Semangat, ya, Kak N! :) Tuesday, May 20 2008 

Saya nulis tulisan ini setelah UAS Otomata dan Teori Bahasa Formal (Asyik, satu mata pelajaran semester ini selesai :) ). Meskipun saya nggak terlalu yakin akan jawaban yang saya tulis, semoga saya nggak ngulang tahun depan :) . Ada sebuah kejadian menarik saat UAS tersebut. Hal ini berkaitan dengan asisten yang mendapatkan tugas mengawas. Namanya, Kak N (nama sengaja disamarkan :) ), IF angkatan 2004.

Waktu UTS OTBF, dia cukup membuat kesal beberapa orang-orang di kelas karena menegur dan menanyakan nama beberapa orang yang ia curigai mencontek. Dan puncaknya, di menit-menit terakhir, dia membuat sebuah kejutan (Mungkin di sepak bola bisa dibilang mencetak gol penentu di menit2 akhir2 :) ). Seorang teman yang hendak izin ke WC ia geledah terlebih dahulu. Hal ini tambah membuat kesal seisi kelas, karena orang-orang yang sedang mencari inspirasi di menit-menit terakhir terganggu konsentrasinya karena mendengar keributan penggeledahan. Ha3x…

Nah, di UAS tadi, dia kebagian ngawas lagi di kelas. Dan teman-teman yang mengalami pengalaman traumatik dengan kejadian waktu UTS mulai membuat ulah. Pertama, begitu dia masuk ada seseorang yang nyeletuk keras “Wah dia lagi!.”. Trus mulailah celetukan2 keluar selama setengah jam awal, seperti “hati2 ada pistol (berhubungan dengan penggeledahan waktu UTS)” atau berteriak “Nama saya XXX (XXX berkaitan dengan nama-nama lucu atau aneh. Yang ini berkaitan dengan penanyaan nama)”. Yah, pokoknya selama setengah jam awal celetukan2 selalu muncul. Apalagi ketika dia menyuruh agar mengisi tempat duduk depan terlebih dahulu dan merapihkan barisan. Ada yang ngomong “Wah, mulainya telat,nih!”.

Entah bagaimana pendapat teman-teman yang lain, saya cukup iba padanya. Meskipun memang celetukan2 lucu terus keluar, saya berusaha untuk nahan ketawa. Meskipun kebanyakan ga bisa nahan lagi :) . Tapi yang saya kagum dengan dia adalah dia bertahan dengan celetukan2 itu. Dan dia tetap menjalankan aturan ujian seperti biasa. Mungkin dia agak hiperbolis, tapi kalau dipikir-pikir, apa yang ia bawa adalah benar. Dia berusaha menjalankan aturan ujian sebaik mungkin. Jadi inget Bu Inge yang sangat taat peraturan :) .

Yah, tulisan ini saya buat bukan untuk membela dia. Tapi, semangat ya, Kak N.

Pengalaman Pertama yang Begitu Menggoda Tuesday, May 20 2008 

Minggu kemarin cukup berkesan, soalnya ada 2 kejadian yang merupakan pengalaman pertama saya seumur hidup.
1. Donor Darah
Senin, 12 Mei 2008, akhirnya untuk pertama sepanjang hidup, sy donor darah :) . Sebelumnya, sy ga pernah ngedonor soalnya terbayang-bayang tes darah sewaktu kelas 1 sD. Waktu itu gara-gara tes darah saya nangis sepanjang istirahat sekoah :( . Efeknya, dari saat itu saya ga tau golongan darah saya apa. Soalnya waktu bayi tes darah gololangan daranya AB, trus waktu di tes saat SD itu, golongan darahnya A. Bingung deh….
Yup, akhirnya Senin, sy memberanikan diri untuk mendonorkan darah. Sempat kedua kali bolak-balik ke tempat donornya karena waktu itu rasa takut akan tes darah masih terbayang. Untunglah, akhirnya, sy memberanikan diri dan hasilnya menyumbangkan 500 ml darah bergolongan A :) . Wah, ternyata ga sesakit yang dibayangkan.
Thanks to :
1. Gege
Gara-gara dia saya terlecut untuk donor darah. Waktu itu abis kuliah dia lari dari kelas dan pas ditanya mau kemana dia bilang “mau donor darah”. Wah, ada orang yang segitu niatnya ngedonor sampai lari segala.
2. Unggul
Orang yang nemani saya donor darah. Kalau ga ada dia mungkin saya akan bolak-balik untuk yang ketiganya. +)
3. Risa
Orang yang ngasih banyak teori tentang doroh darah. Meskipun ternyata dia belum pernah donor darah. Semangat, Ris! Ga sakit kok.
4. Rizki Daya
Ketua Donor Darah 4 Labtek yang mendonorkan darah pertamanya hari itu juga :) .
5. Austin
Kadiv Pengabidan Masyarakat HMIF, divisi yang ngadain donor darah.
6. PMI, HME, KMKL, HMF, HMFT, dan pihak-pihak lain yang membantu terlaksananya donor darah pertama saya :) .

2. Unjuk Rasa
Nah, ini juga menarik. Kalau kata orang-orang sih belum jadi mahasiswa kalau belum unjuk rasa. Jum’at, 14 Mei 2008, sy ikut unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Unjuk rasa ini merupakan hasil kesepakatan beberapa himpunan dalam forum massa di ITB malam sebelumnya. Unjuk rasa diadakan dengan mengadakan longmarch dari ITB ke Gedung Sate. Di Gedung Sate, kami melakukan orasi dan beberapa orang dikirim masuk ke gedung DPRD. Sayangnya, tidak ada satu pun wakil rakyat yang ada di Gedung tersebut. Gosipnya sih mereka kecapaian karena udah 4 hari menerima unjuk rasa :( . Entah benar atau tidak. Tapi paling nggak udah banyak wartawan yang ngeliput dan masyarakat yang melihat (meskipun efeknya capek dan kulit jadi hitam :) ).
Pada dasarnya sih, saya merupakan orang yang cukup kontra dengan unjuk rasa. Tapi, saya juga berpikiran kalau misalnya ITB ga pernah unjuk rasa, gimana rakyat bisa tau kalau kami peduli. Meskipun satu perbuatan mengalahkan 1000 kata-kata, tapi terkadang kata-kata juga perlu diantara perbuatan itu. Udah lama ITB ga pernah ngadain unjuk rasa.
Banyak yang bilang, “Ngapain, sih, ga penting unjuk rasa. Ntar juga nggak didengerin.” atau “Kan unjuk rasa jadi bikin macet. Trus, kalau macet bukannya jadi boros BBM.” Terserah apa kata orang, tapi sy pikir sy nggak menyesal udah unjuk rasa menentang kenaikan BBM. Paling nggak, meskipun ntar BBM naik, rakyat tau masih ada orang-orang yang peduli mereka. Semoga pemerintah bisa mengatasi kenaikan harga minyak dunia bukan dengan menaikan harga BBM :) .

Ivan Nugraha vs Ivan Gunawan Friday, May 9 2008 

Mungkin sekarang semua orang di Indonesia kenal Ivan Gunawan. Berkat acara-acara seperti “Super Mama”, “Super Soulmate”, dan acara-acara lainnya yang ditayangkan di Indosiar tiap hari pukul 18.00-24.00. Acara-acara tersebut mempunyai rating yang sangat besar dan tentunya hal itu membawa dampak semakin terkenalnya Ivan Gunawan. Saya nggak akan membahas tentang kontroversi acara tersebut, tapi saya akan membahas dampak acara tersebut bagi saya dan orang-orang yang bernama Ivan.

Ivan GunawanIvan Nugraha

Nah, sebagai orang yang mempunyai nama depan sama, Ivan, ternyata saya yang lugu dan tidak bersalah ini akhirnya kena dampaknya juga. Banyak teman yang tiba-tiba memanggil igun (nama kecil Ivan Gunawan), atau madam (panggilannya juga). Hal-hal ini sih sebenarnya masih bisa ditolelir. Namun, ada satu kejadian yang membuat saya kesal banget. Bagaimana kejadian tersebut?

Ceritanya, Sabtu kemarin, 3 Mei 2008, saya ke Rumah Sakit Mata Cicendo untuk cek rutin mata. Nah, setelah membayar di kasir, tentunya saya menunggu giliran nama dipanggil di ruangan tunggu. Sambil baca buku OTBF (soalnya waktu itu ada tugas OTBF) saya duduk agak jauh dari ruangan dokternya. Satu per satu orang yang datang duluan telah dipanggil. Dan, akhirnya, entah apa yang ada di pikiran si suster, tiba-tiba dia berteriak “Ivan Gunawan”. Lalu dia berkata, “eh, salah, Ivan Nugraha”. Semua orang tertawa dan tampaknya mencari-cari siapa gerangan orang yang dipanggil oleh suster tersebut. Tentu saja saya berada dalam posisi yang sangat dilematis. Apakah akan saya masuk ruangan di saat tatapan semua orang menanti siapakah orang yang sial tersebut, atau pura-pura tidak mendengar. Akhirnya, setelah menimbang saya ditunggu seseorang di kampus, saya memutuskan untuk berdiri dan menghampiri sang suster. Si suster pun tertawa dan berkata, “abis tadi malem nonton Ivan Gunawan, sih..”.

Setelah diperiksa oleh sang suster, saya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu kembali. Pas keluar dari ruangan, masih saja ada orang yang tertawa dan ketika melihat saya dia berkata “Ivan Gunawan”. Dan ternyata, ketika saya masuk ke ruang dokter, si dokternya langsung tersenyum dan bertanya, “Yang tadi dipanggil Ivan Gunawan,ya?”. Wah, dokternya ngedenger juga. Ck..ck..ck… :(

Mungkin hal diatas sebagai bukti bahwa rating acara “Super XXX” sangatlah tinggi. Saya hanyalah salah satu korban dari terkenalnya Ivan Gunawan. Tampaknya banyak Ivan-Ivan lainnya yang menjadi korban. Ga enak banget punya nama yang sama dengan orang yang “unik” :( .

Kuliah Bersama K’ Narendra Thursday, May 1 2008 

Rabu,30 April 2008, kuliah STIMIK (Strategi Algoritmik) tidak seperti biasanya. Saat itu datang bintang tamu, Narendra Wicaksono, kahim HMIF tahun 2005-2006. Dia udah terkenal banget di HMIF. Dia tuh kahim yang berhasil juara Imagine Cup Indonesia, juara I lomba LCEN, dll. Pokoknya dia berprestasi bgt.

Malam sebelumnya, saya sempat googling tentang dia di internet. Lalu saya masuk ke salah satu web blognya. Wah, gila banget orangnya. Meskipun malamnya begadang dan dini harinya harus nonton MU vs Barcelona, saya udah niatin kalau besok harus datang pagi dan nggak duduk di belakang. I don’t want to miss that.

Dan akhirnya sesi itu pun dimulai. Kak Naren bercerita tentang dirinya, gimana dia pertama kali masuk ke ITB, ikut kaderisasi, jadi kadiv keprofesian, jadi Microsoft Student Ambasador, jadi kahim, menang juara di berbagai lomba, dan begitu lulus ia ditawari kerja di microsoft sehingga sekarang ia menjadi IT Pro Advisor di Microsoft. Satu hal yang saya kagum dari dia adalah dia berhasil menyeimbangkan antara kemampuan bergaul, keprofesian, dan keakademisannya. Menjadi kahim dan memenangkan berbagai lomba bukan hal yang mudah.

Satu hal lagi yang saya kagum kepada beliau, adalah ketika dia berkata bahwa dia bekerja karena passion bukan karena uang. Hal itu terbukti ketika dia rela seminggu tinggal di barak dan beberapa hari tidak tidur dengan tidak dibayar hanya untuk membantu tentara  Indonesia agar mereka tidak ketinggalan dalam bidang IT. Ia bercerita bahwa tentara Indonesia masih menggunakan provider email dan chatting gratis untuk melakukan komunikasinya. Padahal, informasi yang dikirimkan adalah informasi rahasia yang seharusnya tidak menggunakan provider umum.

Saya berulang kali bilang ke kedua teman yang duduk di samping saya, Tommy dan Budi, “Orang ini serem bgt! Kok ada orang kayak dia,ya?”. Dan tampaknya hampir seluruh orang yang ada di kelas itu berpendapat demikian.

Yang saya sadari dari kuliah itu adalah mungkin saya tidak bisa seperti dia. Dan tidak mungkin sama seperti dia. Jadi saya tidak setuju ketika Pak Rinaldi , dosen Strategi Algoritmik, berkata “Semoga dari kelas ini muncul Naren-naren selanjutnya.”. Saya sih berpikir bahwa seseorang itu berbeda dengan orang lainnya dan memiliki jalan yang berbeda. Mungkin seharusnya Pak Rin bilang, “Semoga orang-orang di sini tidak kalah dari Naren, dan melakukan sesuatu sesuai kelebihannya masing-masing.”. :)