikan-petikan lucu pula.
    Seolah olah IF santai kuliahnya..
    Van, van

     
  14. meongijo

    November 20, 2008 at 9:01 pm

    van, never tought that there’s a huge of brilliant thinkings in your head.. well, of course a year in the same class and same organization is never enough to know each other, right?

    hehe…

    great man you are, just keep it on the track.

     
  15. ndrewh

    November 21, 2008 at 10:28 pm

    you’ve been tagged…
    for more info… see…
    http://ndrewh.wordpress.com/2008/11/21/kena-deh-_/

     
  16. meliza766hi

    November 23, 2008 at 9:28 pm

    sama kayak andru, hehehe ….you’ve got tagged!!!! congratz…. untuk rules nya baca blog gw yakk,,, yg judulnya dapet dan nerusin -TAG, gyahahhahaha😀

     
  17. Mantoel Toeink

    November 26, 2008 at 11:36 am

    Kayaknya anggota PSDA emang udah layak dan sepantasnya ya berjuang keras untuk PLO, kaderisasi, dll.😀

    Tapi… kelamaan Van, nulisnya lima hari. Keburu bosen kau nulisnya.

    Tag juga dari gw.

    1. Each blogger must post these rules.
    2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves.
    3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
    4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog

    Itu aturannya, Van.

    Hehe.

     
  18. nuRr..

    November 26, 2008 at 7:12 pm

     
  19. ivan

    December 1, 2008 at 9:52 pm

    van van van..

    sbg sesama ivan..

    sebenarnya kondisi panitia teh tidak seperti yg anda tulis sih.. byk bolong-bolong..

    miskom antar divisi..

    dan sentimen yang ada diantara panitia..

    wah.. pokoknya more than meets the eye..

     
  20. Ivan

    December 27, 2008 at 7:54 pm

    Wew, kebiasaan buruk.. Lama ngebales commentnya.. Maaf,y..😦

    @Nur:
    Yup, nur yg minta😛
    Oh, andara,y? ga tau.. lupa…

    @Atin:
    Ok, ditunggu di PLO buat stei08🙂

    @Restya:
    Semoga tahun ini gak ky tahun lalu😀

    @Bintang:
    Ayo, suruh mereka nulis juga…

    @K Nanto:
    Siapa yg menjerumuskan,y?

    @K Raiza:
    Sebelumnya, salam kenal..
    He2… Mengenang masa lalu,ya,kak?
    Ok, udah dibuat LPJnya..
    Yup, Ronny Sambiangga

    @Andru:
    Gak mau…

    @Giri:
    Gimana caranya?

    @K Iqbal:
    Keputusannya dari tim formatur bakalan ada..
    Semoga ga mubazir effortnya ky tahun lalu

    @K Kecap:
    5 hari nulisnya kak😦

    @Ardianto:
    Hm.. tahun ini bakalan ada lagi..
    Jadi panitia,y..
    Semoga kali ini diizinin

    @Laras:
    Biasa aja kali…

    @Andru, mel, manda, nur:
    Wew… nambahin kerjaan aja

    @bakot:
    Yup, perasaan di atas juga ditulis kalo banyak panitia yg akhirnya ilang…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: