RSS

Bila Aku Mati

24 Feb

Udah lama nggak nulis blog, atau lebih tepat udah lama nggak buka friendster, atau lebih tepat lagi udah hampir satu bulan STEI “menggila” dengan jam kuliahnya yang menumpuk, serasa ngambil 24 SKS.

Agak telat, tapi sy ingin cerita tentang seorang tentang teman yang meninggal hampir sebulan yang lalu. Jadi keingetan lagi gara-gara hari Selasa (20/02/07) kemarin ngobrol dengan BPP (STEI) dan YIB (FTSL).

Ceritanya, aku punya teman, (teman … -suara Maya), teman sepermainan, (ah…ah…ah – suara Maya lagi). (oops, maaf, tiba-tiba menjadi gila)

Kembali ke topik, ceritanya, aku punya teman, (teman … -suara Maya), teman sepermainan, (ah…ah…ah – suara Maya lagi). (hey, ga lucu! Cepetan kembali ke topiknya)

Ceritanya, aku punya sahabat se-SMA, namanya Melly, meninggal hampir sebulan kemarin (02/02/07). Penyebabnya demam berdarah, tapi ada yang bilang komplikasi beberapa penyakit. Singkat cerita dia meninggal. Sempet dirawat kurang lebih seminggu di rumah sakit. Lebih lengkapnya baca blog temen saya. Udah pernah ada yang nulis.

Agak nyesel, soalnya belum sempet nengok pas dia sakit. Pernah diajak, tapi waktu itu hujan, jadi ga ikut. Lagipula saya kira nggak terlalu parah. Saya pikir dengan ilmu kedokteran yang ada saat ini, DBD bukan penyakit yang membahayakan lagi. Tidak tahu kalau penyakitnya parah. Baru sadar pas kemaren-kemaran lagi ngehapusin isi inbox HP. Beberapa minggu sebelum beliau dirawat karena DBD, saya pernah dikasih tau temen kalau dia dirawat karena thypus. OMG, bodohnya aku, kenapa nggak sadar kalau saat itu tubuhnya sedang lemah.

Tapi, kenapa ya, waktu datang ke pemakaman beliau, saya ngerasa kalau dia akan tersenyum kalau melihat pemakamannya. Awalnya saya pikir hanya saya aja yang berpikiran begitu. Tapi, pas ngobrol-ngobrol dengan BPP dan YIB kemarin, ternyata mereka berpikiran sama. Diawali dengan meninggalnya di hari Jum’at, hari yang dimuliakan umat Islam, dilanjutkan dengan ketika dikuburkan berkumandang adzan Isya, dan yang paling saya kagum, banyak banget yang datangnya. Orang-orang yang kehilangan seorang sahabat yang dicintainya.

Ketika itu saya berpikir, “Oh Melly, Banyak banget yang kehilangan kamu. Kamu udah menorehkan banyak kenangan di hati teman-temanmu. Begitu banyak yang mencintaimu. Kamu udah melakukan yang terbaik di dunia.”

Udah lama nggak kehilangan seseorang akibat kematian. Pernah hampir kehilangan seorang sahabat karena jatuh dari motor, MBHP (STEI). Eh, ternyata, dia masih hidup sampai sekarang. IP-nya 4 lagi. Padahal udah dilaguin sama peterpan. Rasanya kembali diingatkan oleh Mahapencipta bahwa ajal itu akan datang dan kita tidak mengetahui kapan waktunya.

Beruntung banget kalau kita udah tahu kapan kita akan meninggal. Kaya film Silence-nya Vic Chou yang baru selesai Rabu (21/02/07) kemarin. Qi Wei Yi (Vic Chou) kena kanker hati dan hanya memiliki waktu 3 bulan untuk hidup. Kata-kata yang saya suka dari film itu, “Mungkin pedih mengetahui kalau hidup ini hanya tinggal beberapa saat lagi. Tetapi, bukanlah itu karunia sehingga bisa melakukan yang terbaik di sisa hidup ini.”

Ngomong-ngomong, kalau saya mati nanti banyak yang datang, nggak, ya? Kata YIB kalau saya mau tahu saya harus mati dulu. Haha… Kayanya bener juga. Harus mati dulu kalau mau tahu. Tapi sebenarnya bisa dievaluasi. Apakah saya mencintai teman-teman saya? Apakah saya perhatian sama mereka? Kayanya hal barusan sebanding dengan cinta dan perhatian mereka terhadap saya.

Inget tulisan Stephen R. Covey dalam buku The 7 Habits of Highly Effectice People. Coba bayangkan ketika kamu sudah meninggal, ketika di pemakamanmu, teman-temanmu diminta menyebutkan kenangan tentang dirimu. Apakah yang ingin kamu dengar dari mereka?

Kalau kata BPP, ntar, kalau saya mati suaranya “krik… krik… krik…”. Maksudnya sepi, sedikit pelayat, jadi suara jangkrik juga kedengeran. Sialan! BT dech…

Kalau ditanya mau hidup berapa lama lagi, sudah pasti saya menjawab kaya puisi Chairil Anwar, “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi”. Tapi, toh ajal manusia ada ditangan Sang Pencipta. Nggak ada yang bisa nolak ketika ajal menjemput. Nggak ada pula yang ngangkat papan “injury time” kaya pertandingan sepakbola ngasih tau kapan hidup kita akan berakhir. Tapi, jika ajal menjemput, saya ingin telah melakukan yang terbaik, menjadi manusia yang menjadi rahmat bagi semua, dan kembali dalam keadaan terbaik ke hadapan Sang Khalik.

Ps: Untuk semua orang yang pernah berhubungan, saya minta maaf kalau ada kesalahan yang pernah saya perbuat. Terima kasih untuk semua. I love you all.

 
2 Comments

Posted by on February 24, 2007 in Uncategorized

 

2 responses to “Bila Aku Mati

  1. BinTanK

    March 10, 2007 at 12:41 am

    weh, tumben blogmu sepi comment…

     
  2. Rifina

    March 13, 2007 at 9:59 pm

    ivan…..!!!!
    indahnya tulisanmu kali ini.
    akhirnya…!!!!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: