RSS

Monthly Archives: May 2011

Sebuah Organisasi

Dulu, sekitar tahun ke-3 kuliah, ketika saya hendak pulang ke rumah, di suatu koridor di ITBĀ  seseorang yang berjilbab bersama temannya meminta saya mengisi kuesioner. Dia bilang kuesioner itu untuk tugas kuliah psikologi. Karena waktu itu tidak sedang buru-buru, saya pun mengisi kuesioner itu. Sambil mengisi kuesioner yang cukup banyak, dia mengajak saya ngobrol. Dia bertanya saya mahasiswa jurusan apa. Dia bilang: “pintar dong..” saat saya bilang kuliah di Teknik Informatika. Hal ini cukup membuat saya bingung untuk menjawab apa. Dia juga bertanya saya aktif dimana saja, berencana lanjut di mana, dll. Dia sendiri mengaku sebagai mahasiswi suatu universitas swasta yang ada di Jalan Tamansari.

Bebarapa minggu kemudian, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp saya. Dari mahasiswi itu ternyata (saya mengisi nomor handphone di kuesioner tampaknya). Di sms itu tertulis bahwa dia ingin wawancara + mengisi kuesioner lanjutan. Dia bertanya, dimana kira-kira bisa bertemu. Dia sendiri menyarankan di Taman Ganesha sebelah Masjid Salman ITB. Akhirnya kami janji bertemu esok siangnya.

Esok siangnya, saya pergi ke Taman Ganesha dari kampus. Dia dan beberapa temannya telat beberapa menit dari waktu perjanjian. Dia pun menyerahkan kuesioner yang harus saya isi. Saat itu sebenarnya saya heran dengan kuesioner yang harus diisi saya. Ingatan saya cukup untuk mengingat kuesioner terdahulu. Kuesioner lanjutan ini saya rasa tidak ada relevansinya dengan kuesioner pertama. Mengapa dia menginginkan saya mengisi kuesioner tersebut? Bukankah kuesioner itu bisa diisi siapa saja? Keanehan selanjutnya, setelah saya mengisi kuesioner, dia tidak mewawancarai saya. Saya semakin bingung mengapa saya yang diminta mengisi kuesioner.

Saat saya hendak pamit, dia mencegah saya. Dia bilang tunggu satu orang temannya lagi terlebih dahulu. Saya semakin curiga. Apalagi ketika teman perempuannya datang, tidak ada kegiatan yang signifikan. Saya kira temannya ini yang akan mewawancarai saya atau diwawancara berbarengan dengan saya. Dan tiba-tiba, mahasiswi pemberi kuesioner ini malah mengajak saya mengikuti obrolan dengan seorang senior tentang kuliah di luar negeri yang akan dimulai beberapa saat lagi. Dari jauh, tiba-tiba datanglah satu orang pria.

Pria tersebut mengajak kenalan dengan saya dan perempuan yang terakhir datang. Tampaknya hanya kami berdua yang tidak dia kenal. Kemudian, dia bilang, “Yuk, mari kita mulai obrolan tentang studi ke luar negeri ini.”. Lalu dia meminta kami membentuk semacam lingkaran kecil untuk berdiskusi. Selanjutnya dia menjelaskan jika kuliah ke luar negeri itu hal yang mudah. Dia sendiri bercerita bahwa dia dan teman-temannya telah memiliki profesor di luar negeri yang akan menerima kita.

Saya yang sedari tadi merasa curiga dan tidak nyaman dengan kelompok ini memutuskan untuk pergi setelah pria tersebut berbicara selama 10 menit. Pria tersebut bertanya: “tidak mau melanjutkan? lagi rame loh..”. Saya sendiri beralasan ada rapat himpunan agar bisa pergi (saya berbohong saat itu). Saya pun pergi. Beberapa hari kemudian saya mendapat sms yang meminta isi kuesioner lagi. Dengan halus saya tolak dengan alasan sedang sibuk-sibuknya tugas kuliah.

Kembali ke masa sekarang….

Ketika di televisi sedang dibahas tentang suatu organisasi dengan modus-modus penipuannya, saya jadi teringan kejadian di atas. Saya curiga yang dulu itu adalah organisasi yang sama. Kalau dipikir-pikir, dari dia mendapatkan nomor telepon saya, dia mencari tau kesibukan saya, dia mencari tau kalo saya memiliki cita-cita meneruskan studi ke luar negeri, dia membuat pertemuan yang berisi tentang studi ke luar negeri, dan dia mendatangkan seseorang yang seolah-olah tidak kenal dengan pembicara sungguh mencurigakan. Sayangnya (atau untungnya?) taktik kuesioner lanjutan tidak terlalu mulus sehingga saya merasa curiga.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu mengenal organisasi ini. Dulu saya hanya pernah mendengarnya dari buku sejarah dan setau saya sudah tidak ada. Selanjutnya saya mendengar lagi ketika ada sebuah kerohisan suatu sekolah meminta saya menjual tiket sebuah seminar keagamaan ke SMA saya (saat itu saya sedang menjabat sebagai ketua seksi keagamaan di SMA saya). Namun, ketika saya baca tentang judul-judul materi seminarnya, terasa sangat aneh. Dan seorang rekan berhasil meyakinkan saya kalau seminar ini berisi tentang organisasi ini dan saya diminta untuk tidak menjual tiket tersebut. Saya mendengar lagi tentang organisasi ini ketika awal masuk ke ITB dimana diwanti-wanti oleh rektorat tentang kemungkinan organisasi ini menyebarkan pengaruh buruk di kalangan mahasiswa.

Jadi, apakah pemberi kuesioner tadi dari organisasi tersebut? Entahlah. Saya hanya curiga… Semoga hanya orang baik yang jatuh cinta kepada saya dan ingin saya bisa meneruskan kuliah ke luar negeri (loh?)

 
3 Comments

Posted by on May 15, 2011 in Kuliah, Pengalaman Pribadi

 

Menyelamatkan Data Friendster

Tanggal 22 April 2011 lalu saya mendapati sebuah email dari Friendster. Isinya tentang rencana pengembangan Friendster yang menyebabkan data-data tentang foto, pesan, blog, testimonial, dan shoutout akan dihapus pada tanggal 31 Mei 2011.

Saya jadi teringat akan kejayaan Friendster. Sebelum Facebook mewabah seperti saat ini, Friendster telah ada sebagai jejaring sosial yang cukup banyak diminati. Bahkan tahun 2008, ketika Training For Trainer SSDK, saya sempat terheran-heran dengan kata facebook ketika K Julian, IF04, ketua SSDK 2008, di suatu seminar menyatakan dia mengundang seorang pembicara yang belajar di luar negeri yang ditemukannya dalam facebook (saya lupa nama pembicara itu tetapi dia IF ITB juga yang lebih tua beberapa angkatan dengan K Julian).

Kembali ke topik Friendster. Friendster sendiri menyediakan sebuah aplikasi untuk menyelamatkan data-data yang akan dihapus tersebut. Kemarin saya baru sempat melakukan hal tersebut. Setelah sempat mengubek-ubek email dan google, akhirnya saya tahu aplikasi tersebut bernama friendster exporter (saya baru tahu kalau friendster sekarang ada apps-nya). Linknya: http://widgets.friendster.com/exporter . Terdapat 3 fitur yang disediakan fitur tersebut:

  1. mendownload semua data sehingga menjadi satu file zip yang jika diekstrak menjadi sebuah folder yang berisi situs html friendster lokal.
  2. mengekspor foto ke flickr atau multiply
  3. mengekspor isi blog ke wordpress atau blogspot.

Saya sendiri hanya memakai fitur 1 dan 3 karena saya tidak punya flickr atau multiply. Fitur 1 membutuhkan beberapa menit hingga sebuah email datang memberitahukan bahwa data siap didownload. Fitur 3 saya pakai untuk memindahkan isi blog friendster ke blog ini. Untuk fitur 3 sendiri dia menyediakan data xml yang bisa didownload. Di wordpress ada fitur import di dashboard sehingga kita tinggal mengupload file xml tersebut sehingga data blog friendster pindah ke blog wordpress ini. (Sebenarnya kita bisa juga melakukan hal ini dari halaman blog friendster)

Barusan saya melihat-lihat friendster lokal yang saya download. Saya pun merasa bernostalgia sehingga merasakan suasana kebatinan yang sentimentil dan emosional (haha.. kalimat ini sedikit lebay). Berikut ini hal-hal yang membuat saya bernostalgia:

1. Saya jadi teringat Telkomnet Instan, layanan internet via kabel telepon. Dulu sering sekali iklan 0809-89999 ini muncul di televisi. Awal-awal saya aktif dan mengenal internet melalui layanan ini. Tentunya dengan Telkomnet Instan saya mengakses Friendster. Dulu biayanya dihitung per menit sehingga harus hati-hati agar tagiah telepon tidak membengkak.

2. Saya melihat blog dan foto-foto saya saat dulu. Blognya “gila” banget, saya tidak cukup kuat membacanya. Lalu saya melihat foto-foto zaman dulu. Lucu juga. Saya mengaktifkan webcam untuk membandingkan dengan wajah saya sekarang. Tampak berbeda… Ini salah satu foto saya zaman muda (eh, lebih muda maksudnya).

Foto Friendster Ivan

Antara Imut dan Gaya

3. Saya juga membaca testimonial-testimonial. Masih ingat testimonial? Testimonial itu kalau di facebook semacam wall. Mungkin karena namanya testimonial, awalnya orang-orang mengisinya dengan kesan pesan tentang si empunya akun. Dulu sering bingung kalau ada yang minta dikirim testimoni. Setelah dilihat, ternyata Junita Riany, teman SMA, pengisi testimonial pertama. Berikut cuplikannya:

IvaN…

Baik…
Abis suka bAntUin bLajaR siH….
ThaNx yeE…

LawAk…
kALo LaGhe diiSengiN,, pAsti waJahnya G kOntroL
kEbinGungaN…
dAn iTu meRupaKan suaTu oBjek tErtaWaan yAng bAik!!!,,
hOhO…

Testinya alay. Padahal dulu kan alay belum terkenal. Peloporkah dia? Ahaha.. Testimonial selanjutnya dari Ibnu, teman yang sampai sekarang bersama-sama hingga S2. Berikut cuplikannya:

I = inginnya sih di sebut Vic Chou hu..hu..(kmu tuh emang dia, waktu sy liat dia loh kok mirip ivan) Tp kmu udah liat khan film yg di bintangi ane itu tuh last samurai hu..
V = van nistelrooy muridnya
A = aink temennya
N = n’temen yang baek deh ..
orang ini tuh sok-sok udah lulus stt telkom jadi aje dia ngak mo blajar lg kt nya. padahal van klo kmu itu tuch belajar bukan boeat yang begituannya aje loh ( heeuh ibnu ky kmu sk belajar aja) hu..hu..hu…
kayak nya dia tuh CAKEP tapi orang-orang banyak yang ngak menyadarinya tul gak?? tapi kmu selalu tawaduk tidak mau menyombongkannya I Love U lah
258 kata lg apa yaa, oh iya klo kmu punya pacar khan ngomongnya” klo kmu jadi bunga ane jadi kupu2nya” nah klo gituh ane mah cukup jadi insektisidanya biar kmu tetap tumbuh subur ockey

Eaaa…

4. Entah kenapa friendster diblokir dari jaringan kampus ketika saya masuk ITB. Saya sempat menggunakan situs pihak ketiga agar bisa membuka friendster dari kampus. Lupa alamatnya, apa,ya?

5. Satu lagi, friendster memiliki fitur “Who’s viewed me”. Fitur ini mencatat siapa saja orang yang melihat anda dalam kurun waktu tertentu. Tentunya fitur ini tidak ramah buat seseorang yang ingin “stalker”. Dulu saya mengakalinya dengan mencatat alamat target, logout, lalu mengetiknya di URL. Dengan cara tersebut friendster tidak akan tau siapa yang mengakses alamat orang tersebut. Saya baru tahu itu adalah “session” ketika saya mengikuti pemrograman internet di tingkat 3 kuliah. Haha. Mau tahu siapa yang saya “stalker”? ra-ha-si-a.

Haha, pengalaman yang menarik membuka friendster kembali. Jangan lupa buat para pembaca untuk menyelamatkan datanya di friendster sebelum tanggal 31 Mei 2011. Lumayan, buat kenang-kenangan. Terima kasih Friendster untuk 2 tahun awal saya menggunakan internet…

 
11 Comments

Posted by on May 7, 2011 in Pengalaman Pribadi

 

2 Soal PPKn

Ketika melihat sebuah kecelakaan yang anda lakukan pertama kali adalah:

(a) Meninggalkannya dengan acuh

(b) Membantu tanpa peduli siapa yang kecelakaan

(c) Melihat lebih dulu siapa orang yang kecelakaan

(d) Meminta tolong orang lain agar membantu yang kecelakaan

Kemarin (5/5/11) malam ketika lewat Dipati Ukur saya melihat sekitar 4 orang tergelatak di jalanan. Setelah melihat lebih dekat, tampaknya mereka mengalami kecelakaan motor. Tiba-tiba saya teringat tentang pertanyaan tersebut yang pernah keluar di suatu buku pelajaran PPKn ketika saya kelas 6 SD.

Sebagai orang yang selalu dipaparkan tentang bab membantu sesama di berbagai PPKn, saya menjawab (b). Hampir semua orang menjawab (b) juga. Namun, ketika dibahas, Bu Guru waktu itu memberikan jawaban (c). Tentunya kami protes: “apakah ketika menolong harus tahu yang kita tolong siapa?”. Tapi Bu Guru tersebut beralasan bahwa kita harus melihat dulu wajah orang yang kecelakaan tersebut. Siapa tahu kita kenal orang itu dan bisa memberitahu keluarga atau memberikan pertolongan yang sesuai karena mungkin orang tersebut memiliki alergi terhadap suatu obat dsb. Jawaban mana yang benar? Hmm, hanya pengarang soal tersebut yang tahu. Yang pasti saya harus merelakan satu nilai soal lepas…

Lalu gara-gara hal tersebut saya jadi mengingat satu lagi soal di pelajaran PPKn: Setiap anggota DPR/MPR dalam bermusyawah bertanggung jawab secara moral kepada …. Soal ini keluar di tiga ulangan, dengan 2 ulangan awal saya salah menjawab. Ulangan pertama saya menjawab “dirinya sendiri”. Ulangan kedua saya menjawab “pimpinan musyawarah” padahal sewaktu ulangan pertama pernah dibahas dan saya lupa jawabannya apa. Jawaban yang benar tentunya “Tuhan YME” dan saya benar di ulangan ke-3. Jadi terpikir, sudahkah anggota DPR/MPR merasa bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan YME? Semoga iya…

 
3 Comments

Posted by on May 6, 2011 in Pengalaman Pribadi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.