RSS

Kenikmatan yang Terlupa

16 Mar

Banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT.  kepada kita. Tapi, kebanyakan dari kita lupa, lupa akan segala kenikmatan itu. Terkadang kita menjadi sadar ketika kenikmatan itu tidak milik kita lagi. Padahal, dengan melihat sekeliling, kita harusnya sudah bisa merasakan betapa banyaknya nikmat yang diberikan-Nya.

***

Kamis (15/03/07) pukul 17.30 – Rumah.

“A (panggilan saya- Aa), nanti US (inisial) mau datang,” Mamah berbicara ketika saya datang ke rumah. Waktu itu saya baru aja pulang dari kampus, abis kuliah basket, jadi keringat bercucuran hampir di seluruh tubuh…

Waktu SD, rumah saya tuh jauh banget dari kota, agak deket dari Leuwi Gajah (lebih jauh maksudnya). Dari sekolah SD yang sekarang deket rumah aja, bisa 45 menit sampai ke rumah kalau naik angkot. Jangan heran kalau waktu SD saya punya banyak pengalaman dengan angkot seperti pipis di angkot (trus menggerutu keras jus jeruk bocor dari tas), tidur di pundak orang asing di angkot (pernah tidur di pundak kakak perempuan berseragam SMA), ketiduran trus kebawa sampai ke Cipatik (De, mau turun dimana?), atau ngeliat warna celana dalam cewe berrok yang duduk berseberangan (sekarang masih bisa, nggak, ya?). Di tempat itu, saya punya banyak teman, US salah satunya. Seumuran, hanya 1 bulan 22 hari lebih tua dari saya.

Sebelumnya, hari Minggu (11/03/07), sempet juga US ke rumah. Namanya temen lama, kami pun mengingat cerita-cerita masa kecil. Sempet juga dia bilang saya jadi gendut. Emang sich, udah setahun lebih saya ga bisa ngontrol pola makan. Setiap lewat dapur pasti ngambil makanan dari tudung saji. Berat pun udah sedikit di atas 60 kg.

Setelah lama ngobrol, akhirnya ia mengatakan maksud kedatangannya. Ayahnya udah nggak kerja lagi, sekarang hanya jadi guru ngaji. Asalnya ayahnya tuh kerja di PT DI. Trus, pas setahun sebelum kisruh PT DI, dia ditawarin keluar. Dia menyanggupi dan mendapat pesangon yang cukup besar. Namun, salahnya, uang itu habis untuk pergi haji tiga orang dan tidak disisakan sama sekali. Pulang dari haji, lama nggak dapet kerja. Pernah kerja saat pembangunan Mall Paskal Hypersquare. Dia tuh orang yang ngusirin orang-orang yang tinggal di tempat pembangunan. Tanahnya emang punya PT KAI. Trus Paskal Hypersquare nyewa tanah itu ke PT KAI untuk buat mall dan akhirnya terpaksa orang-orang yang tinggal disitu dipaksa pindah. Meskipun sekarang mallnya udah jadi, dia masih ditawarin kerja di sana, soalnya katanya mall itu masih mau diperluas lagi. Tapi, dia sendiri nggak mau. Nggak enak kerja ngusirin orang. Meskipun emang tanahnya milik PT KAI tapi rumah itu udah jadi tempat tinggal mereka untuk waktu yang lama. Akhirnya dia keluar.

Nah, sejak itu US berusaha membantu keluarga. Dia sendiri nggak keterima SPMB dan akhirnya memilih untuk bekerja dulu sebelum kuliah suatu saat nanti. Udah beberapa bulan dia kerja di dealer Honda. Masalahnya, gajinya tuh sangat kecil. Hanya Rp. 250.000,00 / bulan (Aduh, bayaran ITB aja lebih mahal dari itu. Bahkan pengeluaran saya sebulan aja tanpa uang kuliah tetep di atas angka itu). Uang sebesar itu pun harus dibagi lagi untuk keluarganya. Mana cukup? Jadi, dia berusaha mencari sumber penghasilan baru yang paling tidak bisa memberikan penghasilan lebih. Dia ingin meminta bantuan untuk dimasukkin ke kantor tempat ibu saya bekerja. Nah, Kamis itu, dia datang untuk menyerahkan ijazah dan ngetik surat lamaran pekerjaan. Setelah saya mandi, dia datang.

***

Jadi inget, waktu beras lagi mahal-mahalnya, di TV saya nonton berita tentang orang yang mungutin beras di jalan dari sisa penjualan truk operasi beras. Mata saya sampai berkaca-kaca di balik kaca mata di depan layar kaca (Oh Ivan, kamu pujangga!). Trus baca di koran, banyak orang makan nasi basi, karena tak mampu beli beras. Oh, iya, ada sesuatu yang manarik di koran itu. Pas baca beberapa halaman selanjutnya, ngelihat ada iklan Mobile-TV Telkomsel. Di iklan itu ditulis tarifnya yaitu 1100 / 30 detik (sudah termasuk pajak) untuk Simpati dan 1000 / 30 detik (belum termasuk pajak) untuk Kartu Halo (berarti pajak kartu Halo 10%). Miris, kalau misalnya ada yang menggunakan Mobile-TV di saat orang lain kesusahan seperti saat itu. Dengan layar HP yang serba terbatas, 2,5 menit menonton mobile-TV sama dengan 1 kg beras yang orang lain tak sanggup beli. Kenapa kalau suka banget nonton TV nggak beli TV portable aja yang jauh lebih murah daripada hp dengan fasilitas 3G? Toh, misalnya kalau nonton Empat Mata, yang iklannya lama, uang yang setara dengan berkilo-kilo beras bisa hilang begitu aja hanya dengan menonton iklannya.

Mungkin, ketika teman-teman baca blog ini (tapi saya ragu ada yang baca soalnya jarang ada yang comment), uang yang dipakai untuk internet, baik di warnet, di rumah, atau beli laptop buat wifi tidak ada artinya (sebenarnya bisa juga gratisan kalau di Lab. Informatika). Tapi di sisi lain, banyak orang yang jangankan berinternet, uang untuk makan pun tak punya. Jadi, bersyukurlah karena kenikmatan ini. Well, Semoga bermanfaat!

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2007 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: