Kaderisasi di ITB Wednesday, Mar 18 2009 

Kaderisasi adalah suatu proses untuk menciptakan kader-kader baru yang siap menjalankan organisasinya. Proses kaderisasi bertujuan agar anggota baru memahami visi dan misi organisasi, sehingga setelah masuk ke dalam oganisasi tersebut maka keberlangsungan organisasi dapat tetap terjamin. Kaderisasi setiap organisai berbeda tergantung dari kebutuhan masing-masing organisasi, sebagai contoh adalah kaderisasi unit kegiatan musik berbeda dengan kederisasi unit olahraga.

Posisi Kaderisasi di ITB

ITB sebagai salah satu institusi pendidikan di Indonesia merupakan tempat pembelajaran yang ideal bagi calon-calon pemimpin bangsa. Putra-putri dari seluruh penjuru nusantara berkumpul di ITB untuk bersama-sama menimba ilmu sehingga kelak akan berkontribusi bagi pembangunan dan kemajuan Indonesia.

Dalam konsepsi KM ITB, bahwa tugas perguran tinggi adalah untuk membentuk insan akademis. Yang dimaksud insan akademis adalah insan yang senantiasa untuk mengembangkan diri sehingga tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan sekaligus dapat menkritisi kondisi masyarakat di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang ideal dengan landasan kebenaran ilmiah. Yang dimaksud dengan tatanan masyarakat masa depan ideal disini adalah masyarakat madani yaitu masyarakat yang memiliki nilai parsitipatif, aspriratif, mandiri, nonhegemonik, dan beretika.

Sebagai sebuah institusi pendidikan, sistem pembinaan kemahasiswaan di ITB dilakukan secara menyeluruh, baik dari aspek hardskill maupun softskill. Hardskill didapatkan dari bangku perkuliahan dan juga praktikum yang disediakan oleh bagian akademik ITB sedangkan softskill diperoleh dari aktivitas di organisasi-organisasi kemahasiswaan. ITB sangat memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan, hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya organisasi-organisasi kemahasiswaan baik unit kegiatan mahasiswa (UKM) ataupun himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Setiap organisasi berusaha untuk membina anggotanya agar kelak siap untuk memimpin dan bekontibusi bagi Indonesia.

Organisasi-organisasi kemahasiswaan intra kampus, adalah organisasi yang mengalir, hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang masih aktif berkuliah, sedangkan mahasiswa yang telah lulus dan menjadi alumni tidak lagi behak untuk menjadi anggota organisasi intra kampus. Karena hal tersebut maka dibutuhkan kaderisasi agar organisasi dapat terus berlangsung.

Perizinan Kaderisasi di ITB

Senat akademik sebagai salah satu struktur lembaga ITB, telah menyusun kebijakan pembinaan kemahasiswaan yang mengatur kegiatan kemahasiswaan ITB. Menurut poin 6.2 pada kebijakan organisasi kemahasiswaan, ruang lingkup organisasi kemahasiswaan ITB dapat berupa kegiatan pengembangan diri atau pendidikan karakter, pelatihan berorganisasi dan kepemimpinan, peningkatan kreativitas dan penalaran, dst. Kegiatan yang terdefinisi sebagai kegiatan kaderisasi adalah kegiatan-kegiatan yang mencakup pembentukan karakter, pengembangan diri, maupun kepemimpinan. Dengan demikian, kegiatan kaderisasi yang dilaksanakan oleh KM ITB merupakan kegiatan yang termasuk dalam ruang lingkup organisasi kemahasiswaan.

Namun, mengacu pada Keputusan Rektor ITB nomor 082 pasal 2 ayat 6 tentang menyelenggarakan orientasi studi dan sejenisnya pada tingkat institut, fakultas, dan prodi yang merupakan salah satu kegiatan yang dilarang yang melanggar etika akademik ITB dan hak asasi manusia. Orientasi studi yang terdapat dalam keputusan tersebut masih membutuhkan penjelasan yang lebih lanjut tentang batasan-batasan teknis yang bisa membuat suatu kegiatan terdefiniskan sebagai orientasi studi, hal ini diperlukan untuk keberjalanan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan kedepannya. Di level fakultas sendiri, peraturan ini didefinisikan berbeda-beda sesuai dengan fakultas dan prodi masing-masing.

Maka saat ini disusunlah draft koridor kaderisasi sebagai aturan bersama yang disepakati oleh elemen KM ITB yang akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan kaderisasi dan untuk menyamakan persepsi tentang kegiatan kaderisasi antara pihak ITB dengan organisasi kemahasiswaan.

Isu IMG

Saat ini, sedang ramai isu tentang tragedi yang menimpa saudara kita Dwiyanto Wisnugroho. Dwiyanto Wisnugroho, yang akrab dipanggil Wisnu merupakan salah satu peserta rangkaian proses pembinaan anggota baru IMG yang akan ditutup dengan acara akhir di Lembang, Minggu (8/2/2009).

Ramainya isu ini membuat banyak opini tentang kaderisasi. Wacana orang-orang rata-rata mengecam kaderisasi di ITB. Kaderisasi di ITB di katakan penuh dengan perploncoan dan jauh dari hak asasi manusia. Padahal, paradigma tersebut adalah salah.

Dahulu, orang mengenal kaderisasi sebagai orientasi studi pengenalan kampus atau dikenal ospek. Di ITB, ospek sudah mengalami transformasi nama dan esensi menjadi OS atau orientasi studi dan sekarang menjadi kaderisasi. Nama dan konotasi kaderisasi lebih ringan diterima oleh masyarakat dan sebagai bentuk komitmen mahasiswa untuk mengubah citra OS di masa lalu. Ospek ITB dapat dibagi menjadi dua, ospek kampus dan OS jurusan atau program studi.

Proses kaderisasi akan mengikuti perkembangan zaman, kaderisasi saat ini berbeda dengan kaderisasi pada era 66. Pada masa itu, dibutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang berani melawan tirani sehingga bentuk kaderisasi yang diberikan lebih banyak berisi pelatihan fisik dan mental, sedangkan pada era reformasi saat ini, tipe kader yang dibutuhkan adalah kader yang kritis dan berwawasan luas sehingga bentuk kaderisasinya harus sesuai dengan tujuan tersebut.

Organisasi-organisasi di ITB menyadari akan perubahan tersebut, oleh karena itu maka sistem kaderisasi pun telah berkembang mengikuti perkembangan zaman. Saat ini kaderisasi di ITB lebih banyak dilakukan dengan cara diskusi dan simulasi. Diskusi bertujuan untuk menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang kritis, berfikir ilmiah dan berani mempertanggung jawabkan pernyataanya, sedangkan simulasi-simulasi bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antara sesama anggota.

Kenyataan saat ini, transformasi yang dilakukan benar-benar mengedepankan komitmen untuk menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki kesiapan mental dan intelektual. Apabila terjadi sesuatu seperti saat kasus IMG ada kemungkinan akibat human error atau akibat ulah oknum tertentu. Tidak dapat dimungkiri ada oknum yang memanfaatkan ospek sebagai ajang senang-senang semata tanpa tujuan, itu yang dulu dikenal dengan perpeloncoan. Akan tetapi, saat ini perpeloncoan telah dihapuskan dengan mengembalikan kepada tujuan kegiatan ospek itu sendiri.

Referensi:

[1] Meluruskan Paradigma tentang Ospek, Bobby Rahman, dimuat di Pikiran Rakyat

[2] Kaderisasi bukan Perpeloncoan, Depertemen Advokasi dan Pelayanan, dimuat di http://www.km.itb.ac.id

Bersama, Berkesinambungan, dan Bermanfaat (BBB) Wednesday, Mar 18 2009 

HMIF tiga tahun ini

Jika dirangkum, 3 tahun lalu, saat Ketua HMIF dijabat oleh Budiono, Budiono meletakkan dasar pengabdian masyarakat. Dia membuat sebuah divisi yang bernama divisi pengabdian masyarakat yang ditujukan agar rasa pengabdian masyarakat terasa di HMIF. Selain itu, dibuat juga acara-acara berbasis keprofesian seperti training dan workshop untuk agar kegiatan keprofesian terasa di HMIF. Budiono juga meletakkan dasar STEI karena saat itu terjadi perubahan pada ITB dari yang awalnya tahun pertama mahasiswa sudah masuk program studi, tetapi sekarang menunggu tahun kedua. 2 tahun lalu, saat Ketua HMIF dijabat oleh Iqbal Farabi, HMIF fokus untuk memantapkan sistem. Hal ini terlihat dari HMIF yang berusaha melakukan Amandemen AD-ART, pembuatan GDK, dan pembuatan SOP-SOP tersendiri. HMIF berfokus untuk memperbaiki pondasi HMIF. 1 tahun ini, saat Ketua HMIF dijabat oleh Dwinanto Cahyo, HMIF berfokus pada tidak mengulangi kesalahan yang lalu. HMIF juga berusaha merintis sebuah acara besar keprofesian yang melibatkan banyak massa dan dapat sebagai brand HMIF.

Gambaran HMIF ke depan
“Bersama, Berkesinambungan, Bermanfaat”

HMIF milik Bersama
HMIF berjalan bukan hanya karena impian dan ambisi ketua atau segolongan orang. HMIF  seharusnya berjalan di atas impian semua anggotanya untuk mencapai HMIF yang lebih baik.

bersama

HMIF yang memiliki sistem Berkesinambungan
Kepengurusan setiap tahun seharusnya merupakan perbaikan akan kepengurusan sebelumnya. Dari masa lalu kita belajar, kita ambil yang baik dan lanjutkan. Kesalahan masa lalu kita perbaiki dan jangan sampai terulang kembali. Selain itu, Satu tahun sendiri adalah waktu yang singkat untuk menggapai semuanya. Oleh karena itu, kita harus berpikir untuk tujuan jangka panjang dan melakukan kepengurusan ini sebagai langkah untuk mencapai tujuan tersebut.

berkesinambungan

HMIF yang Bermanfaat ke dalam dan keluar
Setiap anggota haruslah “nyaman” saat berada di himpunan. Hal ini bisa didapat jika di himpunan anggota tersebut menemukan manfaat, baik di bidang keprofesian, akademik, kekeluargaan, dan yang lainnya. Himpunan yang ideal adalah himpunan yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya akan keprofesian, pengabdian masyarakat, dan kekeluargaan. Setelah memenuhi kebutuhan anggota, himpunan sendiri diharapkan dapat memenuhi kebutuhan lingkungan akan himpunan. Himpunan dapat membantu ITB dalam mengembangkan mahasiswa atau membantu masyarakat dengan pengabdian masyarakatnya.

bermanfaat

Bagaimana mencapai hal tersebut?

HMIF sebagai organisasi pembelajar
Kesalahan masa lalu kita perbaiki dan jangan sampai terulang kembali. Selain itu, kita mulai berproyeksi ke depan dalam menyusun target jangka panjang HMIF dan melakukan satu tahun ini untuk mencapai itu.

Program kerja yang efisien dan efektif
Hanya proker-proker yang esensial yang akan dilaksanakan. Dengan berkurangnya proker divisi, diharapkan waktu dan perhatian untuk ikut berpartisipasi di divisi lain semakin tinggi. Di samping itu, partisipasi massa di kegiatan kemahasiswaan terpusat dapat bertambah. Sayang sekali jika hanya kita terbelenggu di bidang informatika saja. Bidang informatika tidaklah cukup untuk mengatasi masalah bangsa.

Pembelajaran anggota yang berkesinambungan
Kepengurusan sekaranglah saat yang tepat untuk mengimplementasikan Grand Desain Kaderisasi tersebut secara menyeluruh. Implementasi GDK sendiri dimaksudkan agar kaderisasi tidak berhenti saat seseorang masuk ke himpunan. Kaderisasi informal divisi atau kaderisasi formal yang dibuat semoga bisa membuat lulusan HMIF yang kompeten menghadapi dunia luar kampus setelah kuliah

Standardisasi keprofesian anggota
Kegiatan akademik di kampus ternyata belum cukup untuk memberikan pengalaman tentang keprofesian. Dunia informatika yang terus berkembang secara pesat membuat semakin luasnya dunia informatika. Menutupi kekurangan tersebut, himpunan dapat berperan sebagai penyedia kebutuhan tersebut. Training-training dan seminar-seminar internal dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan keprofesian tersebut.

Peningkatan rasa pengabdian masyarakat baik melalui kegiatan keprofesian maupun lainnya
Keprofesian kita jauh dari kemiskinan. Padahal, “sense” akan meningkat jika kita turun ke lapisan paling bawah. Oleh karena itu, kepengurusan sekarang akan dicoba dua buah solusi. Yang pertama, kita turun langsung ke masyarakat meskipun kurang dari segi keprofesiannya. Acara ini diyakini dapat melibatkan banyak massa dan meningkatkan “sense” mereka. Yang kedua adalah pengabdian masyarakat yang berbasiskan keprofesian, contohnya: Training Open Source. Namun, hal yang harus dilakukan sebelum dan setelahnya adalah pewacanaan bahwa acara ini bertujuan mulia untuk pengabdian masyarakat.
Yang terpikir lebih lanjut adalah membuat semacam lomba software desain intern HMIF yang memiliki tema tentang masalah yang dialami lingkungan sekitar. Ketika mengerjakan lomba tersebut, diharapkan timbul inovasi-inovasi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Inovasi tersebut inginnya di follow up sampai bisa diimplementasikan dan bermanfaat untuk masyarakat.

Menuju sistem ekonomi HMIF yang mandiri
Pembentukan sebuah sistem workshop milik HMIF sebagai branding agar mempermudah marketing. Proyek-proyek yang dikerjakan pun tidak terbatas hanya fokus dilakukan oleh divpro tapi semua massa dapat berpartisipasi. Mimpi lebih jauh adalah workshop ini dapat berbadan hukum resmi sehingga dapat bekerja dengan pemerintahan untuk pengabdian masyarakat.

Berkontribusi aktif dengan entitas luar HMIF
HMIF terlalu kecil untuk bisa memberikan banyak ke masyarakat. Oleh karena itu, kerja sama dengan pihak KM ITB, AIB, dan entitas luar lainnya diharapkan dapat ditingkatkan kepengurusan kali ini untuk berkontribusi ke masyarakat
Impian HMIF 5 Tahun ke Depan
Berikut proyeksi himpunan 5 tahun ke depan yang dicapai dari kepengurusan ini.
1.    Himpunan bisa menjadi tempat yang nyaman dan para anggotanya akan mengenangnya saat telah lulus nanti. Lebih jauh, semoga beberapa puluh tahun lagi image alumni IF yang tidak terikat ke himpunan berubah
2.    Himpunanan berkolaborasi dengan entitas luar menciptakan karya nyata untuk bangsa.
3.    Saat HMIF akan melakukan acara-acara, ekonomi HMIF telah mandiri.
4.    Himpunan bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah bangsa dengan bidang informatikanya.
5.    Sistem GDK telah berjalan dengan baik sehingga menghasilkan kader-kader terbaik untuk bangsa.
For Better HMIF!

Sejarah Palestina Friday, Jan 23 2009 

Akhir-akhir ini terjadi keprihatinan yang mendalam di bumi Palestina. Beribu orang tewas akibat serangan Israel ke jalur Gaza yang dimulai tanggal 27 Desember 2008. Dunia pun bergejolak. Beberapa negara dengan keras menentang Israel bahkan dengan memutuskan hubungan diplomatiknya. Unjuk rasa menentang serangan Israel pun terjadi di mana-mana termasuk di Indonesia. Namun, perang masih mungkin meletus hingga beberapa tahun mendatang.

Palestina memang memiliki sejarah yang pelik. Israel, yang merupakan bangsa Yahudi, mendirikan negaranya di atas tanah Palestina. Hal ini menyebabkan situasi berkembang hingga keadaan sekarang. Untuk lebih memahami konflik ini, maka saya berusaha merangkum sejarah Palestina dari awal hingga terjadinya konflik.

Wilayah Palestina-Israel (swaramuslim.com)

Wilayah Palestina-Israel (swaramuslim.com)

Tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber yaitu:

  1. Makalah Umar Asasudin, M.A. yang berjudul “Peranan Cendekiawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina: Pendekatan Sejarah”
  2. Pidato Ikhrimah Shabri (Imam Masjid Al-Aqhsa Palestina pada tahun 1992) yang berjudul “Palestina: Sejarah Perjuangan, Intifada, dan Agresi Israel terhadap Masjidil Aqsha”.
  3. Makalah Dr. Roeslan Abdoelgani yang berjudul “Solidaritas Indonesia terhadap Palestina: Suatu Tinjauan Historis”

Ketiganya terdapat dalam buku “Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru”, dengan editor : M Riza Sihbudi & Achmad Hadi, cetakan Pustaka Hidayah tahun 1992. Buku ini berintikan makalah dalam seminar “Pekan Persahabatan Indonesia Palestina” 13-18 Januari 1992 di Yogyakarta.

Kejadian setelah tahun 1992 dirangkum dari:

  1. “Tabel Sejarah Timur Tengah” dalam blog “Kajian Timur Tengah” oleh Dina Y. Sulaeman
  2. “Sejarah Berdirinya Negara Israel” oleh Panji Prabowo (Kepala GAMAIS ITB 2008-2009) dalam blognya
  3. Berita-berita dalam kompas.com tentang perang Israel Palestina.

Selamat membaca!

***

Wilayah Palestina pada mulanya ditinggali oleh beberapa bangsa, yaitu bangsa Ammonit dan Philistine. Lalu, sekitar tahun 1000 SM, Palestina ditaklukan oleh Raja Thalut dan Daud a.s. Daud a.s. dan keturunannya, yang merupakan bangsa yahudi, akhirnya menjadi raja di sana dan Palestina menjadi tanah air bangsa yahudi dari 1000 SM – 135 M. Palestina sendiri sempat dikuasai oleh Kerajaan Persia, Babilonia, Mesir, dan kerajaan-kerjaaan lain secara bergantian dalam rentang waktu tersebut.

Wilayah Palestina Dikuasai Kerajaan Romawi

Sekitar tahun 100 SM muncullah kekuatan Roma dan pada tahun 63 SM, Roma, di bawah pemerintahan Raja Pompey, menaklukan kerajaan yang menguasai Palestina. Tahun 66 M, timbul pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Perang terjadi dan pemberontak kalah dan akhirnya pada tahun 70 M, Jerussalem jatuh sepenuhnya ke tangan Roma.

Raja Pompey dari Romawi (www.usu.edu)

Raja Pompey dari Romawi (www.usu.edu)

Pada saat itu, biasanya Roma tidak melakukan penekanan tetapi memperlakukan daerah jajahannya dengan lembut untuk mempersatukan warga negeranya dengan bangsa jajahannya. Namun, di dalam kasus bangsa Yahudi, cara ini tidaklah berhasil. Seringkali timbul huru-hara dari bangsa Yahudi. Hal ini menyebabkan akhirnya Roma berlaku keras kepada bangsa Yahudi dan mengeluarkan dekrit yang mematikan nasionalismen bangsa Yahudi dengan cara melarang berbagai peribadatan mereka.

Pada akhirnya dekrit ini membuat sebuah pemberontakan besar dari 200.000 orang Yahudi yang dipimpin oleh Barcocheba di Jerussalem. Raja Hadrian yang saat itu memimpin Roma mengirimkan Julius Sevenus dan tentara yang jumlahnya besar untuk memadamkan pemberontakan dan menaklukan Jerussalem. Pada saat itu, bangsa Yahudi kalah dan dikeluarkan peraturan mereka dilarang masuk ke kota apapun alasannya. Jerussalem dijadikan koloni Roma dan tempat peribadatan Yahudi, haikal Yahudi, diganti dengan candi lambang supremasi Roma, candi Yupiter. Mulai saat itu bangsa Yahudi tersebar ke luar Palestina. Namun, ada sebagian kecil yang tetap bertahan di sana.

Setelah masa itu, pengaruh agama Kristen masuk ke Roma, sehingga menumbuhkan penyebaran agama Kristen di Palestina. Agama Kristen tumbuh di daerah tersebut. Lalu, pada pembagian kerajaan Roma tahun 395, Palestina berada dalam kekuasaan Kerajaan Bizantium, yang disebut juga kerajaan Romawi Timur. Pada saat itu Palestina menjadi daerah yang makmur, menjadi pusat perkembangan jemaah haji (beribadah mengunjungi tempat-tempat suci yang dilakukan oleh penganut Kristen,Yahudi,dll.). Namun sesekali muncul penyiksaan kepada bangsa Yahudi oleh bangsa yang menguasai.

Tahun 611 M, Chosroes II, raja Kerajaan Sasan dari Persia,  menyerang daerah itu. Diikuti oleh bangsa Yahudi yang ingin membalas dendam. Yerussalem direbut. Gereja Holy Sepulchre dihancurkan dengan tanah dan hartanya dibawa. Gereja lain bernasib sama dan uskupnya ditahan.

Tahun 628 M, Raja Heralcus dari Bizantium menaklukan kembali teritorial tersebut. Namun kemenangan ini bersifat sementara karena munculnya kekuatan Islam yang melemahkan Kerajaan Bizantium tersebut.

Palestina Dikuasai Islam

Islam muncul tahun 610 M di bawah kepemimpinan Muhammad saw. Di selang tahun 610-632 M, suku-suku di daerah Arab berhasi l dipersatukan di bawah kepemimpinannya yang asalnya saling bermusuhan. Kerajaan Islam (Kekhalifahan Islam) setelah Muhammad saw meninggal di bawah pemimpin Abu Bakar (632-634 M) berusaha merebut daerah Palestina dari tangan Bizantium. Namun, usaha tersebut tidak berhasil dan akhirnya baru berhasil ketika Kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar ra. Pada tahun 636, Bizantium jatuh.

Di bawah kepemimpinan Umar ra. terjadi perjanjian damai di Jerussalem antara pemerintahan Umar dengan umat Kristen yang dipimpin oleh Uskup Sophronius. Umar sendiri sempat mengunjungi The Holy Rock (tempat ibadah Daud as. dan tempat Haikal Yahudi) dan tempat itu menjadi Masjid Umar. Muncullah pengaruh Islam di Jerussalem.

Perselisihan yang terjadi di antara kepemimpinan umat Islam setelah zaman Muhamamad saw dan Khulafaurrasyidin (4 sahabat Nabi Muhamamad saw yang memimpin setelah nabi wafat) menyebabkan munculnya berbagai dinasti yang berganti memimpin Islam dari Dinasti Muawiyah sampai dengan Dinasti Abbassiah. Pada tahun 685-705, khalifah Abdul Malik dari Dinasti Abbasiah memperindah tempat suci Jerussalem dengan membangun Kubah Al-Sakhrah, atau Dome of the Rock. Pada tahun 929, terjadi pemberontakan kaum Qaramithah yang merampas Mekkah. Hal ini menyebabkan banyaknya eksodus bangsa Arab ke Jerussalem. Pada tahun 1969, Mesir, diduduki dinasti Fathimah yang menyatakan kemerdekaannya dari Dinasti Abbassiyah. Terjadi pertikaian antara kedua dinasti tersebut sampai dengan 1072 dan akhirnya Palestina dikuasai oleh Dinasti Fathimiah. Gereja Holy Sepulchre hancur saat serangan Dinasti Fathimiah ke Dinasti Abbasiyah.

Dome of the Rock (history.boisestate.edu)

Dome of the Rock (history.boisestate.edu)

Pada masa Perang Salib dan setelahnya (1099-1900)

Pada tahun 1099, datang serangan suku Frank dari Eropa yang membawa ke daerah Yerussalem yang membawa 40.000 tentara untuk menguasai Jerussalem. Jerussalem takluk dan akhirnya berdirilah kerajaan Latin di Jerussalem. Perang ini disebut Perang Salib I. Palestina dikuasai oleh suku Frank yang beragama Kristen. Adanya Perang Salib II yang berlangsung tahun 1147-1187 menyebabkan Palestina kembali berada di tangan Kerajaan Islam. Perang Salib berlangsung beberapa kali namun akhirnya berbuntut kepada perjanjian damai.

Pada tahun 1258, muncul serangan dari suku Tartar di bawah pimpinan Hulagu yang berasal dari Asia Tengah (Mongol). Serangan ini sempat menakukan Baghdad, Damaskus, dan Suriah. Namun, datangnya tentara dari Mesir menyebabkan mereka kalah dan akhirnya daerah itu dikuasai oleh Mesir.

Wilayah Dikuasai Turki (1516-1900)

Pada 1516, Turki menaklukan Mesir yang menyebabkan daerah itu ditaklukan Turki. Turki menjadikan daerah Palestina sebagai salah satu provinsi dan gubernur dikirim dari Konstatinopel. Turki menguasai Palestina selama 4 abad.  Mulai 1840, Turki membuka Palestina demi kepentingan ekonominya. Akhirnya muncul pelabuhan-pelabuhan dan konsulat-konsulat Eropa. Hal ini memunculkan semakin kecilnya pengaruh Turki dan membesarnya pengaruh para konsulat di sana. Sempat terjadi Perang Krim (1854-1856) karena persaingan antara Ortodoks Yunani dan Pendeta Latin.

Theodor Herzl (www.israelvets.com)

Theodor Herzl (www.israelvets.com)

Tahun 1896, Theodor Herzl, penggagas gerakan zionisme, mengeluarkan usulannya untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Hal ini disebabkan bangsa Yahudi yang terpencar dan tidak memiliki tanah air sejak Romawi menguasai Palestina. Akhirnya, beberapa orang Yahudi mendirikan koloni di daerah Palestina.

Berdirinya Negara Israel

Tahun 1914, muncul perselesihan antara Inggris Raya dan Turki. Akhirnya menyebabkan keduanya berperang. Palestina sempat dijadikan markas militer oleh Turki. Namun, akhirnya tahun 1918 Inggris resmi menang, dan Palestina dikuasai oleh Inggris.

Tanggal 2 November 1917, keluar deklarasi menteri luar negeri Inggris, Arthur Balfour, yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour. Deklarasi ini berisi tentang dukungan Inggris terhadap pendirian negara Yahudi di Palestina. Hal ini disebabkan oleh bangsa Yahudi telah membantu Inggris dalam memenangi Perang Dunia I dan Inggris ingin menguasai Palestina karena berada di daerah strategis di antara Asia, Eropa, dan Afrika.

Arthur Balfour (www.firstworldwar.com)

Arthur Balfour (www.firstworldwar.com)

Pada tahun 1920, kantor pemerintahan Inggris di Palestina (British Mandate of Palestine) berdiri, Komisi Tinggi-nya adl Herbert Samuel. Setelah tahun-tahun tersebut, imigrasi Yahudi ke daerah Palestina terus meningkat. Orang Yahudi yang baru datang, biasanya masuk ke kota dan mendirikan perusahaan-perusahaan di sana.

Tahun 1929, mulai terjadi kerusuhan besar antara bangsa Arab dan Yahudi. Konflik ini terjadi karena adanya perebutan hak-hak beberapa tempat suci di Yerussalem. Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan tim yang dibuat Inggris, hal ini terjadi karena orang-orang Arab tertekan dengan pembelian tanah dan imigrasi orang Yahudi yang akhirnya mendesak mereka.

Tahun 1933, bangsa Yahudi hanya berjumlah 17% dari seluruh masyarakat Palestina. Namun, setelah masa itu, saat Hitler berkuasa di Jerman dan Polandia, terjadi gelombang migrasi besar-besaran dari Eropa ke Palestina. Pada saat itu juga terjadi perubahan politik di Timur Tengah. Mesir dan Suriah yang merdeka menyebabkan tumbuhnya nasionalisme untuk memerdekakan diri. Akhirnya timbul wacana untuk melepaskan Palestina dari Inggris.

Tahun 1938, Konflik antara  Arab-Yahudi memuncak. Inggris mengeluarkan mandat yang intinya akan membagi Palestina menjadi dua bagian, yaitu untuk Arab dan Yahudi untuk menghentikan perpecahan. Namun, beberapa tahun kemudian mandat itu dicabut dan diganti dengan white paper yang intinya mendesak dibentuk satu pemerintahan gabungan antara Arab dan Yahudi. White-paper ini ditentang oleh bangsa Yahudi.

Pada saat itu, bangsa Yahudi yang tinggal di Amerika memegang peranan penting dalam perekonomian Amerika.  Hal ini menyebabkan Amerika berpihak kepada kepentingan bangsa Yahudi. Inggris yang mulai merasa terganggu hubungannya dengan Amerika akhirnya menyerahkan tentang Palestina ke PBB. Inggris sendiri akan menarik mandatnya dari Palestina tanggal 15 Maret 1948.

1 September 1947, PBB menyarankan agar Palestina dibagi 2, menjadi daerah untuk bangsa Yahudi dan Arab.  Bangsa Yahudi dan Arab yang tinggal di Palestina saling berebut pengaruh dan menolak aturan tersebut. Mulailah berbagai perang gerilya yang melibatkan keduanya. Namun, sayangnya, semangat bangsa Yahudi lebih berlipat dibanding dengan bangsa Arab di sana. Di saat terjadi perang, para ningrat Arab malah kabur ke negara lain. Tanggal 14 Mei 1948, Israel diproklamirkan orang-orang Yahudi. Esoknya Amerika Serikat mengakui kedaulatan Israel.

Perjuangan Palestina Pasca 1948
(red. Mulai saat ini, digunakan istilah bangsa Palestina untuk penduduk yang kebanyakan Arab yang tinggal di Palestina yang bukan masyarakat Yahudi)

Negara-negara Arab di sekitar Palestina menolak kehadiran Israel di sana. Terjadilah perang. Israel menang telak, dan akhirnya mengusai seluruh daerah Palestina kecuali Tepi Barat yang dikuasai Suriah dan Jalur Gaza yang dikuasai Mesir. Terjadi pengungsian besar-besaran bangsa Palestina dari Palestina. Penduduk Palestina terbagi menjadi 3, yang tinggal di pendudukan Israel, tinggal di jalur Gaza dan Tepi Barat, dan yang mengungsi ke daerah-daerah luar Palestina. Setelah itu, sering terjadi bentrok antara Israel dan negara-negara sekitarnya. Tahun 1964 berdiri PLO (Palestinian liberation Organization), sebuah organisasi yang nantinya diakui sebagai satu-satunya organisasi yang mewakili aspirasi masyarakat Palestina. Pada kelanjutannya, PLO dipimpin oleh Yaseer Arafat.

Yasser Arafat (www.mukto-mona.com)

Yasser Arafat (www.mukto-mona.com)

Pata tahun 1967, terjadi perang 6 hari antara Israel-Mesir. Mesir kalah telak sehingga Israel berhasil menduduki daerah Sinnai. Tahun 1973, Mesir dan Suriah bersatu untuk menyerang Israel, namun Israel menang dan menguasai daerah hingga mendekati Terusan Suez.  Mesir akhirnya mengakui keberadaan negara Israel, dengan imbalan daerahnya sampai dengan Sinnai dikembalikan ke Mesir (tercantum dalam Perjanjian Camp David 1978).

Sejak saat itu, wilayah Palestina dikuasai Israel. Israel sendiri demi kepentingan zionismenya, membentuk perumahan-perumahan untuk bangsa Yahudi di daerah Palestina. Israel sendiri menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat. Di sana, bangsa Palestina dijadikan masyarakat kelas dua. Perumahan mereka digusur dan diteror. Bangsa Palestina terus menerus menderita di bawah pendudukan Israel.

Akibat dari tekanan pendudukan Israel, muncullan gerakan yang dinamakan Intifada pada tahun 1987. Gerakan Intifada sendiri, yang secara harfiah berarti “pemberontakan”, merupakan gerakan melawan tentara Israel yang bersenjata dengan batu-batu dan ketapel. Seluruh aspek bangsa Palestina, baik itu anak-anak dan orang tua, lelaki dan wanita melakukan perjuangan dengan melempar batu ke arah tentara-tentara Israel yang bersenjata dan bertank lapis baja. Selain itu munculnya beberapa kelompok-kelompok garis keras, seperti HAMAS pada tahun 1987, yang memiliki pemikiran bahwa satu-satunya cara menguris Israel dari Palestina adalah dengan perang jihad.

Seorang Anak Melempar Batu ke Tentara Israel (www.voltairenet.org)

Seorang Anak Melempar Batu ke Tentara Israel dalam Intifada (www.voltairenet.org)

Intifada (www.israelnewsradio.net)

Intifada (www.israelnewsradio.net)

Jalur Diplomasi Dimulai

Pada 30 Oktober 1991, dimulai konferensi Madrid, antara Israel dan Palestina yang diwakili oleh PLO.  Pertemuan berlanjut sehingga pada 13 September 1993, ditandatangai Perjanjian Oslo yang berisi PLO diberi wilayah otonomi, yaitu 60% dari Jalur Gaza dan kota Ariha di Tepi Barat. Imbalannya, PLO mengakui eksistensi Israel. Pada  1 Juli 1994, Arafat memasuki Gaza dalam rangka mendirikan Otoritas Nasional Palestina (Palestinian National Authority; selanjutnya disebut PNA). Pada 1996 diadakan pemilu pertama bangsa Palestina, Yasser Arafat terpilih menjadi Presiden. Selanjutnya muncul beberapa perjanjian seperti:

  1. 17 Januari 1997, Perjanjian Al Khalil ditandatangani Israel-Palestina yang berisi 20% wilayah Al Khalil tetap dikuasai Israel, sisanya diserahkan kepada Palestina.
  2. 23 Okt 1998, Perjanjian Maryland ditandatangani Israel-PNA. Berisi Israel menyerahkan sebagian wilyah di Tepi Barat kepada PNA, sebagai imbalan, PNA berjanji mengatasi masalah terorisme (terorisme sendiri merujuk kepada tindakan HAMAS)

Wilayah Palestina sendiri terbagi dua, yaitu Tepi Barat dan Jalur Gaza yang masing-masing dipisahkan oleh wilayah Israel.

Yitzhak Rabin, Bill Clinton, Yasser Arafat dalam Kesepekatan Oslo (kenraggion.com)

Yitzhak Rabin, Bill Clinton, Yasser Arafat dalam Kesepekatan Oslo (kenraggion.com)

Pada 28 Sept 2000, Intifadah Kedua dimulai, dipimpin oleh HAMAS. PNA sendiri dalam pihak yang bertentangan dengan HAMAS. PNA lebih milih untuk berdialog daripada berperang. Pada 26 Okt 2004, gigihnya perjuangan Intifadah II membuat Israel kewalahan dan mengesahkan program penarikan mundur dari Jalur Gaza. Pada, 11 Nov 2004 Yaser Arafat meninggal. Kepemimpinan di PLO digantikan oleh Mahmoud Abbas. September 2005 dimulai penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza. Inilah kemenangan para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun, Israel terus melancarkan serangan dan teror ke Jalur Gaza. Selain itu, Israel mendirikan tembok-tembok pembatas yang mengucilkan pemukiman Palestina dan memperlebar perumahan bagi bangsa Yahudi.

Pada Pemilu 2006, HAMAS memenangi pemilu. Namun, sebagian besar negara barat menolak hasil pemilu ini karena menanggap HAMAS adalah teroris dunia. HAMAS sendiri berpusatkan di daerah Jalur Gaza.

Sayap Militer Hamas (heavenawaits.wordpress.com)

Sayap Militer Hamas (heavenawaits.wordpress.com)

Beberapa kali terjadi bentrok antara HAMAS dan Israel yang ditandai saling meluncurkan roket dan misil di perbatasam. Hal ini memaksa perang terjadi. Perang yang terakhir terjadi pada Desember 2008. Pasca gencatan senjata berakhir pada November 2008, tank-tank Israel masuk ke perbatasan  jalur Gaza dan milisi HAMAS menembakkan roket ke arah Israel dari Jalur Gaza. Akhirnya, dimulailah perang yang ditandai dengan tanggal 27 Desember 1998, Israel melakukan serangan udara yang diikuti serangan darat ke arah Jalur Gaza dengan dalih memusnahkan HAMAS. Perang terjadi sampai dengan 19 Januari 2008 dan menewaskan 1200 lebih warga Palestina dan belasan tentara Israel.  Sayangnya, dari kebanyakan warga yang tewas bukanlah dari kalangan militer. Bahkan, sekitar 600 orang merupakan anak-anak dan perempuan.

Pada saat tulisan ini dibuat (21 Januari 2009), Israel telah menarik mundur pasukannya dari Jalur Gaza. Keadaan Jalur Gaza saat ini bagaikan kota yang luluh lantah. Bangunan hancur dan masyarakat yang mengalami luka baik fisik maupun mental yang traumatis akibat perang. Rumah sakit penuh oleh orang yang terluka dan masyarakat yang hidup di sana kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Meskipun bantuan telah masuk, namun diperkirakan Jalur Gaza tidak akan pulih dalam waktu dekat. Padahal, deadaan di Palestina masih memungkinkan untuk terjadi perang kembali. Korban-korban lain masih mungkin berjatuhan.

Perempuan Gaza sedang Meratap (www.populisamerica.com)

Perempuan Gaza sedang Meratap (www.populisamerica.com)

Korban Anak-Anak di Gaza (www.monde-magouilles.com)

Korban Anak-Anak di Gaza (www.monde-magouilles.com)

***

Hentikan kekerasan di Gaza dan sekitarnya…

Chicken Tagged :-P Saturday, Dec 27 2008 

Fuih… udah lama ga nulis di blog. Akhirnya setelah dipaksa Mel, Restya, & Bintang baru deh timbul niat untuk nulis lagi. Tapi, sebelum posting yang aneh2, mau bayar utang dulu ke orang-orang yg udah ngetag tentang “10 things about me”. Makasih buat Andru, Mel, Manda, & Nur yg udah ngetag. Makasih juga buat ghe2 yg ngetag meskipun pake lisan :-P .

———————————————————————
Aturannya:
1. Each blogger must post these rules.
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves.
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog

———————————————————————
10 Things About Me

1. Buncit
Menurut rumus berat badan ideal, dengan tinggi 170 cm dan berat 60 kg harusnya sih saya ideal. Tapi entah kenapa, si berat yg 60 kg tuh ga merata di seluruh tubuh. Tangan tetep kecil dengan sedikit daging, tapi malah perut yg membesar. Sekarang, tingkat kebuncitan perut sy melebihi ayah loh.. Mungkin gara2 ga pernah olahraga rutin lagi semenjak tahun kedua kuliah. Akhirnya sering diketawain deh… :(

2. Mudah terbawa suasana kalo nonton
Yup, jangan heran kalo tiba-tiba saya nangis di depan laptop. Itu berarti saya lagi nonton film atau dorama. Mungkin karena terlalu menghayati, setiap nonton apapun, film, sinetron, atau dorama, biasanya kalo ceritanya mengharukan saya akan sangat mudah meneteskan air mata. Dulu pernah nonton 1 Litre of Tears dan di kali ketiga saya nonton masih nangis aja. Bahkan nonton Proposal Daisakusen, yang harusnya bukan film sedih, tetep aja nangis. :)

1_litre_of_tearsproposaldaisakusen

3. Trauma berambut rancung
Dulu, waktu SMA kelas 1, pernah nyobain rambutnya di rancungin. Tapi akhirnya malah diketawain 10 menit non-stop sama temen2 sekelas pas datang ke kelas. Abis itu dibuli-buli disuruh pidato pas pelajaran bahasa Indonesia. Akhirnya rambut rancung itu hanya bertahan 2 hari saja :(

4. Pecinta coklat
Kalo makan coklat rasanya jadi pikiran jadi cerah.. Makanya, kalo lagi suntuk atau stress kuliah, kalo ada waktu, suka ke toko Istek Salman beli coklat. Biasanya bakalan seger lagi. Ada yang mau ngasih coklat? :-P

5. Suka mondar-mandir
Kebiasaan dari kecil, kalo berpikir kayanya lebih enak kalo sambil mondar-mandir. Makanya, pas SD-SMP-SMA kalo mau ulangan biasanya belajar di kelas sambil jalan2 di kelas :D .

6. Kesulitan dalam menyimpan barang dengan rapih
He2.. Mungkin banyak cowo juga yg bernasib sama :-P . Entah itu meja belajar, tas, atau dompet pasti isinya berantakan. Sekarang aja di meja belajar udah penuh dengan kertas2 kuliah dari zaman TPB dulu s/d sekarang. Trus di tas pasti banyak kertas2 ga penting yang sebenarnya udah layak buang. Tapi males aja milahnya. Di dompet juga, banyak banget tiket parkir atau bon2 yang sebenarnya ga penting untuk disimpen.

7. Suka mengingat detail hal2 yang tidak penting

Biasanya, saya ingat perkataan2 orang, mimik muka orang, atau suasana suatu peristiwa dengan detail. Tapi sayangnya ga berlaku kalo tentang pelajaran. Malah kebalikannya, kalo masalah pelajaran yang bersifat hapalan, susah banget ingetnya. Dari dulu selalu jelek nilai biologi dan sejarah.

8. Ga suka deadliner
Biasanya kalo ngerjain tugas-tugas, ingin selesai H-1. Jadi, pas hari H pengumpulan udah berhenti kerja. Saya tuh gampang panik kalo udah dekat dengan deadline. Sayangnya kehidupan di IF sering memaksa untuk bekerja sebagai deadliner. Mungkin akibat dari banyaknya tugas yang menumpuk di saat bersamaan atau mungkin pula karena belum ada orang yang selesai sehingga ga ada yang ngebantu ngerjain tugas. Akhirnya sekarang mencoba untuk tidak panik di saat deadline.

9. Moody
Mungkin gara-gara memilik personality plus koleris-sanguis-melankolis yang sedikit berimbang, akhirnya di suatu saat bisa sangat ceria, di suatu saat bisa sangat galak, dan di suatu saat bisa sangat pendiam. Terkadang susah ngaturnya, tapi inginnya sih bisa menempatkan mood pada tempat yang sesuai.

10. Berwajah Ekspresif
Suasana hati bisa dilihat dengan mudah dari ekspresi wajah. Kalo lagi seneng, dengan mudahnya akan sering tersenyum. Kalau lagi bete mungkin akan terlihat berkerut dahinya. Tapi terkadang suka bingung memasang ekspresi muka juga. Jadi terkadang akan terlihat datar mukanya kalau bingung mau masang ekspresi apa. :D

Selesai….

Sekarang nge-tag orang2 dulu..

Hmm.. Ngetag PSDA dgn DE HMIF aja,ya… Supaya blognya pada rajin diisi:
Chandra
Difa
Alfia
Bayu
Elvina
Riki
Juli
Titz
Fahmi
Obbie

Ok, utang selesai… :)

Menutup Semester IV : Profession and Leadership Orientation – Jalan Panjang untuk Kaderisasi STEI 2007 Saturday, Oct 4 2008 

Tulisan ini akan bercerita tentang Kaderisasi STEI 2007 atau yang lebih terkenal dengan Profession and Leadership Orientation (PLO). Mungkin udah basi dan kenangannya pun terhapus oleh SPARTA (kaderisasi IF 2007) dan MBC (kaderisasi EL 2007). Tapi sebagai orang yang terlibat dari tahap perencanaan sampai dengan implementasi, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk melakukan transfer ilmu untuk HME dan HMIF selanjutnya. So, daripada mulut berbusa untuk cerita :-P , lebih baik saya ketik (toh, jari tangan ga bisa berbusa :idea: )

Sebelumnya, mohon maaf apabila ada detail kegiatan yang saya salah tulis atau lupa tertuliskan (tulisan ini dibuat 4 bulan setelah kegiatan selesai, padahal ceritanya dimulai lebih dari satu tahun yang lalu. Saya sendiri bukan orang yang suka menulis diari :wink: ). Maaf juga kalo tulisan ini ditulis dari segi pengamatan saya semata, sehingga mungkin ada sisi lain yang tidak terungkap dari PLO. Semoga tulisan ini bermanfaat… :)

***

Awalnya saya terlibat di PLO karena mendapat amanah di PSDA HMIF sebagai pendamping (sebenarnya lebih cocok disebut pembantu :P ) Mira Muliati (IF 05), biasa saya sebut Teh Mira, sebagai penanggung jawab proker Kaderisasi STEI 2007.

Penggabungan antara IF dan EL menjadi STEI membawa dampak langsung kepada himpunan, yaitu himpunan tidak bisa langsung mengkader mahasiswa tingkat pertama. HME dan HMIF ITB merupakan himpunan pertama di ITB yang melakukan kegiatan kaderisasi bersama di tingkat fakultas untuk angkatan 2006. Sayangnya, kegiatan tersebut memiliki beberapa masalah seperti budaya himpunan yang berbeda, adanya pembanding-bandingan himpunan oleh peserta, kebersamaan semu yang dibangun di STEI, dan banyak hal lain yang tidak terjadi tahun-tahun sebelumnya. So, banyak pihak yang akhirnya tidak ingin melakukan kaderisasi bersama lagi.

Tim Formatur Kaderisasi STEI 2006, awal dari PLO

Untuk menginisiasi perlu atau tidaknya kaderisasi STEI 2006, akhirnya dibentuklah tim formatur kaderisasi STEI 2006. Tim ini dibentuk oleh PSDA HMIF dan Kementrian Karakter HME. Berawal dari rapat di selasar dingdong yang diikuti oleh saya, Teh Mira, Kak Arda (EL’04, Menteri Karakter HME saat itu), dan Kak Adin (EL’05, kementerian karakter HME), dibentuklah tim formatur yang akhirnya secara resmi beranggotakan Kak Arda, Kak Ochal (EL’05, penyusun GDK HME), Totz (EL’06), Kak Aji (IF’05), Teh Mira, dan saya sendiri. Tugas inti dari tim ini adalah mengkaji perlu atau tidaknya kaderisasi, menetapkan capaian kaderisasi bila disepakati ada kaderisasi bersama, memilih ketua, dan evaluator kegiatan.

Untuk memutuskan tentang butuh atau tidaknya kaderisasi bersama, tim ini melakukan analisis kondisi dan kebutuhan akan kaderisasi STEI 2008. Metode yang dipakai adalah wawancara terhadap 2006 (Nur, Prana, dan Ega, ketiganya saya tembak di tempat ketika sedang di Labdas IV :lol: ), wawancara terhadap 2007 (ketua kelas, mahasiswa metropolis, mahasiswa daerah), kuesioner massa himpunan, kuesioner 2007, analisis GDK HME, dan analisis kebutuhan HMIF.

Rapat DE HMIF – Diakhiri dengan Tiga Buah Persyaratan

Rapat DE HMIF tentang ada atau tidaknya kaderisasi bersama, mungkin menjadi salah satu rapat DE yang memiliki tempat tersendiri di ingatan saya. Selain karena rapat itu merupakan rapat DE pertama saya, rapat tersebut merupakan salah satu rapat terpanas dimana emosi beberapa orang DE tampak terlibat. Saat itu, DE HMIF rapat bersama tim formatur yang diwakili oleh saya dan Teh Mira.

“Sejak menjadi panitia di kaderisasi kemarin, dalam hati saya bilang, tidak usahlah ada kaderisasi bersama lagi.”

Sesi brainstorming diawali dengan statement di atas oleh salah seorang DE. Begitu juga statement-statement selanjutnya yang kebanyakan berisi tentang kekecewaan terhadap kaderisasi 2006 dan penolakan adanya kaderisasi bersama kembali. Wajar saja banyak yang tidak ingin ada kaderisasi bersama. Hasil polling terhadap massa HMIF menunjukkan bahwa 60% massa himpunan angkatan 2005 ke atas menolak adanya kaderisasi bersama kembali. Keadaan menjadi 50-50 karena justru 60% 2006 ingin melakukan kaderisasi bersama kembali.

Namun, setelah melakukan list terhadap positif-negatif kaderisasi bersama, akhirnya DE HMIF memutuskan untuk sepakat melakukan kaderisasi bersama. Faktor terbesar yang menjadi poin tambah kaderisasi bersama adalah kecepatan 2007 berinteraksi dengan himpunan. Dikhawatirkan jika 2007 dibiarkan terlalu lama, maka akan terbentuk mind-set study oriented atau game oriented.

Namun, HMIF sendiri mengajukan syarat untuk kaderisasi ini:

  1. Kaderisasi didefinisikan bersama, yang akan disampaikan adalah hal-hal yang dirasa sama baik di HME maupun HMIF
  2. Panitia harus satu kesatuan, satu budaya dan satu tujuan. Jangan ada jaket himpunan, simbol himpunan, atau budaya yang berkaitan dengan himpunan.
  3. Jangan legowo, segala sesuatu jangan disimpan dalam hati, utarakan jika ada masalah sehingga terjadi saling pengertian.

Sepakat Jalan Bersama, Pembentukan Profil Kader Ideal

Setelah kedua himpunan sepakat untuk melaksanakan kaderisasi bersama, maka akhirnya tim formatur pun bekerja untuk membentuk capaian kaderisasi. Setelah melalui berbagai rapat, dan hearing dengan massa kedua himpunan, akhirnya terbentuklah guideline kaderisasi STEI 2007, yaitu 9 Profil Kader Ideal Kaderisasi STEI 2007:

  1. Memiliki konsep diri sebagai Makhluk Tuhan
  2. Manusia Pembelajar
  3. Memiliki kepedulian kepada lingkungan sekitar
  4. Memiliki komitmen untuk berkontribusi kepada bangsa
  5. Mengenal dunia EL dan IF
  6. Memiliki visi misi sebagai mahasiswa
  7. Mengenal lingkungan kampus
  8. Memiliki kemampuan manajerial diri dan organisasi
  9. Memiliki sikap yang kreatif dan inovatif

Perbedaan yang mungkin mencolok dari kaderisasi-kaderisasi biasanya adalah dihilangkannya kebersamaan dari materi dan diganti dengan kepedulian. Alasannya adalah karena sadar bahwa STEI 2007 suatu saat akan berpisah menjadi IF2007 dan EL2007 dan tidak “bersama” lagi. Jadi, yang harus ditanamkan adalah “kepedulian” yaitu siapapun orangnya asalkan kita tahu dia mengalami kesulitan atau masalah, kita wajib membantunya.

Namun, dalam sebuah rapat Teh Mira pernah mengatakan :

“Satu hal yang saya sadari sejak bersama tim formatur adalah kebersamaan akan menjadi semu apabila kebersamaan itu ada karena berada di tempat yang sama. Tapi, kebersamaan yang hakiki adalah kebersamaan yang terbentuk karena tujuan dan keinginan yang sama dan masing-masing berusaha untuk menggapai tujuan dan keinginan bersama tersebut.” :cool:

Terpilihlah Kak Syarief sebagai Ketua

Langkah pun berlanjut dengan pemilihan ketua. Empat orang mendaftarkan diri sebagai calon ketua, yaitu Kak Syarief (EL 05), Ivan Pradana Harka (IF 06) – bukan Ivan saya :P , Difa (IF 06), dan Nadhira (IF 06). Namun, Nadhira mengundurkan diri saat itu karena ada masalah keluarga. Diadakan 2 kali hearing calon ketua dan akhirnya, diadakanlah rapat penentuan ketua yang dihadiri oleh 6 orang tim formatur, 2 Ketua Himpunan (Kak Iqbal HMIF dan Kak Dolly HME), dan 2 Kadiv PSDA (Kak Nanto HMIF dan Kak Aulia HME).

Terlihat perbedaan mendasar dari 3 orang tersebut. Ivan yang tampak sangat menguasai kegiatan lapangan, Difa yang merangkul panitia 2006 lain, dan Kak Syarief yang mengusung kaderisasi dengan frame baru. Terpilihlah Kak Syarief sebagai ketua kaderisasi STEI 2007. Alasan terpilihnya Kak Syarief saat itu adalah diharapkan dengan kedudukan dia sebagai angkatan 2005 dapat diterima oleh kedua belah massa himpunan dan harapan akan frame baru tentang kaderisasi yang akan memberikan metode-metode baru sesuai dengan frame kader adalah manusia dewasa.

Akhirnya, beberapa di akhir semester ganjil 2007/2008, terbentuklah PLO. Struktur PLO sendiri, yaitu Ketua: Aditya Syarief, Wakil Ketua : Difa Kusumadiani, Koor. Materi : Ikhsan Sigma, Koor. Acara : Nadhira Ayuningtyas, Koor. Lapangan : Ivan Pradana, Koor. Non-Lapangan : Ricky Sihombing. Koor. Motivator : Haryo, Koor, P3K : Obbie

Konsep Kak Syarief

“Dalam konsep yang saya bawa, saya akan mengebiri peran danlap”

Kalimat di atas merupakan janji Kak Syarief saat hearing. Konsep yang dibawa Kak Syarief adalah konsep pendidikan manusia dewasa. Berbeda dengan kaderisasi-kaderisasi dahulu, yang peserta dianggap sebagai seseorang yang tidak tahu yang harus diberikan materi agar tahu, konsep kaderisasi Kak Syarief mengedepankan pendidikan manusia dewasa. Materi diberikan dengan cara lingkar wacana itupun bukan doktrinisasi.

Kegiatan lapangan sendiri berusaha diminimalisir oleh Kak Syarief. Peran danlap dikebiri dikarenakan, menurutnya, banyak danlap yang tidak memiliki integritas ketika berorasi. Selain itu, kegiatan lapangan sangat berpotensi memunculkan kegiatan marah-marah yang akhirnya menganggap bahwa peserta adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Tim Materi PLO

Di PLO, saya tergabung dengan divisi materi (terkadang dipanggil tim materi). Inginnya masuk motivator, tapi mengingat supaya ada kesinambungan antara profil kader dan materi, akhirnya saya bergabung dengan tim materi. Tim Materi PLO beranggotakan Sigma (koordinator), Bintang (EL 06), Arnauld (EL 06), Frida (EL 06), Restya (IF 06), Azwar (IF 06), dan tidak lain dan tidak bukan, tentunya, seperti telah saya tulis sebelumnya, di kalimat pertama, saya sendiri :oops: .

Di awal, kami menyusun materi berdasarkan 9 Profil. Dari mulai tujuan hingga akhirnya terbentuk alur kaderisasi. Setelah itu, mulai merencanakan tentang raport para peserta. PLO mencoba menganut sebuah sistem nilai baru, yaitu dengan REPLI (Respon, Emosi, Psikomotorik, Logika dan Integritas). Di sistem ini, nantinya peserta tidak hanya dinilai dari nilai tugas, tetapi juga dari aspek-aspek ketika lingkar wacana dan diskusi. Idealnya, ketika lingkar wacana, para motivator akan mengamati para peserta sementara mentor menyampaikan materi.

9-10 Februari 2008 – Leadership Orientation and Softskill Training (LOST) : TFT Materi untuk Calon Panitia

Awal semester genap 2007/2008 ditandai dengan diadakannya TFT Materi. Bertempat di ruang multimedia TVST B, diadakan LOST. LOST diadakan oleh 6 orang tim formatur ditambah Kak Syarief, Kak Adin, Kak Nanto (IF 05), Kak Aulia (EL 05), Anto (IF 06), Restya, Kiki (EL 06), Roffi (EL 06), dan Satria (EL 06) dengan Ketua Teh Mira. Panitia yang hanya sedikit orang ternyata dapat membuat sebuah pelatihan yang bahkan ternyata pada akhirnya secara kualitas pembicara dan teknis jauh lebih baik daripada seminar di acara PLO sendiri.

LOST menghadirkan pembicara Pak Rama Royani (pakar talent mapping, dosen luar biasa FT ITB), Pak Dindin Sjafruddin (trainer Muhammad Group), Kak Ronny (IF’02, mantan Ketua Divisi Internal HMIF dan danlap kaderisasi), Eko Prasetyo (penulis buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah”), M Fadjroel Rachman (aktivis kenegaraan, sekarang diberitakan menjadi capres independen), dan Tim Psikolog ITB.

TFT ini merupakan syarat wajib agar seseorang dapat menjadi panitia PLO. TFT ini juga sempat membuat sebuah dongeng sebelum tidur baru, yang berjudul “Gadis Pembawa Nampan” :D

Bergeraknya Panitia, Harapan Besar untuk Sebuah Kaderisasi

Dimulai dari libur semester ganjil 2007/2008, tim materi pun mulai menyusun materi. Di bawah arahan 9 profil kader, terbentuklah alur dan rancangan materi. Dari materi yang telah dibuat, diserahkan kepada tim acara untuk dibuat acara-acara yang akan dilakukan. Terbentuklah rancangan acara PLO.

Di sisi lain, para motivator pun giat berlatih untuk menjadi motivator yang baik. Tak kurang dari 2 pelatihan motivator diadakan agar mereka dapat berkomunikasi dengan baik dengan peserta. Selain itu, dikumpulkan para aktivis himpunan dari angkatan 2005 ke atas untuk menjadi mentor kaderisasi. Diharapkan dengan pengalaman mereka, mereka dapat memberikan banyak materi kepada peserta. Di bagian non-lapangan pun demikian, majalah dinding dibuat agar ada komunikasi dengan pihak massa himpunan.

Peserta mulai dikumpulkan di awal semeseter genap 2007/2008. Di sana, mereka mendapat tes awal dan tes personality plus untuk pembagian kelompok. Sebuah harapan besar untuk PLO. Sebuah harapan besar untuk kader HME dan HMIF selanjutnya.

Perizinan, Akar dari Semua Permasalahan yang Akan Datang

Perizinan, inilah cikal bakal semua masalah yang akan terjadi di PLO. Perkara dimulai ketika proposal yang diajukan panitia terbentur di Bapak Nanang (koordinator kemahasiswaan Prodi Elektro). Diawali dengan alasan, “Mengapa materinya sangat banyak? Nanti waktu anak-anak untuk belajar terganggu. Mengapa masih saja ada materi kepemimpinan? Bukankah hanya beberapa orang saja yang perlu jadi pemimpin.”. Lobi-lobi terus dilakukan namun tetap saja izin tidak keluar. Malah, keluar pernyataan, “Dengan kaderisasi maka kita tidak menghormati hak asasi manusia.” (emangnya kami mau ngapain,pak? :x ) . Frame lama tentang kaderisasi yang keras ternyata masih kental di pikiran bapak-bapak di Elektro. Seberusahabagaimanapun lobi dilakukan, hasilnya tetap nihil.

Hari Pertama PLO (13 April 2008) : Sebuah Awal yang Sederhana

Di tengah keadaan PLO yang belum diizinkan, panitia memaksakan ada sebuah acara pada 13 April 2008 di selasar GKU timur. Dengan alasan, 2007 sudah diberitahu bahwa akan diadakan acara PLO. Acara sendiri akhirnya berupa acara sederhana pembagian kelompok, pengenalan motivator, games bola pingpong, dan diakhiri dari wejangan Kak Syarief.
Tidak ada sebuah acara seremonial, tidak ada orasi dari ketua ataupun kahim, tidak ada massa himpunan. Semua itu dilakukan karena fakultas belum mengizinkan PLO namun ada lampu hijau jika tidak melibatkan massa yang besar. Maka acara dibuat per kelompok dan kebanyakan diisi sesi lingkar wacana oleh motivator dan games kelompok.

Hari Kedua PLO (19-20 April 2008) : Agama, kenapa tidak?

“yak tdi gw mrasa masuk pesantren.. bner2 mau kabur tdi gw..”

Petikan di atas adalah salah satu comment di friendster stei 2007 menanggapi hari kedua PLO. Ada juga “ko PLO pake dipisah2in pake agama sih?? ga seru nih!”. Hari kedua PLO, diawali dengan sesi lingkar wacana tentang konsep diri dari motivator dan mentor (akan ada cerita khusus dari bagian ini di bagian selanjutnya). Acara selanjutnya dilanjutkan oleh pembagian per agama untuk selanjutnya acara diserahkan ke masing-masing unit keagamaan. Acara 2 hari itu berisikan konsep diri sesuai dengan agama.

Beberapa orang menganggap bahwa kaderisasi umum tidak perlu memasukkan kegiatan agama di dalamnya. Tapi satu hal yang disadari oleh tim formatur dan tim materi PLO saat itu, sebuah konsep diri haruslah berpatokan dengan agama masing-masing. Tidak ada yang bisa mengikat seseorang selain agamanya sendiri. Hanya agama yang bisa membuat orang bangun jam 3 untuk sahur. Hanya agama yang bisa membuat orang tidak berbicara selama 1 hari. Agamalah yang bisa jadi patokan seseorang untuk berbuat baik.

Dimana mentor? : Loyalitas yang Dipertanyakan

Berawal dari konsep Kak Syarief yang lebih mengedepankan lingkar wacana, dicarilah para mentor untuk lingkar wacana. Mentor ini merupakan angkatan 2005 ke atas yang bertugas menyampaikan materi PLO. Dipilih angkatan 2005 ke atas karena mereka lebih berpengalaman. Namun, ternyata hal itu menjadi sebuah masalah di PLO ini. Pada hari kedua, dimana saat mentor dibutuhkan lingkar wacana, dari 30 mentor yang dibutuhkan, hanya 5 orang mentor yang datang.

Satu jam sebelum mentor bertugas, harusnya diadakan briefing di selasar dingdong. Restya dan saya mendapat tugas menunggu di sana. Namun, sampai kami berlumut (agak hiperbolis sebenarnya :D ), sampai 15 menit lagi sebelum mentor bertugas, baru 5 orang yang datang dan tidak ada tanda-tanda akan bertambah :cry: . Kami pun panik. Akhirnya, para motivator pun dipanggil untuk dibriefing menggantikan para mentor. Pada saat briefing, para motivator menolak karena merasa tidak sanggup menyampaikan materi. Sempat terjadi kebingungan karena 5 mentor yang hadir pun tidak siap jika harus menyampaikan materi dengan jumlah peserta banyak. Beruntung akhirnya motivator menyanggupi untuk mengganti setelah Ega dan Risa menyemangati para motivator yang lain.

Sejak saat itu, kami (tim materi) mulai mempertanyakan loyalitas para mentor. Meskipun setelah hari itu, kami masih me-ngejar2 para mentor, toh akhirnya tidak lebih dari 15 mentor yang bertahan. Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, terpaksa para motivator yang memberikan materi PLO. Meskipun, banyak yang mengeluh karena merasa belum siap menyampaikan materi.

Masa Suram Dimulai : Tidak Ada Kejelasan, Pembuatan Plan A-Z, Hilangnya Panitia, Pengunduran Diri Beberapa Panitia

Setelah 2 hari acara keagamaan, sembari menunggu izin dari pihak STEI, PLO ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Peserta diberikan beberapa tugas agar tertanam bahwa PLO masih ada. Pihak Kak Syarief dan Tim Acara terus berusaha melobi-lobi pihak STEI agar diizinkan, namun bukannya menemui titik terang, pihak STEI malah hanya memberikan izin 3 hari untuk PLO, itupun setelah selesai masa UAS, yaitu bulan Juni. Tim Acara yang sudah menghubungi pihak pembicara untuk mengisi beberapa pertemuan yang dirancang sebelumnya, terpaksa harus membatalkan beberapa pembicara. Akhirnya mereka membuat plan-plan untuk PLO. Ada plan dimana untuk acara 2 minggu dan plan untuk acara 1 minggu. Namun, tetap saja, proposal ditolak! :x

Kesalahan terbesar Kak Syarief, menurut saya, pada saat itu adalah membiarkan kepanitiaan simpang siur lebih dari 1 bulan. Tidak ada rapat dan penjelasan lebih lanjut dari Kak Syarief kepada panitia tentang kejelasan PLO. Hal ini diperparah karena, menurut beberapa koordiv, Kak Syarief pun hanya sedikit berkomunikasi dengan para koordinator divisi. Akhirnya, panitia pun banyak yang kehilangan komitmen dan loyalitas terhadap PLO sehingga ketika dikumpulkan kembali, hanya sedikit panitia yang tersisa.

Di sisi lain, pihak STEI hanya memberikan tambahan 1 hari, sehingga mereka hanya mengizinkan 4 hari kegiatan PLO, itupun harus ada 1 hari yang melibatkan dosen. Merasa kecewa dengan keadaan, akhirnya banyak panitia terutama dari divisi acara yang akhirnya mengundurkan diri dari kepanitiaan. Kebanyakan dari mereka kecewa karena rencana-rencana mereka ditolak oleh STEI ditambah izin pun tidak kunjung diberikan oleh STEI.

Rapat Ketua PLO, Tim Formatur, HME, dan HMIF : Apakah kita Sudahi PLO ini?

Tanggal 26 Mei 2008, akhirnya diadakan rapat penentuan tentang nasib PLO di pinggir Lab. Basis Data Labtek V. Rapat dihadiri oleh Kak Nanto (udah jadi ketua HMIF), saya (udah jadi Kadiv PSDA HMIF :D ), Kak Dolly (Ketua HME), Kak Aulia (Menteri Karakter HME), Kak Aji, dan Teh Mira (keduanya mewakili tim formatur PLO).

Di awal, Kak Syarief memaparkan bahwa tampaknya sudah tidak mungkin melobi pihak STEI. Sebaik-baiknya rencana adalah mengadakan PLO selama 5 hari, 31 Mei-5 Juni, dengan menambahkan acara-acara yang melibatkan dosen di sana. Tidak mungkin mengejar semua materi untuk disampaikan.

Sempat kepikiran untuk membubarkan PLO. Apa sih yang bisa dilakukan hanya 5 hari yang itupun diatur oleh STEI? Bukankah kaderisasi bisa ditunda di saat 2007 memasuki tahun kedua saat mereka sudah mendapat program studi masing-masing. Namun, beberapa pertimbangan akhirnya yang membuat kami sepakat untuk melanjutkan PLO, yaitu:

  1. Menyelesaikan apa yang telah dimulai.
  2. Memberikan penghargaan kepada 2007 yang telah mengerjakan tugas-tugas dengan penuh semangat.
  3. Pembuktian bahwa HME-HMIF bisa mengikuti perintah STEI. Hal ini bisa menjadi “investasi” untuk tahun-tahun selanjutnya jika akan melaksanakan kaderisasi bersama kembali.

Mengumpulkan Panitia-Panitia yang Tersisa

Dua hari kemudian, di amphi arsi, panitia dikumpulkan. Terlihat pengurangan yang berarti dari jumlah panitia. Di awal, sempat terdapat 50-60an lebih panitia, namun saat itu hanya sekitar 20-30an orang yang datang. Saat itu ditanya, apakah kami siap melanjutkan PLO? Jika siap, silahkan dalam 2 hari kumpulkan surat kontrak panitia.

Jum’at 30 Mei 2008, Perizinan Belum Keluar juga!

(Sebelumnya maaf, untuk bagian ini, ga ngalamin langsung. Setelah malamnya begadang menyelesaikan tubes OOP, besoknya ada deadline tugas calon asisten basis data [untungnya keterima :D ]. Dari IF 2006 sendiri menurut sebuah sumber hanya datang Restya, Adi, dan Ivan P, sisanya kemungkinan besar tepar setelah begadang semalaman :P )

Peserta sudah diberitahu bahwa Sabtu, 31 Mei 2008 akan diadakan PLO. Tapi, Jum’at malam, panitia dikumpulkan. Kak Syarief mengatakan bahwa izin kembali tidak keluar. Izin hanya keluar untuk tanggal 2-5 Juni. Dia mengatakan tidak menjamin bahwa acara besok bisa dilaksanakan.

Di tengah ketidakpastian, akhirnya panitia, dimotori Ivan Pradana (bukan Ivan saya :-P ), Sigma, dan Sakur, memutuskan untuk tetap akan mengadakan PLO hari Sabtu. Dirancanglah acara hari Sabtu, yang intinya menyampaikan bahwa mereka telah melewati beberapa tahapan selama satu tahun di ITB dan sekarang mereka akan mengalami tahapan selanjutnya. Selain itu, acara pun dirancang sebagai pembukaan resmi PLO. Acara direncanakan diadakan di Babakan Siliwangi agar tidak ada gangguan dari pihak kampus yang sedang mengadakan USM.

Sabtu 31 Mei 2008, Acara Bayangan dan Pembukaan Resmi PLO

(Saya sendiri masih sibuk dengat wawancara dan presentasi calon asisten Lab Basis Data sehingga datang telat)

Akhirnya, hari Sabtu, 31 Mei 2008, diadakanlah pembukaan resmi PLO. Acara diawali dengan pembagian kelompok yang selanjutnya akan dikirim ke pos-pos. Pos-pos ini sendiri lain dari biasanya. Biasanya, dalam sebuah pelatihan, tiap pos akan memiliki materi tetap yang berbeda dengan pos lainnya. Namun, di pos-pos kali ini, justru tiap pos berubah materi sesuai sesi. Sesi-sesi ini menggambarkan kehidupan mahasiswa di tahun pertama. Sesi belajar – disimulasikan dengan merangkum buku dan mengerjakan soal-soal kalkulus, dll, sesi istirahat – digambarkan dengan memejamkan mata dan mensimulasikan istirahat, sesi istirahat (benar-benar istirahat), sesi mencoba hal yang baru – disimulasikan dengan orasi (akan dibahas di bagian selanjutnya), dan terakhir sesi tantangan – disimulasikan dengan simulasi menara loncat.

Acara diakhiri dengan pembukaan PLO yang berisi pembacaan puisi dari kedua kahim, dan orasi dari ketua PLO. Di bawah cuaca yang mendung, di jembatan babakan Siliwangi menghadap ke pemukiman-pemukiman padat penduduk, akhirnya dibukalah secara resmi PLO STEI 2008.

“Lihat ke pemukiman di depan sana, bandingkan dengan megahnya Labtek V dan VIII”
(petikan orasi Kak Syarief)

Sesi Orasi – dari kenaikan BBM, uban, Steve Immanuel masuk Islam, hingga Undang-Undang

Bagian yang bagi saya menarik di acara pos-posan di pembukaan PLO adalah sesi orasi. Peserta akan diberikan sebuah tema, dan secara cepat dia harus memberikan orasi tentang tema tersebut. Saya sendiri yang tidak kebagian menjaga pos karena datang telat, akhirnya sempat jalan-jalan ke beberapa pos dan melihat beberapa adegan menarik.

Di pos Sakur, Restya, dkk., sesi orasi dimulai dengan membahas topik kenaikan BBM. Si peserta akhirnya membahas bagaimana ketika BBM dinaikkan, rakyat menderita.

“… Oleh karena itu, marilah kita turun ke jalan. Kita buktikan bahwa mahasiswa ada di pihak rakyat.”

Nah, begitu berjalan ke pos Teja, Nur, Adi, Andru, dkk., ternyata topik yang dibahas berbeda. Pos saat itu dipegang oleh Teja. Teja sendiri memberikan topik-topik yang unik. Kepada salah seorang perserta dia berkata: “OK, karena kamu ber-uban (rambut putih di kepala), sekarang topik kamu adalah tentang uban. :D “. Dan kepada salah seorang peserta, ia memberikan topik “Steve Immanuel masuk Islam”. Sontak si peserta kaget :shock: , karena meskipun topik itu sedang hangat saat itu, tetapi untuk sebuah orasi, topik tersebut sangatlah sulit. Akhirnya, mungkin karena ia tidak tahu harus bicara apa, akhirnya ia berbicara:

“Teman-teman, masuknya Steve Immanuel ke Islam, merupakan bukti bahwa Islam adalah agama yang dapat diterima oleh semua orang. Agama Islam, seperti yang telah terbukti di zaman Nabi, merupakan agama yang dapat diterima dengan mudah oleh orang-orang kafir. Hal ini membuktikan bahwa Islam sesuai dengan hati nurani manusia.”

Beruntunglah orasi tersebut akhirnya di-cut karena jika dilanjutkan mungkin orasi akan berubah menjadi ceramah Islamisasi peserta PLO. :)

Pos terakhir yang saya kunjungi ketika sesi orasi adalah pos Frida, Ega, dkk. Di pos ini, seorang peserta sedang berorasi tentang masyarakat Indonesia yang tidak berkelakuan sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. Ia mengkritisi orang-orang yang tidak hafal pembukaan UUD 1945. Namun, ketika saya balik Tanya apakah dia hafal, dia menjawab “Tidak, Kak…” :( .

Senin, 2 Juni 2008 : PLO Resmi Hari Pertama, Seharga 1,25 juta

PLO hari ini direncanakan diawali dengan acara senam bersama dosen di Sabuga. Namun, ternyata tidak ada 1 dosen pun yang memenuhi undangan. Beruntung, karena ternyata STEI 2007 telat hampir 45 menit karena mereka membagi-bagi tugas buku angkatan terlebih dahulu. Panitia pun cukup kesal dengan ketelatan ini karena panitia sendiri telah hadir sejak pukul 5 pagi di Sabuga atau 1 jam sebelum acara.

Acara dimulai dengan meminta peserta untuk membuat gaya senam sesuai dengan musik yang diberikan. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan sesi motivatoring bersama para motivator. Sesi motivatoring selesai, peserta dimobilisasi ke selasar geodesi untuk menonton film “October Sky” sampai istirahat makan siang.

Setelah break makan siang, diadakan sesi materi dari Bunda Marwah Daud Ibrahim (anggota DPR Fraksi Kebangkitan Bangsa). Materi yang diberikan adalah MHMMD (Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan), berisikan materi dari buku berjudul sama karangan beliau, berintikan tentang manajemen diri.

Mungkin peserta merasa terpuaskan dengan materi ini. Memang materi disampaikan dengan berbagai metode tidak biasa, seperti menyanyi dan menonton film. Namun, di lain pihak panitia mengalami masalah di belakang layar. Yang pertama adalah protokoler Bunda Marwah yang sempat memarahi panitia karena tempat yang diberikan adalah outdoor, padahal dijanjikan indoor (gimana bisa pinjam dalam ruangan, izin acara saja baru diberikan H-1 :( ). Yang kedua adalah ternyata, biaya mengundang Bunda Marwah di luar ekspektasi panitia. Ternyata, begitu mereka datang, panitia diberikan tagihan Rp. 1.250.000,00 8-O . Padahal, Niko Robbel (EL 06) sebagai penanggung jawab pengundang Bunda Marwah tidak diberi tahu ketika membuat perjanjian. So, seperti biasa, kami hanya menyiapkan uang transport, kenang-kenangan, dan makan siang (standar jika mahasiswa mengundang pembicara). Sontak, Niko panik menghubungi 2 kahim untuk meminta uang tambahan PLO. Beruntung kedua himpunan memberikan masing-masing 500 ribu rupiah dan dana tambahan dari PLO sebesar 250 ribu rupiah.

PLO hari kedua ditutup oleh pemberian tugas cerpen sebagai hukuman karena keterlambatan peserta di pagi hari untuk dikumpulkan Rabu.

Company Visit HMIF, berkurangnya panitia di hari Selasa dan Rabu

“Van, maaf, ya, ada Company Visit bentrok dengan PLO”

Wisnu Adityo (Cuz), Kadiv Hubungan Luar HMIF, meminta izin waktu itu ketika HMIF mengadakan Company Visit (kunjungan himpunan ke beberapa perusahaan) pada tanggal 3-4 Juni 2008. Tapi apa daya, memang PLO sendiri yang melanggar agenda yang telah ditetapkan (waktu sebelum ada masalah, PLO direncanakan selesai awal Mei). Akhirnya, Comvis mengurangi jumlah panitia yang berasal dari HMIF. Hanya beberapa orang, sekitar 8-10 orang, yang tersisa (termasuk saya, padahal ingin banget ikut comvis :( ).

Beberapa hari sebelumnya, saya ditelepon secara langsung oleh Kak Iqbal. Isinya mempertanyakan bentrok kedua acara tersebut dan loyalitas HMIF terhadap PLO. Dia takut ada kesan dari HME bahwa HMIF tidak serius mengerjakan PLO. Out of Topic, waktu itu sempat terkejut ditelepon Kak Iqbal. Saat itu kali pertama Kak Iqbal menelepon saya secara langsung. Meskipun udah ga jadi kahim, tetap saja ada perasaan takut saat nerima telepon itu :D .

Waktu itu saya hanya bisa berharap semoga orang-orang yang tersisa dari HMIF bisa bekerja maksimal sehingga berkurangnya panitia tidak mengganggu PLO.

Selasa, 3 Juni 2008 : PLO Resmi Hari Kedua, Kunjugan ke Masyarakat

Diawali dengan sesi lingkar wacana, PLO hari kedua dilanjutkan dengan kunjungan ke masyarakat kumuh untuk wawancara. Hari sebelumnya, peserta diminta memakai baju paling bagus yang mereka punya pada hari ini. Tujuannya agar peserta merasa miris ketika terjun ke lingkungan masyarakat kumuh dan akhirnya timbullah sense of crisis. Tapi sayangnya saya nggak sempet merhatiin ada yang pake gaun pesta atau tidak :-P .

Peserta disebar ke berbagai pos, Cisitu, Kebon Bibit, dll. Saya sendiri mendapat tugas mengawal peserta ke Kebon Bibit bersama Nana, dkk.. Per kelompok diminta wawancara 3 keluarga untuk hasilnya dibahas di sesi lingkar wacana pada siangnya .

Rabu, 4 Juni 1988 : PLO Resmi Hari kedua, Studium Generale

Diawali dengan sesi lingkar wacana kembali, PLO hari ketiga dilanjutkan dengan Studium Generale. Studium Generale dilaksanakan di 9232 dan dibagi 3 sesi. Sesi pertama merupakan sesi Realita Bangsa, membahas tentang kenaikan BBM oleh seorang Mas Agus (TK’02). Sesi kedua adalah sesi kepemimpinan, oleh seorang alumni Teknik Elektro angkatan 97 (lupa namanya :( ). Sesi terakhir adalah sesi pengenalan prodi IF-EL oleh Pak Adang (Dekan STEI), dan jajaran petinggi STEI lainnya.

Sebelum sesi kedua dimulai, sempat tim materi membahas beberapa masalah kecurangan yang ditemukan dalam tugas cerpen sebelumnya.

Tugas Cerpen : Akhirnya berubah menjadi materi kejujuran

“Kalau dulu sih kami langsung push-up”

Begitu kata-kata Kak Lafrania Taufik (IF 04), salah satu mentor, saat diminta saran tentang hukuman atas ketelatan peserta saat Senin pagi. Waktu itu, di sela-sela materi MHMMD di selasar Geodesi, saya, Frida, Restya, Arnauld, dan Bintang sempat bingung apa hukuman yang akan diberikan peserta atas ketelatan tadi pagi. Frida yang tampak sangat kesal dengan ketelatan tersebut, akhirnya mengusulkan agar peserta diberikan tugas essay tentang kedisiplinan.

“Beneran, Van, nanti saya baca satu-satu essaynya.”

Tapi, setelah menimbang usulan Bintang bahwa nantinya tim materi akan bosan memeriksa essay, akhirnya diputuskan untuk memberikan tugas cerpen tentang kedisiplinan. Saya yang mendapat tugas mengumumkan spek-nya pada hari Senin sore. Speknya sendiri adalah membuat tugas cerpen tentang kedisiplinan. Font times new roman 10, spasi 1, margin 2, 2, 2, dan 2, minimal 1 halaman, nama dan nim pada header. Cerpen harus mengandung unsur seorang tokoh yang disiplin, manfaat dari disiplin, dan efek dari tidak disiplin.

Spek sendiri akhirnya bertambah karena ada yang bertanya apakah boleh ditulis tangan. Ketika saya bilang boleh, tampak raut wajah tersenyum dari para peserta dan kesal dari tim materi. Akhirnya saya menambahkan spek, jika dituilis tangan, minimal 2 halaman. Akhirnya raut muka berumah menjadi senyum dari panitia dan raut kesal dari peserta. Ditambah ucapan “Bagus, Van. Kamu nyebelin…” dari panitia lain :evil: .

Pada Rabu siang, ketika cerpen telah dikumpulkan, tim materi iseng melihat cerpen-cerpen hasil para peserta. Namun, secara tidak sengaja akhirnya ditemukan beberapa peserta yang melakukan kecurangan. Ada yang memperbesar margin, spasi, dan font untuk mempersingkat cerpen. Tapi, yang membuat kesal adalah ternyata ada beberapa cerpen yang terbukti merupakan plagiat. Ada sebuah cerpen yang merupakan plagiat dari sebuah majalah dan untungnya ada tim materi yang pernah membacanya.

Kecurangan yang paling fenomenal ditemukan adalah, berkat kejelian Restya, ditemukan dua buah cerpen yang memiliki potongan cerita yang sama, padahal jumlah halamannya pun berbeda. Akhirnya, kami bahas di sela-sela sesi Studium Generale Rabu itu. Akhirnya, ketahuan bahwa kedua orang itu (padahal tidak saling kenal) mengambil cerpen tersebut dari sebuah majalah. Tim materi akhirnya meminta orang-orang yang bermasalah mengumpulkan kembali cerpen baru mereka pada hari Kamis.

Kamis, 5 Juni 2008 : PLO Resmi Hari Terakhir, Akhirnya berakhir sudah

Lingkar wacana pagi hari terakhir diisi dengan penarikan visi dan misi diri peserta selama di kampus oleh para mentor dan motivator. Setelah itu, peserta diberikan istirahat selama 1 jam untuk mempersiapkan sebuah penampilan peserta untuk panitia.

Penampilan sendiri dilakukan per dua kelompok. Peserta diberikan kebebasan untuk menampilkan sesuatu selama 8 menit dengan tema Indonesia. Ada yang menyanyi, drama, orasi, dll. Penampilan dilakukan di amphi GKU Barat

Ketika peserta melakukan penampilan, di sisi lain bank niaga, saya, Ivan P, dan Kak Nanto, sedang sibuk berdiskusi tentang rangkaian penutupan. Jadi, penutupan yang akan dilangsungkan beberapa jam sejak saat itu, belum dikonsep sama sekali. Hal ini tidak terlepas dari sakitnya Totz yang diberi tugas mengonsep acara penutupan. Dalam waktu singkat saya dan Kak Nanto memberi saran kepada Ivan P tentang acara penutupan.

Penampilan kelompok para peserta dilanjutkan dengan penganugerahan beberapa awards dari peserta kepada panitia. Ada tercakep (dimenangkan Kak Syarief, katanya sih gara-gara kharismatik :D ), tercantik (Nana), teraniaya (entah kenapa saya :???: ), dan tercouple (Rivo dan nana). Setelah itu para peserta menyanyikan lagu “kisah klasik”nya SO7. Acara penampilan ditutup dengan pengumuman tentang kaderisasi HME dan HMIF selanjutnya.

Setelah penampilan selesai, peserta diberi istirahat sholat Ashar dan dikumpulkan kembali di GKU Timur. Di sini, Sigma memberikan hadiah kepada para peserta berupa stiker tentang deskripsi kelompok masing-masing. Dulu, Sigma pernah menjanjikan akan memberikan hadiah kepada kelompok terbaik. Tapi, beberapa jam (lagi) sebelum penutupan, akhirnya terpikir untuk memberikan hadiah kepada semua kelompok dengan esensi bahwa tiap kelompok adalah unik dan terbaik di kategori masing-masing.

Dari GKU Timur, peserta dimobilisasi ke amphi arsi. Diiringi rintik-rintik gerimisnya hujan, acara penutupan diawali dari orasi Kak Nanto, Kak Dolly, dan Kak Syarief. Setelah itu, peserta diminta memberikan salam ganesha ke 4 penjuru dan memejamkan mata. Beriringan dengan salam ganesha itu, panitia maju ke hadapan peserta dan akhirnya selesai peserta salam ganesha, panitia telah berada di hadapan peserta dan mengumandangkan salam ganesha. Barisan panitia disusun sehingga jaket HMIF dan HME (khusus penutupan boleh memakai atribut himpunan) saling bersilangan di sekeliling kedua kahim dan Kak Syarief.

Gerimis sempat mereda ketika peserta dan panitia sama-sama menyanyikan lagu “Mentari” diiringi aksi semprot api dari kedua sisi panggung. Sebuah penutupan yang syahdu dan khidmat untuk akhir PLO (hari itu kali kedua saya menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu Mentari :cry: [dikit nangisnya… ga banyak2. Ntar dibilang cengeng :P ]).

Arti dari PLO

Banyak yang tidak puas terhadap PLO ini. Ya iya lah (masa ya iya dong, ntar bagai pinang dibelah dua jadi bagai pinang dibedong dua :-) ), kalau PLO dihitung-hitung hanya terlaksana selama 7 hari. Miris jika dibanding dengan persiapannya yang dimulai sejak STEI 2007 masuk ITB. Tapi, bagaimanapun menurut saya ada hal-hal penting yang terkandung dalam PLO :

  1. Pembuktian bahwa HME dan HMIF bisa bekerja sama

    Sejak bergabung dalam STEI, seperti kakak adik dalam keluarga, secara alamiah orang-orang akhirnya selalu membandingkan antara HME dan HMIF. Hal ini, menurut anggapan saya, akhirnya menimbulkan persaingan antara kedua himpunan (padahal dulu biasa-biasa aja). Akhirnya, anggapan saya kembali, terkadang persaingan itu berubah menjadi persaingan tidak sehat seperti saling merendahkan himpunan lain atau membangga-banggakan himpunan sendiri. Tapi, dengan PLO ini, terbukti bahwa HME dan HMIF bisa bekerja sama dengan baik membuat sebuah acara. Selain itu, bagi 2006, hal ini menjadi sebuah reuni kembali setelah dikader sebagai STEI 2006 tahun sebelumnya (terkenang massa-massa STFK dulu :D )

  2. Pembuktian tekad yang kuat

    Terkadang, kita mudah menyerah apabila keinginan dihadang berbagai masalah. Contoh di kalangan mahasiswa adalah keinginan mendapat IP 4 terkadang surut begitu mengetahui harus banyak baca dan belajar :D . Tapi, PLO ini merut saya merupakan pembuktian tekad untuk melaksanakan acara. Walaupun perizinan menghadang begitu hebatnya, di tengah prinsip tetap ingin mengadakan acara legal, akhirnya PLO bisa terlaksana dengan legal meskipun hanya beberapa hari. Di tengah sedikitnya panitia yang bertahan, acara-acara bisa tetap dilaksanakan meskipun akhirnya banyak yang serabutan dan kerja rodi (P3K yang tersisa 2 orang di 5 hari terakhir, logistik yang tersisa 5 orang, dll) . Semoga bisa menjadi pelecut untuk mendapat IP 4 :-P

Bagi saya sendiri, PLO punya arti sendiri karena kaderisasi 2007 merupakan proker pertama yang diberikan oleh HMIF. :)

Penutup

Agak menyesal sebenarnya PLO tidak berjalan sesuai rencana karena perizinan. Padahal, PLO sendiri dipersiapkan secara serius oleh kedua himpuan. Dipersiapkan sejak September, PLO sendiri baru bisa dibilang mulai pada 31 Mei. Dari kaderisasi-kaderisasi yang pernah saya alami dan panitiai, PLO lah yang bisa dibilang memiliki persiapan paling lama dan serius. Bahkan, menurut kedua belah himpunan, baik MBC maupun SPARTA tidak dipersiapkan sedetail PLO. Sayangnya usaha-usaha panitia gagal karena masalah perizinan.

Satu lagi yang saya sayangkan adalah, konsep Kak Syarief beserta berbagai inovasi seperti REPLI yang belum sempat teraplikasikan sehingga belum bisa dinilai baik buruknya. Bahkan, akhirnya SPARTA dan MBC kembali memakai metode yang kemarin-kemarin yaitu memakai metode agitasi untuk beberapa hal. Hmm, kapan,ya, metode ini bisa dicoba? Mungkin benar kata Kak Iqbal : “Syarief itu, the Right Man, in the Wrong School” yang bisa diartikan Kak Syarief membawa metode bagus, tapi sayangnya berada di fakultas yang saat itu tidak mengizinkan kaderisasi.

Tapi bagaimanapun, saya tetap memberikan apresiasi yang tinggi kepada panitia PLO, atas kerja kerasnya, atas pemikiran-pemikirannya, atas tetes keringatnya, atau atas tetes darahnya (ada seseorang yang hari terakhir PLO masuk selokan amphi GKU :P ). Semoga usahanya kali ini dianggap sebagai amal karena berusaha membuat STEI 2007 menjadi orang yang lebih baik ke depannya. :)

Ucapan Maaf dan Terima Kasih

Setelah panjang lebar menulis tentang PLO, akhirnya teringat kembali akan jasa-jasa beberapa orang dan kesalahan terhadap beberapa orang. Jadi, di akhir tulisan ini mau ngucapin maaf dan terima kasih kepada :

  1. Kak Syarief yang sabar menghadapi Pak Nanang, Difa yang bisa merangkul panitia dan jadi tempat curhat yang baik, Ivan P yang benar-benar menguasai lapangan, Sigma (ada sesi khusus buat Sigma :) ), Mami (capek dari tadi pake nama asli terus.. :D )dan tim acara yang udah kerja keras nyusun berbagai plan, Hombing yang dihari-hari terakhir jadi kuli bareng Okuli, dan semua panitia PLO, bendahara, sekretaris, logistik, acara, materi, motivator, P3K, staf lapangan, dan termasuk mentor yang udah kerja sama dan membuat sweet memory.
  2. Massa HME, makasih kerja samanya. Sekali lagi saya minta maaf pas Comvis HMIF mengurangi panitia PLO.
  3. Massa HMIF, dari zaman kepengurusan Kak Iqbal sampai dengan Kak Nanto yang udah ngedukung dan memberikan evaluasi pada PLO.
  4. Tim Formatur (Kak Ardha, Kak Ochal, kak Aji, Teh Mira, Totz) yang udah kerja sama selama dua semester tapi ga bosen-bosen :-P .
  5. Khusus untuk Teh Mira (meskipun kayanya orangnya ga akan baca :( ), makasih atas bimbingannya selama jadi PJ proker Kaderisasi STEI 2007. Maaf kalau nggak sesuai harapan kalo dikasih tugas.
  6. Khusus untuk Tim Materi:
    1. Sigma, yang udah jadi koordinator yang sabar pas mimpin rapat yang lama dan berlarut-larut (yang beberapa diantaranya kembali ke keputusan yang udah dibicarain di awal rapat :-P ). Maaf juga waktu itu ga ngingetin ada selokan di depan mata, jadinya Sigma jatuh ke selokan :D .
    2. Frida, yang selalu mengaku tidak koleris padahal jelas-jelas koleris mutlak :D .
    3. Bintang, temen ngebuli-buli Frida yang kadang dibuli-buli juga terkait masalah IP :D .
    4. Arnauld, yang selalu ngebahas laki-laki ga bisa multitasking :D .
    5. Azwar, yang udah ngebuat terobosan materi di bidang makhluk sosial. Makasih meskipun anggota muda mau aktif di kaderisasi.
    6. Restya, maaf waktu tanggal 3 Juni hampir lupa ngasih ucapan selamat ulang tahun :( . Tapi, kayanya bakalan masih banyak maaf-maaf dan makasih-makasih selanjutnya di PSDA :) .
  7. Semua orang yang udah capek-capek baca tulisan ini. Akhir kata, semoga bermanfaat :) .

(Akhirnya selesai juga tulisan ini… Fuih.. Dibuat dalam 5 hari loh… :roll: )

« Previous PageNext Page »