Akhir-akhir ini terjadi keprihatinan yang mendalam di bumi Palestina. Beribu orang tewas akibat serangan Israel ke jalur Gaza yang dimulai tanggal 27 Desember 2008. Dunia pun bergejolak. Beberapa negara dengan keras menentang Israel bahkan dengan memutuskan hubungan diplomatiknya. Unjuk rasa menentang serangan Israel pun terjadi di mana-mana termasuk di Indonesia. Namun, perang masih mungkin meletus hingga beberapa tahun mendatang.
Palestina memang memiliki sejarah yang pelik. Israel, yang merupakan bangsa Yahudi, mendirikan negaranya di atas tanah Palestina. Hal ini menyebabkan situasi berkembang hingga keadaan sekarang. Untuk lebih memahami konflik ini, maka saya berusaha merangkum sejarah Palestina dari awal hingga terjadinya konflik.

Wilayah Palestina-Israel (swaramuslim.com)
Tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber yaitu:
- Makalah Umar Asasudin, M.A. yang berjudul “Peranan Cendekiawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina: Pendekatan Sejarah”
- Pidato Ikhrimah Shabri (Imam Masjid Al-Aqhsa Palestina pada tahun 1992) yang berjudul “Palestina: Sejarah Perjuangan, Intifada, dan Agresi Israel terhadap Masjidil Aqsha”.
- Makalah Dr. Roeslan Abdoelgani yang berjudul “Solidaritas Indonesia terhadap Palestina: Suatu Tinjauan Historis”
Ketiganya terdapat dalam buku “Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru”, dengan editor : M Riza Sihbudi & Achmad Hadi, cetakan Pustaka Hidayah tahun 1992. Buku ini berintikan makalah dalam seminar “Pekan Persahabatan Indonesia Palestina” 13-18 Januari 1992 di Yogyakarta.
Kejadian setelah tahun 1992 dirangkum dari:
- “Tabel Sejarah Timur Tengah” dalam blog “Kajian Timur Tengah” oleh Dina Y. Sulaeman
- “Sejarah Berdirinya Negara Israel” oleh Panji Prabowo (Kepala GAMAIS ITB 2008-2009) dalam blognya
- Berita-berita dalam kompas.com tentang perang Israel Palestina.
Selamat membaca!
***
Wilayah Palestina pada mulanya ditinggali oleh beberapa bangsa, yaitu bangsa Ammonit dan Philistine. Lalu, sekitar tahun 1000 SM, Palestina ditaklukan oleh Raja Thalut dan Daud a.s. Daud a.s. dan keturunannya, yang merupakan bangsa yahudi, akhirnya menjadi raja di sana dan Palestina menjadi tanah air bangsa yahudi dari 1000 SM – 135 M. Palestina sendiri sempat dikuasai oleh Kerajaan Persia, Babilonia, Mesir, dan kerajaan-kerjaaan lain secara bergantian dalam rentang waktu tersebut.
Wilayah Palestina Dikuasai Kerajaan Romawi
Sekitar tahun 100 SM muncullah kekuatan Roma dan pada tahun 63 SM, Roma, di bawah pemerintahan Raja Pompey, menaklukan kerajaan yang menguasai Palestina. Tahun 66 M, timbul pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Perang terjadi dan pemberontak kalah dan akhirnya pada tahun 70 M, Jerussalem jatuh sepenuhnya ke tangan Roma.

Raja Pompey dari Romawi (www.usu.edu)
Pada saat itu, biasanya Roma tidak melakukan penekanan tetapi memperlakukan daerah jajahannya dengan lembut untuk mempersatukan warga negeranya dengan bangsa jajahannya. Namun, di dalam kasus bangsa Yahudi, cara ini tidaklah berhasil. Seringkali timbul huru-hara dari bangsa Yahudi. Hal ini menyebabkan akhirnya Roma berlaku keras kepada bangsa Yahudi dan mengeluarkan dekrit yang mematikan nasionalismen bangsa Yahudi dengan cara melarang berbagai peribadatan mereka.
Pada akhirnya dekrit ini membuat sebuah pemberontakan besar dari 200.000 orang Yahudi yang dipimpin oleh Barcocheba di Jerussalem. Raja Hadrian yang saat itu memimpin Roma mengirimkan Julius Sevenus dan tentara yang jumlahnya besar untuk memadamkan pemberontakan dan menaklukan Jerussalem. Pada saat itu, bangsa Yahudi kalah dan dikeluarkan peraturan mereka dilarang masuk ke kota apapun alasannya. Jerussalem dijadikan koloni Roma dan tempat peribadatan Yahudi, haikal Yahudi, diganti dengan candi lambang supremasi Roma, candi Yupiter. Mulai saat itu bangsa Yahudi tersebar ke luar Palestina. Namun, ada sebagian kecil yang tetap bertahan di sana.
Setelah masa itu, pengaruh agama Kristen masuk ke Roma, sehingga menumbuhkan penyebaran agama Kristen di Palestina. Agama Kristen tumbuh di daerah tersebut. Lalu, pada pembagian kerajaan Roma tahun 395, Palestina berada dalam kekuasaan Kerajaan Bizantium, yang disebut juga kerajaan Romawi Timur. Pada saat itu Palestina menjadi daerah yang makmur, menjadi pusat perkembangan jemaah haji (beribadah mengunjungi tempat-tempat suci yang dilakukan oleh penganut Kristen,Yahudi,dll.). Namun sesekali muncul penyiksaan kepada bangsa Yahudi oleh bangsa yang menguasai.
Tahun 611 M, Chosroes II, raja Kerajaan Sasan dari Persia, menyerang daerah itu. Diikuti oleh bangsa Yahudi yang ingin membalas dendam. Yerussalem direbut. Gereja Holy Sepulchre dihancurkan dengan tanah dan hartanya dibawa. Gereja lain bernasib sama dan uskupnya ditahan.
Tahun 628 M, Raja Heralcus dari Bizantium menaklukan kembali teritorial tersebut. Namun kemenangan ini bersifat sementara karena munculnya kekuatan Islam yang melemahkan Kerajaan Bizantium tersebut.
Palestina Dikuasai Islam
Islam muncul tahun 610 M di bawah kepemimpinan Muhammad saw. Di selang tahun 610-632 M, suku-suku di daerah Arab berhasi l dipersatukan di bawah kepemimpinannya yang asalnya saling bermusuhan. Kerajaan Islam (Kekhalifahan Islam) setelah Muhammad saw meninggal di bawah pemimpin Abu Bakar (632-634 M) berusaha merebut daerah Palestina dari tangan Bizantium. Namun, usaha tersebut tidak berhasil dan akhirnya baru berhasil ketika Kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar ra. Pada tahun 636, Bizantium jatuh.
Di bawah kepemimpinan Umar ra. terjadi perjanjian damai di Jerussalem antara pemerintahan Umar dengan umat Kristen yang dipimpin oleh Uskup Sophronius. Umar sendiri sempat mengunjungi The Holy Rock (tempat ibadah Daud as. dan tempat Haikal Yahudi) dan tempat itu menjadi Masjid Umar. Muncullah pengaruh Islam di Jerussalem.
Perselisihan yang terjadi di antara kepemimpinan umat Islam setelah zaman Muhamamad saw dan Khulafaurrasyidin (4 sahabat Nabi Muhamamad saw yang memimpin setelah nabi wafat) menyebabkan munculnya berbagai dinasti yang berganti memimpin Islam dari Dinasti Muawiyah sampai dengan Dinasti Abbassiah. Pada tahun 685-705, khalifah Abdul Malik dari Dinasti Abbasiah memperindah tempat suci Jerussalem dengan membangun Kubah Al-Sakhrah, atau Dome of the Rock. Pada tahun 929, terjadi pemberontakan kaum Qaramithah yang merampas Mekkah. Hal ini menyebabkan banyaknya eksodus bangsa Arab ke Jerussalem. Pada tahun 1969, Mesir, diduduki dinasti Fathimah yang menyatakan kemerdekaannya dari Dinasti Abbassiyah. Terjadi pertikaian antara kedua dinasti tersebut sampai dengan 1072 dan akhirnya Palestina dikuasai oleh Dinasti Fathimiah. Gereja Holy Sepulchre hancur saat serangan Dinasti Fathimiah ke Dinasti Abbasiyah.

Dome of the Rock (history.boisestate.edu)
Pada masa Perang Salib dan setelahnya (1099-1900)
Pada tahun 1099, datang serangan suku Frank dari Eropa yang membawa ke daerah Yerussalem yang membawa 40.000 tentara untuk menguasai Jerussalem. Jerussalem takluk dan akhirnya berdirilah kerajaan Latin di Jerussalem. Perang ini disebut Perang Salib I. Palestina dikuasai oleh suku Frank yang beragama Kristen. Adanya Perang Salib II yang berlangsung tahun 1147-1187 menyebabkan Palestina kembali berada di tangan Kerajaan Islam. Perang Salib berlangsung beberapa kali namun akhirnya berbuntut kepada perjanjian damai.
Pada tahun 1258, muncul serangan dari suku Tartar di bawah pimpinan Hulagu yang berasal dari Asia Tengah (Mongol). Serangan ini sempat menakukan Baghdad, Damaskus, dan Suriah. Namun, datangnya tentara dari Mesir menyebabkan mereka kalah dan akhirnya daerah itu dikuasai oleh Mesir.
Wilayah Dikuasai Turki (1516-1900)
Pada 1516, Turki menaklukan Mesir yang menyebabkan daerah itu ditaklukan Turki. Turki menjadikan daerah Palestina sebagai salah satu provinsi dan gubernur dikirim dari Konstatinopel. Turki menguasai Palestina selama 4 abad. Mulai 1840, Turki membuka Palestina demi kepentingan ekonominya. Akhirnya muncul pelabuhan-pelabuhan dan konsulat-konsulat Eropa. Hal ini memunculkan semakin kecilnya pengaruh Turki dan membesarnya pengaruh para konsulat di sana. Sempat terjadi Perang Krim (1854-1856) karena persaingan antara Ortodoks Yunani dan Pendeta Latin.

Theodor Herzl (www.israelvets.com)
Tahun 1896, Theodor Herzl, penggagas gerakan zionisme, mengeluarkan usulannya untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Hal ini disebabkan bangsa Yahudi yang terpencar dan tidak memiliki tanah air sejak Romawi menguasai Palestina. Akhirnya, beberapa orang Yahudi mendirikan koloni di daerah Palestina.
Berdirinya Negara Israel
Tahun 1914, muncul perselesihan antara Inggris Raya dan Turki. Akhirnya menyebabkan keduanya berperang. Palestina sempat dijadikan markas militer oleh Turki. Namun, akhirnya tahun 1918 Inggris resmi menang, dan Palestina dikuasai oleh Inggris.
Tanggal 2 November 1917, keluar deklarasi menteri luar negeri Inggris, Arthur Balfour, yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour. Deklarasi ini berisi tentang dukungan Inggris terhadap pendirian negara Yahudi di Palestina. Hal ini disebabkan oleh bangsa Yahudi telah membantu Inggris dalam memenangi Perang Dunia I dan Inggris ingin menguasai Palestina karena berada di daerah strategis di antara Asia, Eropa, dan Afrika.

Arthur Balfour (www.firstworldwar.com)
Pada tahun 1920, kantor pemerintahan Inggris di Palestina (British Mandate of Palestine) berdiri, Komisi Tinggi-nya adl Herbert Samuel. Setelah tahun-tahun tersebut, imigrasi Yahudi ke daerah Palestina terus meningkat. Orang Yahudi yang baru datang, biasanya masuk ke kota dan mendirikan perusahaan-perusahaan di sana.
Tahun 1929, mulai terjadi kerusuhan besar antara bangsa Arab dan Yahudi. Konflik ini terjadi karena adanya perebutan hak-hak beberapa tempat suci di Yerussalem. Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan tim yang dibuat Inggris, hal ini terjadi karena orang-orang Arab tertekan dengan pembelian tanah dan imigrasi orang Yahudi yang akhirnya mendesak mereka.
Tahun 1933, bangsa Yahudi hanya berjumlah 17% dari seluruh masyarakat Palestina. Namun, setelah masa itu, saat Hitler berkuasa di Jerman dan Polandia, terjadi gelombang migrasi besar-besaran dari Eropa ke Palestina. Pada saat itu juga terjadi perubahan politik di Timur Tengah. Mesir dan Suriah yang merdeka menyebabkan tumbuhnya nasionalisme untuk memerdekakan diri. Akhirnya timbul wacana untuk melepaskan Palestina dari Inggris.
Tahun 1938, Konflik antara Arab-Yahudi memuncak. Inggris mengeluarkan mandat yang intinya akan membagi Palestina menjadi dua bagian, yaitu untuk Arab dan Yahudi untuk menghentikan perpecahan. Namun, beberapa tahun kemudian mandat itu dicabut dan diganti dengan white paper yang intinya mendesak dibentuk satu pemerintahan gabungan antara Arab dan Yahudi. White-paper ini ditentang oleh bangsa Yahudi.
Pada saat itu, bangsa Yahudi yang tinggal di Amerika memegang peranan penting dalam perekonomian Amerika. Hal ini menyebabkan Amerika berpihak kepada kepentingan bangsa Yahudi. Inggris yang mulai merasa terganggu hubungannya dengan Amerika akhirnya menyerahkan tentang Palestina ke PBB. Inggris sendiri akan menarik mandatnya dari Palestina tanggal 15 Maret 1948.
1 September 1947, PBB menyarankan agar Palestina dibagi 2, menjadi daerah untuk bangsa Yahudi dan Arab. Bangsa Yahudi dan Arab yang tinggal di Palestina saling berebut pengaruh dan menolak aturan tersebut. Mulailah berbagai perang gerilya yang melibatkan keduanya. Namun, sayangnya, semangat bangsa Yahudi lebih berlipat dibanding dengan bangsa Arab di sana. Di saat terjadi perang, para ningrat Arab malah kabur ke negara lain. Tanggal 14 Mei 1948, Israel diproklamirkan orang-orang Yahudi. Esoknya Amerika Serikat mengakui kedaulatan Israel.
Perjuangan Palestina Pasca 1948
(red. Mulai saat ini, digunakan istilah bangsa Palestina untuk penduduk yang kebanyakan Arab yang tinggal di Palestina yang bukan masyarakat Yahudi)
Negara-negara Arab di sekitar Palestina menolak kehadiran Israel di sana. Terjadilah perang. Israel menang telak, dan akhirnya mengusai seluruh daerah Palestina kecuali Tepi Barat yang dikuasai Suriah dan Jalur Gaza yang dikuasai Mesir. Terjadi pengungsian besar-besaran bangsa Palestina dari Palestina. Penduduk Palestina terbagi menjadi 3, yang tinggal di pendudukan Israel, tinggal di jalur Gaza dan Tepi Barat, dan yang mengungsi ke daerah-daerah luar Palestina. Setelah itu, sering terjadi bentrok antara Israel dan negara-negara sekitarnya. Tahun 1964 berdiri PLO (Palestinian liberation Organization), sebuah organisasi yang nantinya diakui sebagai satu-satunya organisasi yang mewakili aspirasi masyarakat Palestina. Pada kelanjutannya, PLO dipimpin oleh Yaseer Arafat.

Yasser Arafat (www.mukto-mona.com)
Pata tahun 1967, terjadi perang 6 hari antara Israel-Mesir. Mesir kalah telak sehingga Israel berhasil menduduki daerah Sinnai. Tahun 1973, Mesir dan Suriah bersatu untuk menyerang Israel, namun Israel menang dan menguasai daerah hingga mendekati Terusan Suez. Mesir akhirnya mengakui keberadaan negara Israel, dengan imbalan daerahnya sampai dengan Sinnai dikembalikan ke Mesir (tercantum dalam Perjanjian Camp David 1978).
Sejak saat itu, wilayah Palestina dikuasai Israel. Israel sendiri demi kepentingan zionismenya, membentuk perumahan-perumahan untuk bangsa Yahudi di daerah Palestina. Israel sendiri menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat. Di sana, bangsa Palestina dijadikan masyarakat kelas dua. Perumahan mereka digusur dan diteror. Bangsa Palestina terus menerus menderita di bawah pendudukan Israel.
Akibat dari tekanan pendudukan Israel, muncullan gerakan yang dinamakan Intifada pada tahun 1987. Gerakan Intifada sendiri, yang secara harfiah berarti “pemberontakan”, merupakan gerakan melawan tentara Israel yang bersenjata dengan batu-batu dan ketapel. Seluruh aspek bangsa Palestina, baik itu anak-anak dan orang tua, lelaki dan wanita melakukan perjuangan dengan melempar batu ke arah tentara-tentara Israel yang bersenjata dan bertank lapis baja. Selain itu munculnya beberapa kelompok-kelompok garis keras, seperti HAMAS pada tahun 1987, yang memiliki pemikiran bahwa satu-satunya cara menguris Israel dari Palestina adalah dengan perang jihad.

Seorang Anak Melempar Batu ke Tentara Israel dalam Intifada (www.voltairenet.org)

Intifada (www.israelnewsradio.net)
Jalur Diplomasi Dimulai
Pada 30 Oktober 1991, dimulai konferensi Madrid, antara Israel dan Palestina yang diwakili oleh PLO. Pertemuan berlanjut sehingga pada 13 September 1993, ditandatangai Perjanjian Oslo yang berisi PLO diberi wilayah otonomi, yaitu 60% dari Jalur Gaza dan kota Ariha di Tepi Barat. Imbalannya, PLO mengakui eksistensi Israel. Pada 1 Juli 1994, Arafat memasuki Gaza dalam rangka mendirikan Otoritas Nasional Palestina (Palestinian National Authority; selanjutnya disebut PNA). Pada 1996 diadakan pemilu pertama bangsa Palestina, Yasser Arafat terpilih menjadi Presiden. Selanjutnya muncul beberapa perjanjian seperti:
- 17 Januari 1997, Perjanjian Al Khalil ditandatangani Israel-Palestina yang berisi 20% wilayah Al Khalil tetap dikuasai Israel, sisanya diserahkan kepada Palestina.
- 23 Okt 1998, Perjanjian Maryland ditandatangani Israel-PNA. Berisi Israel menyerahkan sebagian wilyah di Tepi Barat kepada PNA, sebagai imbalan, PNA berjanji mengatasi masalah terorisme (terorisme sendiri merujuk kepada tindakan HAMAS)
Wilayah Palestina sendiri terbagi dua, yaitu Tepi Barat dan Jalur Gaza yang masing-masing dipisahkan oleh wilayah Israel.

Yitzhak Rabin, Bill Clinton, Yasser Arafat dalam Kesepekatan Oslo (kenraggion.com)
Pada 28 Sept 2000, Intifadah Kedua dimulai, dipimpin oleh HAMAS. PNA sendiri dalam pihak yang bertentangan dengan HAMAS. PNA lebih milih untuk berdialog daripada berperang. Pada 26 Okt 2004, gigihnya perjuangan Intifadah II membuat Israel kewalahan dan mengesahkan program penarikan mundur dari Jalur Gaza. Pada, 11 Nov 2004 Yaser Arafat meninggal. Kepemimpinan di PLO digantikan oleh Mahmoud Abbas. September 2005 dimulai penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza. Inilah kemenangan para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun, Israel terus melancarkan serangan dan teror ke Jalur Gaza. Selain itu, Israel mendirikan tembok-tembok pembatas yang mengucilkan pemukiman Palestina dan memperlebar perumahan bagi bangsa Yahudi.
Pada Pemilu 2006, HAMAS memenangi pemilu. Namun, sebagian besar negara barat menolak hasil pemilu ini karena menanggap HAMAS adalah teroris dunia. HAMAS sendiri berpusatkan di daerah Jalur Gaza.

Sayap Militer Hamas (heavenawaits.wordpress.com)
Beberapa kali terjadi bentrok antara HAMAS dan Israel yang ditandai saling meluncurkan roket dan misil di perbatasam. Hal ini memaksa perang terjadi. Perang yang terakhir terjadi pada Desember 2008. Pasca gencatan senjata berakhir pada November 2008, tank-tank Israel masuk ke perbatasan jalur Gaza dan milisi HAMAS menembakkan roket ke arah Israel dari Jalur Gaza. Akhirnya, dimulailah perang yang ditandai dengan tanggal 27 Desember 1998, Israel melakukan serangan udara yang diikuti serangan darat ke arah Jalur Gaza dengan dalih memusnahkan HAMAS. Perang terjadi sampai dengan 19 Januari 2008 dan menewaskan 1200 lebih warga Palestina dan belasan tentara Israel. Sayangnya, dari kebanyakan warga yang tewas bukanlah dari kalangan militer. Bahkan, sekitar 600 orang merupakan anak-anak dan perempuan.
Pada saat tulisan ini dibuat (21 Januari 2009), Israel telah menarik mundur pasukannya dari Jalur Gaza. Keadaan Jalur Gaza saat ini bagaikan kota yang luluh lantah. Bangunan hancur dan masyarakat yang mengalami luka baik fisik maupun mental yang traumatis akibat perang. Rumah sakit penuh oleh orang yang terluka dan masyarakat yang hidup di sana kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Meskipun bantuan telah masuk, namun diperkirakan Jalur Gaza tidak akan pulih dalam waktu dekat. Padahal, deadaan di Palestina masih memungkinkan untuk terjadi perang kembali. Korban-korban lain masih mungkin berjatuhan.

Perempuan Gaza sedang Meratap (www.populisamerica.com)

Korban Anak-Anak di Gaza (www.monde-magouilles.com)
***
Hentikan kekerasan di Gaza dan sekitarnya…
January 23, 2009 at 7:03 am |
wew…lengkap sekali nug ….
tulisan yang bagus …
gw udah denger perubahan daerah israel yg tadinya bintik2 jerawat di daerah palestina dan sekarang malah jadi kebalikannya
doa saja yang bisa ku kirim
January 23, 2009 at 10:41 am |
Van2… skalian dbikin kajian HMIF gmn?
January 23, 2009 at 11:43 am |
Eh ada yang pro-israel ndak di Indonesia?
January 23, 2009 at 5:46 pm |
waaaauww..
slamat ya van..
btw gue belom baca sebenernya
January 23, 2009 at 8:17 pm |
Ini hasil yang dibuat ya, luar biasa,.
Nanti disiapin untuk pembahasan kajian aja, kayaknya masih lumayan untuk di bulan Februari,.
January 24, 2009 at 12:14 pm |
@nass: aku tidak mendukung mendukung Palestina maupun Israel dalam masalah ini, tetapi aku menentang peperangan dan kekerasan yang disebabkan oleh kedua negara tersebut..
Kalau kita mendukung salah satu negara tersebut, sepertinya peperangan tidak akan pernah usai, yang ada hanyalah peperangan yang bertambah ramai oleh orang Indonesia…
January 27, 2009 at 6:18 am |
terima kasih pencerahannya
January 28, 2009 at 3:39 pm |
@nortbird: Setuju!!!
January 28, 2009 at 6:51 pm |
wow, tulisannya lengkap banget ka ivan.
Zionis Israel ato HAMAS sama aja jahatnya, bunuh orang 1 dan 1000 sama-sama aja jahat, picik rasanya mendukung salah 1 pihak tersebut (mendukung penjahat berarti ikutan jadi penjahat dong?).
Palestina atau Israel? Yang mana aja yang nguntungin Indonesia deh hehe…
Btw, sumbernya kayanya smua dari sudut pandang pejuang Palestina gmn klo ditambah dr sudut pandang Israel sendiri? Cm saran sih hwhw ^^ Nice post btw.
David Soen.
January 28, 2009 at 11:43 pm |
Saya pendukung Palestina jelas… Negara satunya lagi itu bagi keeksisannya saja dipertanyakan…
January 30, 2009 at 6:38 am |
Kerja keras yang bagus! Memang begini seharusnya kita menyikapi sbh fenomena, digali dg mendalam, bandingkan antara satu makalah dg makalah lain. Bukannya mengambil kesimpulan dari fakta di permukaan dan buru-buru berkata “Israel dan Hamas sama jahatnya!” kayak David Soen.
Di antara berbagai informasi yg simpang siur, nurani yang jernih akhirnya pasti akan mampu mencerap mana yg benar mana yg salah.
January 31, 2009 at 6:40 pm |
Tulisan kamu oke.Tapi tidak dijamin kebenarannya.Kalau kamu mau tahu kebenaran, kamu harus bisa membandingkan yg tertulis di Alkitab dan Al’quran.Sebenarnya Israel itu sudah ada sejak nabi Musa.Dan Filistin = Palestina.Kalau menurut saya apa yg tertulis di Kitab Suci adalah benar adanya dan tidak ada satu manusiapun yg dapat menentangnya.Itu sudah disuratkan dan dijanjikan Tuhan sejak nabi Musa.Dan coba kita telesuri apa penyebab serangan Israel Desember lalu? Tak lebih karena Hamas memancing kemarahan Israel dgn meluncurkan roket-roketnya.Sebelum Hamas melakukan itu, pasti dia sudah terpikir bakal ada serangan balasan.Dan kalau memang Hamas menghargai tiap jiwa korban yg notabene tidak bersalah, seharusnya Hamas tidak melakukannya….dan tidak bertameng dibalik jiwa – jiwa yg tidak berdosa.Bahkan seorang PM pun tidak dapat menjawab pertanyaan Simon Perez..”Bagaimana kalau anda jadi Israel yg setiap hari menerima sedikitnya 100 roket setiap hari? “.Jadi kita harus bisa berpikir jernih…karena perang antara Israel dan Palestina bukan perang agama tapi hanya perebutan tanah…..
February 1, 2009 at 10:33 am |
van, saya blogwalking hehehe…
ikut berpendapat saja..
melihat konflik Palestina-Israel,rasanya kita seperti melihat sebuah wilayah yang “disengajakan” untuk berada dalam situasi konflik.
Ambillah contoh :
Israel menyerang Palestina karena alasan kiriman roket dari Hamas,sebuah alasan yang wajar untuk menjaga keutuhan wilayah suatu negara. Bisa dibayangkan jika Indonesia terus menerus kiriman roket dari Malaysia misalnya ? Apa Indonesia akan diam saja ?
Tapi, kita juga harus fair. Ada asap, tentu ada api. Jadi,kenapa Hamas mengirimkan roket-roket itu?
Bisa jadi, itu semua karena “provokasi” yang dilakukan Israel. Banyak jika ingin disebutkan di sini,misalnya, penghinaan terhadap tempat ibadah Al-Aqsa, blokade terhadap seluruh kota dengan mengatur jam malam, pasokan makanan, listrik, air bersih. dan lain-lain.
Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya jika Indonesia ini mengalami blokade selama bertahun-tahun oleh negeri tetangganya? Apalagi ditambah ketidakseimbangan kemampuan ? Frustasi itu bisa saja diwujudkan dalam serangan-serangan sporadis berupa roket.
Kenapa Israel memblokade ? Mereka merasa terancam dengan ancaman bom bunuh diri. Mereka tidak percaya, apalagi setelah Hamas memenangkan pemilu, pemerintah Palestina mampu meredakan ‘ancaman’ bagi negara mereka. Mereka merasa punya kuasa atas daerah mereka, dan mereka bertanggung jawab untuk melindungi rakyatnya dari ancaman itu. Wajar. Naluri pertama manusia : bertahan hidup.
Kemudian, kenapa bisa terjadi ada bom syahid yang menyerang warga sipil?
Emm, biar ga lebih panjang, silahkan dianalisis lebih lanjut.
Analisis ini tentu bisa dikembangkan lebih jauh, dan tidak akan menemui titik temu karena kedua belah pihak merasa paling benar. Sejarah selalu ditulis dengan tinta pemenang bukan? Dan media merupakan sarana terbaik untuk mempropagandakan sejarah yang benar menurut versinya masing-masing..
Dan selalu saja ada orang yang memancing di air keruh. Mengonversi konflik untuk keuntungan dirinya sendiri atau kelompoknya.
Buat saya inilah ‘axis of evil’ sesungguhnya. Mereka yang bekerja di balik layar, dengan menyutradai jutaan manusia dalam panggung konflik berdarah mereka.
Mungkin jika semuanya mendengarkan hati nurani dan fitrah manusianya, mereka dan juga kita akan mengerti, bahwa Yahudi-Arab,Jews or Moslem, putih atau hitam, semuanya toh makhluk yang berlabel manusia juga.
Naif mungkin, tapi saya percaya jika semuanya mau menyediakan waktu untuk saling mendengarkan dan berusaha mengerti, ada perubahan besar yang bisa dilakukan. Tanpa perlu melibatkan nyawa orang banyak.
February 24, 2009 at 12:21 pm |
PERJUANGAN BANGSA PALEATINA MERUPAKAN PERJUANGAN SELURUH UMAT ISLAM!!!!!!!!!!!!
March 25, 2009 at 8:41 am |
gak usah sok2 netral, yg ada jdnya MUNAFIK…
sejarah konflik di Palestine BUKAN DIMULAI DARI ROKET HAMAS…
History did not begin with the Qassam Rockets
By Amira Hass (Haaretz.com)
(diterjemahkan oleh Dina Y. Sulaeman; frasa dalam [...] adalah penjelasan dari Dina)
Sejarah tidak dimulai dengan roket Qassam. Tapi bagi kita, orang Israel, sejarah selalu dimulai ketika orang Palestina melukai kita dan kemudian luka itu dilepaskan dari konteksnya sama sekali. Kita berpikir bahwa bila kita menimbulkan luka yang lebih besar lagi di tubuh Palestina, mereka akhirnya akan belajar [untuk tidak melukai kita]. Sebagian orang menyebut hal ini sebagai ‘keberhasilan’.
Namun ‘pelajaran’ itu tetap abstrak bagi sebagian besar orang Israel. Media Israel memberitakan informasi yang minim, miskin kebenaran, serta penuh [cerita tentang] jenderal dan orang-orang sejenis mereka . Informasi itu tidak memberi kebanggaan bagi keberhasilan kita: anak-anak yang dibantai dan jasad-jasad yang terkubur di bawah puing-puing, orang-orang terluka yang mati kehabisan darah karena tentara kita menembaki kru ambulans, gadis kecil yang kakinya diamputasi karena lukanya sangat parah akibat [tembakan] berbagai jenis senjata, ayah yang hancur berlinangan air mata, pemukiman pendudukan yang hancur lebur, luka bakar mengerikan akibat fosfor putih [zat kimia yang dipakai pasukan Israel], dan ‘mini-transfer’—puluhan ribu penduduk yang sudah terusir dari rumah mereka dan masih terusir hingga kini, diperintahkan untuk tinggal berjejalan di sebuah area yang secara kontinyu semakin mengecil, dan berada di bawah hujan bom dan granat.
Sejak Otoritas Palestina didirikan, mesin PR (Public Relation) Israel membesar-besarkan bahaya ancaman militer yang ditimbulkan orang Palestina kepada kita. Ketika mereka berpindah dari [penggunaan] batu ke senapan, dari bom Molotov ke bom bunuh diri, dari bom jalanan ke Qassam, dari Qassam ke Grad [peluru kendali], dari PLO ke Hamas, kita berkata dengan nada menang, “Kami sudah bilang, kan? Mereka itu anti Yahudi.” Dan karena itu, kita berhak untuk bersikap buas.
Hal yang membuat militer Israel mampu melakukan kebuasannya –kata yang tepat tak saya temukan di kamus saya- adalah isolasi step-by-step Jalur Gaza. Isolasi itu membuat penduduk Gaza menjadi objek yang abstrak, tanpa nama dan alamat -selain alamat orang-orang bersenjata, dan tanpa sejarah sejak hari yang ditetapkan oleh agen keamanan Shin Bet.
Pengepungan Gaza tidak dimulai ketika Hamas menguasai organ keamanan di sana, atau ketika Gilad Shalit ditawan, atau ketika Hamas terpilih dalam pemilu demokratis. Pengepungan itu dimulai th 1991-sebelum ternjadi bom bunuh diri. Dan sejak itu, proses pengepungan menajdi semakin canggih dan mencapai puncaknya tahun 2005.
Mesin PR Israel dengan gembira menampilkan proses penarikan pasukan [thn 2005] sebagai berakhirnya pendudukan, tanpa tahu malu menutupi fakta sesungguhnya. Isolasi dan penutupan [Gaza] disebut-sebut sebagai ‘keperluan militer’. Tapi kita adalah gadis dan bujang yang sudah besar, dan kita paham bahwa ‘keperluan militer’ dan kebohongan yang terus-menerus itu demi mecapai tujuan negara. Tujuan Israel adalah untuk menggagalkan ‘solusi dua negara’ yang diharapkan dunia sejak Perang Dingin berakhir tahun 1990. Ini bukanlah solusi yang sempurna, tapi orang Palestina akhirnya bersedia menerimanya.
Gaza bukanlah kekuatan militer yang menyerang tetangganya yang kecil dan pencinta damai, Israel. Gaza adalah wilayah yang dijajah Israel tahun 1967, bersama dengan Tepi Barat. Penduduknya adalah bagian dari bangsa Palestina, yang kehilangan tanah dan tanah airnya pada tahun 1948.
Pada tahun 1993, Israel memiliki kesempatan emas untuk membuktikan kepada dunia bahwa apa yang dikatakan orang tentang kita tidaklah benar, bahwa Israel bukan negara kolonialis. Bahwa pengusiran sebuah bangsa dari tanah air mereka demi pendirian [negara] Yahudi bukanlah basis dan inti dari keberadaan Israel. Pada tahun 1990-an [proses perundingan Oslo], Israel memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa [kejadian] tahun 1948 bukanlah paradigma Israel.
Tapi, Israel melepaskan kesempatan itu. Bahkan, Israel mempercanggih teknik perampokan tanah dan pengusiran orang-orang dari rumah mereka; dan mengepung orang-orang Palestina di wilayah yang terisolasi. Dan sekarang, selama hari-hari yang gelap ini, Israel sedang membuktikan bahwa 1948 tidak pernah berakhir.
Source : Dina Y. Sulaeman – Blog
SUMBER ASLI DARI MEDIA MASSA ISRAEL “HAREETZ.COM”
April 16, 2009 at 12:15 am |
artikelnya bagus, lengkap, salam kenal ya. Visit me at
http://www.pkugombong.tk
http://www.meditasimendoan.co.cc
April 16, 2009 at 12:24 am |
Untuk sampai ke sana, ada baiknya kita melihat cikal bakal bangsa Yahudi dan sejarah berdirinya Palestina. Sejarah mencatat, yang pertama kali membangun kota Al-Quds (Yerusalem) adalah suku bangsa Yabus, salah satu kabilah Arab kuno bersama suku Kan’an. Hal tersebut terjadi sejak 30 abad sebelum masehi. Ketika itu Al-Quds bernama ‘Urussyaleem’ atau ‘Kota Syaliim’. Setelah itu lainnya mulai mendiami Al-Quds dan Palestina secara umum selama berabad-abad, sampai kedatangan Ibrahim a.s. yang hijrah dari tanah airnya Iraq, sebagai orang asing. Ibrahim memasuki Palestina bersama isterinya, Sarah, pada usia 75 tahun sebagaimana yang disebutkan dalam pasal-pasal Perjanjian Lama. Ketika ia mencapai usia 100 tahun, lahirlah Ishaq (Lihat Kejadian: 12). Ibrahim as wafat pada usianya yang ke-175 tahun dan tidak pernah memiliki Tanah Palestina walau hanya sejengkal. Sehingga saat isterinya, Sarah, meninggal, dia harus meminta kepada bangsa Palestina tempat untuk menguburkannya.” (Lihat Kejadian: 23)
Ketika Nabi Ishaq as berusia 60 tahun, lahirlah Nabi Ya’qub as. Nabi Ishaq as meninggal di usia 180 tahun dan tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina. Salah satu keturunan dari Nabi Ya’qub as adalah Nabi Yusuf as, yang menjadi bendaharawan di Negeri Mesir. Kemudian Nabi Yusuf as memboyong ayahnya (Nabi Ya’qub) dan seluruh kerabatnya menuju ke Mesir dan bermukim di sana. Nabi Ya’qub as pindah ke Mesir dan wafat di sana di usia yang ke 147 tahun. Nabi Ya’qub as berusia 130 tahun ketika memasuki Mesir dan anak cucunya ketika itu berjumlah 70 jiwa (Lihat Kejadian: 46). Ini berarti masa di mana Ibrahim, Ishaq puteranya dan Ya’qub cucunya hidup di Palestina adalah 230 tahun. Mereka di sana sebagai orang asing, pendatang, yang tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina.
Seiring dengan perjalanan waktu, keturunan Nabi Ya’qub ini diperbudak oleh kaum bangsawan Mesir. Hingga masa Nabi Musa as, maka seluruh suku keturunan Nabi Ya’qub (cikal bakal bangsa Yahudi) dibawa keluar dari negeri Mesir dan melarikan diri dari kejaran Firaun Ramses III. Taurat menyebutkan bahwa masa di mana Bani Israil hidup di Mesir hingga keluar oleh Musa a.s. adalah 430 tahun. Mereka juga orang asing yang tidak memiliki apa-apa. Setelah keluar dari Negeri Mesir, Nabi Musa as membawa kaumnya untuk kembali ke tanah Palestina. Dan pada saat itu, Palestina tidak bisa dimasuki oleh kaum Yahudi karena sudah dikuasai oleh kaum paganis, Nabi Musa as kemudian memerintahkan kaumnya untuk berjihad dan merebut tanah Palestina. Namun keengganan dan ketidakpatuhan Kaum Yahudi terhadap Nabi Musa as inilah yang menyebabkan Kaum Yahudi harus menjadi pengembara di padang gurun Sinai selama 40 tahun lamanya (Lihat QS Al Maidah (5): 20-26). Disebutkan juga dalam Taurat bahwa masa di mana Musa a.s. dan Bani Israil hidup di padang Sinai adalah 40 tahun. Artinya janji Tuhan untuk mereka sudah lewat ketika itu selama 700 tahun dan mereka tidak memiliki apa-apa di Palestina. Maka kenapa Tuhan tidak memenuhi janjinya terhadap mereka?
Musa meninggal dan tidak pernah memiliki tanah sedikit pun di Palestina. Ia hanya memasuki wilayah Selatan Yordan dan meninggal di sana. Sepeninggalnya, yang memasuki Palestina adalah Nabi Yasyu (Joshua) dan meninggal setelah mengalahkan penduduk aslinya. Kemudian Tanah Palestina dibagi-bagikan kepada anak cucu Bani Israel dan mereka idak pernah memiliki raja maupun kerajaan kecuali para hakim yang memerintah selama 200 tahun. Setelah era hakim datanglah masa raja-raja: Saul, Daud, dan Sulaiman. Mereka memerinah selama 100 tahun bahkan kurang. Inilah periode berdirinya kerajaan dan masa kejayaan mereka. Setelah Sulaiman kerajaannya dibagi-bagi antara anak-anaknya: Yahudza di ‘Urussyaliim dan Israel di Syakeem (Nablus). Peperangan antara mereka berdua sangat dahsyat dan tiada henti, hingga datangnya tentara Babylonia di bawah pimpinan Nebukadnezar yang menghancurkan mereka berdua, menghancurkan Haikal Sulaiman dan ‘Urussyaliim, membakar Taurat, dan menawan serta mengasingkan tiap orang yang masih hidup. 50 tahun sesudah penyerbuan oleh ini, Nabi Uzair (Ezra) memimpin 1800 orang Yahudi untuk kembali ke Palestina.
Setelah hancur oleh serbuan tentara Babylonia di bawah Raja Nebukadnezar, Palestina kembali diserbu oleh tentara Romawi yan dipimpin Kaisar Titus pada tahun 70 M. Inilah kali kedua Haikal Sulaiman dihancurkan. Dan penguasa Romawi ini melarang orang Yahudi menginjakkan kakinya di Palestina.
Dr. Syaikh Abdul Mu’iz Abdus Sattar yang memberikan komentar dalam bukunya ‘Telah Tiba Janji Kebenaran, wahai Yahudi’ dengan mengatakan, “Andai dijumlahkan seluruh tahun di mana Bani Israel hidup berperang dan menghancurkan di Palestina, tidak akan bisa menyamai masa yang dilalui Inggris di India, atau pun Belanda di Indonesia. Maka jika masa seperti itu memliki hak sejarah, sudah pasti Inggris dan Belanda akan menuntut hal serupa, seperti Israel” Kenyataanya Belanda telah bercokol di bumi Pertiwi ini selama hampir 350 tahun lamanya dan tanah Indonesia tetaplah milik orang Indonesia, bukan milik penjajah Belanda.
Seandainya kepemilikan tanah bisa disebabkan lamanya waktu tinggal di pengasingan, maka lebih tepat bagi mereka untuk menuntut kepemilkan atas Mesir yang mereka diami selama 430 tahun sebagai pengganti Palestina yang didiami Ibrahim dan anak-anaknya selama 200 tahun atau lebih sedikit dan mulanya hanya dua orang yang memasuki tanah Palestina dan ditinggalkan oleh 70 orang.
Dari sini, jelas sekali bahwa pemilik asli tanah Palestina bukanlah orang Yahudi Israel. Tanah ini jauh sebelumnya adalah milik orang Arab, dan pada masa kekhalifahan Umar bin Khotob, Uskup Copernicus dengan sukarela menyerahkan kunci dan kepemimpinan Palestina (Yerusalem) kepada kaum Muslimin. Itu artinya, persoalan di Palestina juga merupakan persoalan Kaum Muslimin juga. Wallahu a’lam.
Ya Allah saksikanlah, bahwa ini telah saya sampaikan….
August 9, 2009 at 4:07 pm |
Assalamualaikum
Israil mesti dikutuk…….. Sesuai dengan kutukan Allah pada orang2 yahudi…..
October 27, 2009 at 3:06 pm |
saya yakin 100% persen bahwa tidak ada manusia satupun di dunia ini yg pro dgn israel
October 29, 2009 at 1:46 pm |
yang saya tahu tanah yang dijanjikan untuk israel sudah habis waktunya, expired, coba saja pahami sejarah agama samawi. jadi tanah itu sudah bukan untuk bangsa israel karena ketidakpatuhannya pada musa. israel atau palestina sama-sama salah mengambil cara menyelesaikan persoalan.
November 1, 2009 at 7:57 pm |
Jujur, saya sangat menyesali persatuan dan solidaritas bangsa Arab. Yang dilakukan bangsa Arab selama ini hanya berdemonstrasi mengutuk kekejaman zionis, mengirim tentara perdamaian, bantuan makanan, dan lain-lain yang substansinya tidak memberi pengaruh besar.
Tak ada tindakan konkrit dari bangsa-bangsa Arab untuk membantu Palestina. Jangankan bangsa Arab, antara Hamas dan Fatah pun tidak terjalin hubungan yang harmonis. Bagaimana Palestina bisa mencapai kedaulatan, jika para pemimpinnya tidak satu visi? Atau memang watak bangsa Arab yang sulit bersatu?
Jika melalui jalur diplomasi, saya yakin Palestin tidak akan mencapai kedaulatan, karena Israel dibantu oleh Inggris dan Amerika. PBB pun seperti tidak punya kelamin. Faktanya, apa yang terjadi saat kantor PBB Palestina dibombardir oleh Israel? Hanya sanksi “geretak sambal” yang dikeluarkan PBB. Hukum perang internasional menjadi absurd. Keadilan hanya sebuah utopia.
Jalan satu-satunya adalah “mengangkat senjata.” Tapi, harus teroganisir dan satu visi. Harus ada seorang revolusioner yang mampu merangkul Hamas-Fatah, dan bangsa Arab lainnya.
Ruang gerak rakyat Palestina sangat terbatas. Nyawa menjadi taruhan jika melangkahkan kaki di daerah teritori Israel. Maka dari itu, bersatulah Palestina.
November 7, 2009 at 8:17 pm |
wah hebat lengakap infonya….semoga israel lakanatulloh cepat hancur…dan pergi dari bumi palestina. hamas selamt berjihad kami mendukungmu..Allohuakbar
November 8, 2009 at 12:39 pm |
YA ALLAH….
BERIKANLAH AZZAB YANG SANGAT PEDIH KEPADA YAHUDI-YAHUDI YANG BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI INI….
ALLAHUAKBAR………
November 17, 2009 at 12:42 am |
ISLAM ITU BEJAT…. TAK ADA PERI KEMANUSIAAN WAJAR AJA ISLAM HARUS BINASA HIDUP ISRAEL