Mungkin ketika membaca judul tulisan ini anda akan berpikir judulnya ‘lebay’, penulisnya ‘cengeng’, atau penulisnya dibayar oleh produsen film tersebut. Hoho.. Dengan bangga saya akan bilang: “Anda salah, silahkan coba lagi di lain waktu”. Tebakan pertama salah karena ini kejadian asli dan tebakan ketiga salah karena saya menulis tulisan ini dari hati saya yang dalam (cie…). Tebakan kedua mungkin debatable , tapi silahkan cubit saya sewaktu-waktu (ahaha…).
Mengisi liburan paskah yang panjang ini, saya memutuskan untuk menonton film ini. Singkat cerita, saya tertarik dengan judul film ini, Hachiko: A Dog Story. Awalnya berpikir bahwa film ini seperti Airbud atau 101 Dalmatians. Tapi, dalam review IMDb.com, seseorang menulis dia menangis saat menonton film ini. Rating film ini pun 8,1. Saya pun tertarik dan memutuskan untuk pergi ke salah satu bioskop untuk menonton.
Terakhir kali menonton film dan saya menangis terharu adalah film Emak Ingin Naik Haji yang saya tulis di blog ini juga. Entahlah, saya gagal menangis saat menonton My Name Is Khan atau 3 Idiots. Dan, ternyata, pilihan saya tepat, saya menangis di dua adegan ‘pemanasan’, sampai akhirnya menangis di 40 menit terakhir film (Bonus: 10 menit setelah film selesai).
Film ini bercerita tentang seorang profesor perguruan tinggi di suatu kota, yang memungut seekor anjing yang ditinggalkan di sebuah stasiun kerata api di suatu kota. Si anjing, yang akhirnya dibesarkan profesor tersebut, menjadi anjing yang setia terhadap sang profesor. Setiap hari, pada waktu yang sama, si anjing tiba di stasuin kereta api menjemput tuannya. Setelah profesor meninggal suatu hari, si anjing tetap setia menunggu tuannya di stasiun tersebut selama hampir satu dekade.
Film ini diangkat dari cerita asli, Hachiko. Silahkan googling dan anda akan menemukan banyak tulisan tentang cerita ini. Hachiko asli adalah anjing Profesor HidesaburÅ Ueno yang meninggal tahun 1925. Selama 9 tahun setalah itu, Hachiko selalu menunggu di depan Stasiun Shibuya. Untuk mengenangnya, sekarang dibuat patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, Jepang.
So, kesimpulannya, saya rekomendasikan Anda untuk menonton film ini. Oh, ya, jangan lupa membawa tisu di dekat anda. Meskipun sebenarnya, jika anda menonton di bioskop, anda tidak usah malu karena sebagian besar penonton tersebut pasti menangis.


Asri Nurdayani
April 9, 2010 at 11:12 am
kayaknya bagus tuh ceritanya..
kira-kira dvd bajakannya udah beredar belum ya?
Ivan
August 20, 2010 at 1:33 am
Udah ada kayanya… saya sempet ngeliat..
deta
August 27, 2010 at 2:10 pm
film nya bagus lho tentang kesetiaan seorang anjing sama tuannya gw aja mpe nangis trus
tomblok
January 21, 2011 at 11:56 pm
…..nangis gwe,, lihat’nya..
,,,ASEM..
RifkieMedia
April 12, 2011 at 9:09 pm
luar biasa bagus film ini, saya rekomendasikan banget bagi yg belum pernah nonton..
saya sampai berkaca kaca ( sambil nahan mo nangis ) bener2 menceritakan sebuah kesetiaan abadi yg mungkin bahkan manusiapun tidak mungkin spt itu… Bintang 5 untuk film ini, tata musik, pemain, serta anjing si pemeran hachi bener2 keren…
olie
August 7, 2011 at 10:02 pm
film yg paling buat gw menangis tersunguk2…huaaaaaaa..
selachil
October 13, 2011 at 12:29 am
telat nontonya… tp tetep mata jadi kayak bola pingpong dah…
ternyata ada ya kesetiaan yg bener” abadi (memang anjing luar biasa),, nangisnya gak bisa di reeeeem !!!!!
oooh Tuhaaan… kalo saja boleh hachiko “jadilah anjingku …………..”
ndrewh
December 5, 2011 at 7:14 pm
Saya menonton ini bersama kaisar siregar. Beliau menghina film ini dari awal sampai akhir. Saya ikutan menghina. Kami tidak menangis sama sekali. Semua ini salah kaisar siregar. LOL