Kaderisasi di ITB Wednesday, Mar 18 2009 

Kaderisasi adalah suatu proses untuk menciptakan kader-kader baru yang siap menjalankan organisasinya. Proses kaderisasi bertujuan agar anggota baru memahami visi dan misi organisasi, sehingga setelah masuk ke dalam oganisasi tersebut maka keberlangsungan organisasi dapat tetap terjamin. Kaderisasi setiap organisai berbeda tergantung dari kebutuhan masing-masing organisasi, sebagai contoh adalah kaderisasi unit kegiatan musik berbeda dengan kederisasi unit olahraga.

Posisi Kaderisasi di ITB

ITB sebagai salah satu institusi pendidikan di Indonesia merupakan tempat pembelajaran yang ideal bagi calon-calon pemimpin bangsa. Putra-putri dari seluruh penjuru nusantara berkumpul di ITB untuk bersama-sama menimba ilmu sehingga kelak akan berkontribusi bagi pembangunan dan kemajuan Indonesia.

Dalam konsepsi KM ITB, bahwa tugas perguran tinggi adalah untuk membentuk insan akademis. Yang dimaksud insan akademis adalah insan yang senantiasa untuk mengembangkan diri sehingga tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan sekaligus dapat menkritisi kondisi masyarakat di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang ideal dengan landasan kebenaran ilmiah. Yang dimaksud dengan tatanan masyarakat masa depan ideal disini adalah masyarakat madani yaitu masyarakat yang memiliki nilai parsitipatif, aspriratif, mandiri, nonhegemonik, dan beretika.

Sebagai sebuah institusi pendidikan, sistem pembinaan kemahasiswaan di ITB dilakukan secara menyeluruh, baik dari aspek hardskill maupun softskill. Hardskill didapatkan dari bangku perkuliahan dan juga praktikum yang disediakan oleh bagian akademik ITB sedangkan softskill diperoleh dari aktivitas di organisasi-organisasi kemahasiswaan. ITB sangat memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan, hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya organisasi-organisasi kemahasiswaan baik unit kegiatan mahasiswa (UKM) ataupun himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Setiap organisasi berusaha untuk membina anggotanya agar kelak siap untuk memimpin dan bekontibusi bagi Indonesia.

Organisasi-organisasi kemahasiswaan intra kampus, adalah organisasi yang mengalir, hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang masih aktif berkuliah, sedangkan mahasiswa yang telah lulus dan menjadi alumni tidak lagi behak untuk menjadi anggota organisasi intra kampus. Karena hal tersebut maka dibutuhkan kaderisasi agar organisasi dapat terus berlangsung.

Perizinan Kaderisasi di ITB

Senat akademik sebagai salah satu struktur lembaga ITB, telah menyusun kebijakan pembinaan kemahasiswaan yang mengatur kegiatan kemahasiswaan ITB. Menurut poin 6.2 pada kebijakan organisasi kemahasiswaan, ruang lingkup organisasi kemahasiswaan ITB dapat berupa kegiatan pengembangan diri atau pendidikan karakter, pelatihan berorganisasi dan kepemimpinan, peningkatan kreativitas dan penalaran, dst. Kegiatan yang terdefinisi sebagai kegiatan kaderisasi adalah kegiatan-kegiatan yang mencakup pembentukan karakter, pengembangan diri, maupun kepemimpinan. Dengan demikian, kegiatan kaderisasi yang dilaksanakan oleh KM ITB merupakan kegiatan yang termasuk dalam ruang lingkup organisasi kemahasiswaan.

Namun, mengacu pada Keputusan Rektor ITB nomor 082 pasal 2 ayat 6 tentang menyelenggarakan orientasi studi dan sejenisnya pada tingkat institut, fakultas, dan prodi yang merupakan salah satu kegiatan yang dilarang yang melanggar etika akademik ITB dan hak asasi manusia. Orientasi studi yang terdapat dalam keputusan tersebut masih membutuhkan penjelasan yang lebih lanjut tentang batasan-batasan teknis yang bisa membuat suatu kegiatan terdefiniskan sebagai orientasi studi, hal ini diperlukan untuk keberjalanan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan kedepannya. Di level fakultas sendiri, peraturan ini didefinisikan berbeda-beda sesuai dengan fakultas dan prodi masing-masing.

Maka saat ini disusunlah draft koridor kaderisasi sebagai aturan bersama yang disepakati oleh elemen KM ITB yang akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan kaderisasi dan untuk menyamakan persepsi tentang kegiatan kaderisasi antara pihak ITB dengan organisasi kemahasiswaan.

Isu IMG

Saat ini, sedang ramai isu tentang tragedi yang menimpa saudara kita Dwiyanto Wisnugroho. Dwiyanto Wisnugroho, yang akrab dipanggil Wisnu merupakan salah satu peserta rangkaian proses pembinaan anggota baru IMG yang akan ditutup dengan acara akhir di Lembang, Minggu (8/2/2009).

Ramainya isu ini membuat banyak opini tentang kaderisasi. Wacana orang-orang rata-rata mengecam kaderisasi di ITB. Kaderisasi di ITB di katakan penuh dengan perploncoan dan jauh dari hak asasi manusia. Padahal, paradigma tersebut adalah salah.

Dahulu, orang mengenal kaderisasi sebagai orientasi studi pengenalan kampus atau dikenal ospek. Di ITB, ospek sudah mengalami transformasi nama dan esensi menjadi OS atau orientasi studi dan sekarang menjadi kaderisasi. Nama dan konotasi kaderisasi lebih ringan diterima oleh masyarakat dan sebagai bentuk komitmen mahasiswa untuk mengubah citra OS di masa lalu. Ospek ITB dapat dibagi menjadi dua, ospek kampus dan OS jurusan atau program studi.

Proses kaderisasi akan mengikuti perkembangan zaman, kaderisasi saat ini berbeda dengan kaderisasi pada era 66. Pada masa itu, dibutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang berani melawan tirani sehingga bentuk kaderisasi yang diberikan lebih banyak berisi pelatihan fisik dan mental, sedangkan pada era reformasi saat ini, tipe kader yang dibutuhkan adalah kader yang kritis dan berwawasan luas sehingga bentuk kaderisasinya harus sesuai dengan tujuan tersebut.

Organisasi-organisasi di ITB menyadari akan perubahan tersebut, oleh karena itu maka sistem kaderisasi pun telah berkembang mengikuti perkembangan zaman. Saat ini kaderisasi di ITB lebih banyak dilakukan dengan cara diskusi dan simulasi. Diskusi bertujuan untuk menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang kritis, berfikir ilmiah dan berani mempertanggung jawabkan pernyataanya, sedangkan simulasi-simulasi bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antara sesama anggota.

Kenyataan saat ini, transformasi yang dilakukan benar-benar mengedepankan komitmen untuk menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki kesiapan mental dan intelektual. Apabila terjadi sesuatu seperti saat kasus IMG ada kemungkinan akibat human error atau akibat ulah oknum tertentu. Tidak dapat dimungkiri ada oknum yang memanfaatkan ospek sebagai ajang senang-senang semata tanpa tujuan, itu yang dulu dikenal dengan perpeloncoan. Akan tetapi, saat ini perpeloncoan telah dihapuskan dengan mengembalikan kepada tujuan kegiatan ospek itu sendiri.

Referensi:

[1] Meluruskan Paradigma tentang Ospek, Bobby Rahman, dimuat di Pikiran Rakyat

[2] Kaderisasi bukan Perpeloncoan, Depertemen Advokasi dan Pelayanan, dimuat di http://www.km.itb.ac.id

Bersama, Berkesinambungan, dan Bermanfaat (BBB) Wednesday, Mar 18 2009 

HMIF tiga tahun ini

Jika dirangkum, 3 tahun lalu, saat Ketua HMIF dijabat oleh Budiono, Budiono meletakkan dasar pengabdian masyarakat. Dia membuat sebuah divisi yang bernama divisi pengabdian masyarakat yang ditujukan agar rasa pengabdian masyarakat terasa di HMIF. Selain itu, dibuat juga acara-acara berbasis keprofesian seperti training dan workshop untuk agar kegiatan keprofesian terasa di HMIF. Budiono juga meletakkan dasar STEI karena saat itu terjadi perubahan pada ITB dari yang awalnya tahun pertama mahasiswa sudah masuk program studi, tetapi sekarang menunggu tahun kedua. 2 tahun lalu, saat Ketua HMIF dijabat oleh Iqbal Farabi, HMIF fokus untuk memantapkan sistem. Hal ini terlihat dari HMIF yang berusaha melakukan Amandemen AD-ART, pembuatan GDK, dan pembuatan SOP-SOP tersendiri. HMIF berfokus untuk memperbaiki pondasi HMIF. 1 tahun ini, saat Ketua HMIF dijabat oleh Dwinanto Cahyo, HMIF berfokus pada tidak mengulangi kesalahan yang lalu. HMIF juga berusaha merintis sebuah acara besar keprofesian yang melibatkan banyak massa dan dapat sebagai brand HMIF.

Gambaran HMIF ke depan
“Bersama, Berkesinambungan, Bermanfaat”

HMIF milik Bersama
HMIF berjalan bukan hanya karena impian dan ambisi ketua atau segolongan orang. HMIF  seharusnya berjalan di atas impian semua anggotanya untuk mencapai HMIF yang lebih baik.

bersama

HMIF yang memiliki sistem Berkesinambungan
Kepengurusan setiap tahun seharusnya merupakan perbaikan akan kepengurusan sebelumnya. Dari masa lalu kita belajar, kita ambil yang baik dan lanjutkan. Kesalahan masa lalu kita perbaiki dan jangan sampai terulang kembali. Selain itu, Satu tahun sendiri adalah waktu yang singkat untuk menggapai semuanya. Oleh karena itu, kita harus berpikir untuk tujuan jangka panjang dan melakukan kepengurusan ini sebagai langkah untuk mencapai tujuan tersebut.

berkesinambungan

HMIF yang Bermanfaat ke dalam dan keluar
Setiap anggota haruslah “nyaman” saat berada di himpunan. Hal ini bisa didapat jika di himpunan anggota tersebut menemukan manfaat, baik di bidang keprofesian, akademik, kekeluargaan, dan yang lainnya. Himpunan yang ideal adalah himpunan yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya akan keprofesian, pengabdian masyarakat, dan kekeluargaan. Setelah memenuhi kebutuhan anggota, himpunan sendiri diharapkan dapat memenuhi kebutuhan lingkungan akan himpunan. Himpunan dapat membantu ITB dalam mengembangkan mahasiswa atau membantu masyarakat dengan pengabdian masyarakatnya.

bermanfaat

Bagaimana mencapai hal tersebut?

HMIF sebagai organisasi pembelajar
Kesalahan masa lalu kita perbaiki dan jangan sampai terulang kembali. Selain itu, kita mulai berproyeksi ke depan dalam menyusun target jangka panjang HMIF dan melakukan satu tahun ini untuk mencapai itu.

Program kerja yang efisien dan efektif
Hanya proker-proker yang esensial yang akan dilaksanakan. Dengan berkurangnya proker divisi, diharapkan waktu dan perhatian untuk ikut berpartisipasi di divisi lain semakin tinggi. Di samping itu, partisipasi massa di kegiatan kemahasiswaan terpusat dapat bertambah. Sayang sekali jika hanya kita terbelenggu di bidang informatika saja. Bidang informatika tidaklah cukup untuk mengatasi masalah bangsa.

Pembelajaran anggota yang berkesinambungan
Kepengurusan sekaranglah saat yang tepat untuk mengimplementasikan Grand Desain Kaderisasi tersebut secara menyeluruh. Implementasi GDK sendiri dimaksudkan agar kaderisasi tidak berhenti saat seseorang masuk ke himpunan. Kaderisasi informal divisi atau kaderisasi formal yang dibuat semoga bisa membuat lulusan HMIF yang kompeten menghadapi dunia luar kampus setelah kuliah

Standardisasi keprofesian anggota
Kegiatan akademik di kampus ternyata belum cukup untuk memberikan pengalaman tentang keprofesian. Dunia informatika yang terus berkembang secara pesat membuat semakin luasnya dunia informatika. Menutupi kekurangan tersebut, himpunan dapat berperan sebagai penyedia kebutuhan tersebut. Training-training dan seminar-seminar internal dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan keprofesian tersebut.

Peningkatan rasa pengabdian masyarakat baik melalui kegiatan keprofesian maupun lainnya
Keprofesian kita jauh dari kemiskinan. Padahal, “sense” akan meningkat jika kita turun ke lapisan paling bawah. Oleh karena itu, kepengurusan sekarang akan dicoba dua buah solusi. Yang pertama, kita turun langsung ke masyarakat meskipun kurang dari segi keprofesiannya. Acara ini diyakini dapat melibatkan banyak massa dan meningkatkan “sense” mereka. Yang kedua adalah pengabdian masyarakat yang berbasiskan keprofesian, contohnya: Training Open Source. Namun, hal yang harus dilakukan sebelum dan setelahnya adalah pewacanaan bahwa acara ini bertujuan mulia untuk pengabdian masyarakat.
Yang terpikir lebih lanjut adalah membuat semacam lomba software desain intern HMIF yang memiliki tema tentang masalah yang dialami lingkungan sekitar. Ketika mengerjakan lomba tersebut, diharapkan timbul inovasi-inovasi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Inovasi tersebut inginnya di follow up sampai bisa diimplementasikan dan bermanfaat untuk masyarakat.

Menuju sistem ekonomi HMIF yang mandiri
Pembentukan sebuah sistem workshop milik HMIF sebagai branding agar mempermudah marketing. Proyek-proyek yang dikerjakan pun tidak terbatas hanya fokus dilakukan oleh divpro tapi semua massa dapat berpartisipasi. Mimpi lebih jauh adalah workshop ini dapat berbadan hukum resmi sehingga dapat bekerja dengan pemerintahan untuk pengabdian masyarakat.

Berkontribusi aktif dengan entitas luar HMIF
HMIF terlalu kecil untuk bisa memberikan banyak ke masyarakat. Oleh karena itu, kerja sama dengan pihak KM ITB, AIB, dan entitas luar lainnya diharapkan dapat ditingkatkan kepengurusan kali ini untuk berkontribusi ke masyarakat
Impian HMIF 5 Tahun ke Depan
Berikut proyeksi himpunan 5 tahun ke depan yang dicapai dari kepengurusan ini.
1.    Himpunan bisa menjadi tempat yang nyaman dan para anggotanya akan mengenangnya saat telah lulus nanti. Lebih jauh, semoga beberapa puluh tahun lagi image alumni IF yang tidak terikat ke himpunan berubah
2.    Himpunanan berkolaborasi dengan entitas luar menciptakan karya nyata untuk bangsa.
3.    Saat HMIF akan melakukan acara-acara, ekonomi HMIF telah mandiri.
4.    Himpunan bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah bangsa dengan bidang informatikanya.
5.    Sistem GDK telah berjalan dengan baik sehingga menghasilkan kader-kader terbaik untuk bangsa.
For Better HMIF!